Ayo main

Sabar semua kebagian karcis.

Hidangan Pembuka

Asyiiiiiikkkkkkkkk

Nah gitu dong

Terimakasih terimakasih terimakasih

Gedung kesenian ya begini

Setiap aktris aktor atau bintang yang pernah tampil bangga

Apalagi

Mendapat tepuk tangan panjang dan penghargaan yang tak terlupakan

Wednesday, January 14, 2009

Rompi Anti Peluru

Oleh Dibyo Primus


Pemandangan di teras rumah Samin Tampak tak begitu sedap, sebab teras yang biasanya asri itu tiba-tiba berubah jadi mblangkrah bin amburadul gara-gara adanya alih fungsi teras; yakni dipakai tempat menaruh jemuran. Ini terpaksa dilakukan karena beberapa hari ini hujan turun tak menentu. Beberapa saat panas, tapi tiba-tiba hujan deras. “Daripada capek mindah-mindah ya mendingan bikin jemuran di teras,” pikir Samin.

Letak rumah Samin yang strategis membuat apa yang ada di beranda rumah jadi perhatian mata siapa saja yang melewatinya.

“Rompinya dijual berapa, Mas?” tanya Ndondot.

Samin terperanjat mendengar pertanyaan Ndondot yang dikenal sebagai pemuda yang gagah berani meskipun berpostur kurus jangkung. Samin tak langsung menjawab, sebab mau langsung menyebutkan harga tapi rompi-rompi itu bukan miliknya. Mau ngaku terus terang kayaknya sayang, karena kesempatan mencari untung kalau bisa menjual dengan harga mahal.

“Tiga juta rupiah!” jawab Samin mantab.

“Ah…masa mahal banget. Bisa kurang?” tanya Ndondot sembari memegang rompi yang digantung itu satu per satu. Secara fisik hampir sama hanya ukurannya yang jadi pembeda.

Ana rega ana rupa. Rompi ini mahal karena faktor sejarah,” sergah Samin

Ndondot tak langsung menawar, ia sempat ragu dengan omongan Samin karena mengait-kaitkan dengan sejarah. Apa sih latar belakang pendidikan Samin hingga berani-beraninya ngaku paham sejarah lha wong para pengelola situs sejarah dan benda purbakala saja banyak yang nggak ngerti arti sejarah. Dengan dalih bikin pusat informasi namun malah mendistorsi lokasi.

“Apa sih istimewanya?” tanya Ndondot.

“Rompi-rompi ini sudah sering dipakai berperang dan terbukti para pemakainya selalu selamat!” terang Samin meyakinkan.

“Serius???”

“Saya bersumpah. Harap Anda ketahui yang namanya Samin itu tak pernah bohong”.

Tampaknya Ndondot mulai kepincut. Salah satu rompi ditariknya lalu ditempelkan di depan dadanya; gayanya mirip orang-orang yang lagi ngepas baju di distro. Bedanya kalau di mal atau distro ruang fitting selalu dilengkapi kaca seukuran badan, sementara di teras Samin kalau mau ngaca ya lihat bayangan di kaca jendela.

“Nggak ada cermin yang lebih jelas?” tanya Ndondot.

“Maaf. Rompi-rompi ini untuk perang, jadi setting yang saya bangun adalah situasi darurat. Dalam perang masalah fesion itu nomor dua. Yang penting fungsi safety terpenuhi!” gaya Samin menirukan para sales yang digabur begitu saja oleh para upline-nya.

“Tapi serius ya ini sering dipakai perang?”Ndondot minta ketegasan.

“Masa saya harus mengulang jawaban yang sudah saya katakana tadi?” jawab Samin berlagak tak jadi dibeli pun tak masalah.

“Berhubung konteksnya perang. Maka jangan terlalu mengejar keuntungan pribadi. Kamu harus mendukung relawan seperti saya. Ini ada uang dua juta aku ambil satu rompi ya?”

Samin menghitung lembar-lembar uang dari Ndondot dengan cermat, karena nilainya beragam, dari seribuan sampai seratus ribuan. Mungkin uang itu dikumpulkan dari beberapa donatur atau bisa jadi habis mecah celengan. Beberapa kali lidahnya dijulurkan untuk mensuplai perekat yang digamit dengan jari tangannya.

“Baik uang saya terima dan silakan ambil rompi yang Anda pilih”kata Samin lega.

“Terimakasih semoga dengan rompi ini saya bisa selamat di jalur Gaza dan bisa memulihkan perdamaian di bumi Palestina,” kata Ndondot mengharukan.

Mendengar kalimat Ndondot yang sangat humanis dan disertai niat luhur untuk melerai pertikaian Israel vs Palestina tiba-tiba beberapa butir air keluar dari mata Samin. Dia teringat betapa banyak rakyat sipil yang jadi korban. Orang tua kehilangan anak, orang tua kehilangan tempat tinggal, anak-anak kehilangan tempat bermain, anak-anak kehilangan harapan dan masa depan.

“Mas ., ini uangnya saya kembalikan!” suara Samin mengagetkan Ndondot yang hendak pamitan.

Lhokan sudah deal? Apa uangnya kurang?”

“Bukan begitu, Mas. Saya takut terjadi apa-apa di jalur Gaza.”

Lho…katanya rompi ini sudah biasa dipakai perang. Ini anti peluru kan?”

“Benar rompi ini sering dipakai perang, tapi masalah dia anti peluru atau tidak saya belum bisa membuktikan.”

Lho…kalau rompi perang pasti anti peluru!’

“Masalahnya yang biasa pakai rompi ini hanya punakawan. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Di dunia wayang kan belum dikenal peluru?”

Ndondot menarik kembali uangnya. Dalam hati sebenarnya dia mau marah, tapi sudah telanjur mengaku sebagai relawan. Bukankah salah satu sifat relawan itu nggak gampang marah? Sebaliknya dia bersyukur karena nggak bisa membayangkan apa jadinya memakai rompi wayang di medan perang.

Dibyo Primus adalah pelawak yang juga aktif di beberapa kesenian lain, tinggal di Yogyakarta

Tuesday, December 30, 2008

Gubug Global, Karya Jitet Koestana


Bisnis Home Stay


Oleh Dibyo Primus

Tahun baru tinggal beberapa saat lagi. Kemeriahan untuk menyambutnya sudah beberapa hari terasa, dari banyaknya penjual terompet sampai penuhnya kamar hotel. Kreativitas muncul di sana-sini, mulai dari rayuan diskon yang digelar pusat perbelanjaan hingga over kreatifnya perajin terompet yang mendisain terompet dengan bentuk, ikan, gitar sampai Sponge Bob.
Memang banyak cara orang menyambut tahun baru, ada yang memilih ke pantai, ke gunung, ada juga yang memilih berada di tengah keramaian kota. Semua satu tujuan yakni melewati detik-detik pergantian tahun dengan suka cita, tak peduli dengan energi apa yang akan dibawa matahari pagi hari tanggal 1 Januari.
Melihat sulitnya mencari tempat menginap bagi para wisatawan mendorong Pak Adjie untuk menyulap salah satu rumahnya jadi home stay alias losmen dadakan. Naluri bisnis Pak Adjie memang tajam, di mana ada peluang di situ ada uang, begitulah motto hidupnya.
Samin dimintai bantuan untuk membersihkan rumah termasuk memangkas rumput agar tampak rapi. Tanaman hias ditata ala hotel bintang lima, beberapa bunga artifisial diletakkan di sudut-sudut yang peka dipandang mata. Pengalaman sebagai gardener dan pernah ikut rewang desain interior memudahkan Samin melakukan semua itu. Meskipun ahli taman, tapi di rumahnya sendiri tamannya berantakan. Ini memang lazim terjadi, rumah tukang bangunan belum tentu megah, rumah pelukis belum tentu berhias lukisan, montir mobil belum tentu punya mobil, dokter belum tentu rumahnya bersih atau satpam belum tentu rumahnya aman. Yang jelas berkat kerja keras selama 2 hari rumah Pak Adjie berubah jadi home stay yang nyaman dan asri. Dan, biar kelihatan njawani diberi nama “Nggaluh”, meskipun lidah Inggris sulit melafalkannya tapi nama-nama klasik di mata orang barat dianggap menarik.
“Nah mulai besok kamu bisa cari tamu,” kata Pak Adjie penuh optimistis.
“Siap, Pak Adjie. Tapi, untuk upah tenaga bersih-bersih dibayar sekarang ya?” Samin menuntut haknya. Itu dilakukan karena Pak Adjie sendiri yang ngajari kalau kerja itu harus professional, jadi begitu kerja selesai ya konsekuensinya harus segera dibayar. Bahkan agama mengajarkan untuk membayar buruh sebelum kering keringatnya. Kenyataan yang sering kita temui adalah para juragan memerintah dengan dalih profesionalisme sementara ketika tiba saatnya harus membayar tiba-tiba hilang jiwa profesionalisme itu. Gajian kok di-delay.
“Nih....saya bayar satu hari dulu. Jangan lupa ada bonus uang kalau kamu berhasil menggaet wisatawan asing ke home stay ini,” seru Pak Adjie.
“Wah…sekarang ini sulit membedakan wisatawan asing dengan domestik, soalnya kalau dulu dilihat dari warna rambutnya aja sudah dapat dibedakan; lha sekarang orang ngamen aja rambutnya banyak yang di cat pirang,” sanggah Samin.
“Lihat warna kulitnya!” jawab Pak Adjie.
“Kulit juga begitu Pak Adjie. Banyak orang kita yang kulitnya putih-putih.”
“Ya… kalau ciri yang lain adalah ukuran tubuhnya lebih besar dari kamu.”
“Tapi, kalau wisatawannya masih anak-anak gimana?”
“Kamu tes dengan bahasa Jawa pasti nggak bias.”
“Payah, Pak. Nggak harus orang asing, orang Jawa aja kalau dites bahasa Jawa banyak yang gedhek. Sekarang kan banyak wong jawa ilang jawane.”
Pak Adjie mulai kuwalahan menjelaskan Samin yang selalu ngeyel, tapi, sebisa mungkin perasaan itu ia pendam. Takut kalau Samin ngambeg dan nggak mau mencari tamu.
“Pokoknya kalau orang mengatakan dia bule.berarti itu yang harus kamu rayu agar bisa menghuni kamar-kamar ini,” kata Pak Adjie.sambil menyerahkan kunci home stay ke Samin.
Samin berpikir keras agar bisa mendapatkan uang bonus sebagaimana dijanjikan Pak Adjie. Ditinjau dari lokasinya memang susah untuk mengajak tamu menginap di rumah itu.
“Yessss…aku dapat ide. Target tercapai bonus tergapai!” kata Samin dalam hati.
Kesokan harinya Samin sudah berada di depan home stay dengan wajah berseri. Selang beberapa lama Pak Adjie lewat.
“Lho…kok belum cari tamu. Pengen dapat bonus nggak?” ujar Pak Adjie.
“He…he bukan Samin namanya kalau nggak bisa menunaikan tugas,” jawab Samin membanggakan diri.
“Jadi, kamar-kamar sudah terisi. Wah nggak rugi kerjasama dengan kamu, Min.”
“Berhubung tugas sudah selesai, maka saya minta bayaran tenaga yang terutang sekaligus bonus menggaet bule!”
Saking bangganya Pak Adjie langsung memberikan beberapa ratus ribu. Samin menerima uang itu dan mengkibas-kibaskan kearah hidungnya.
“Lumayan buat tahun barunan”ungkapnya puas.
Tiba-tiba dari arah home stay terdengar bunyi, “Mowww…moowww…”
Pak Adjie terperanjat, “Suara apa itu, Min?”
Samin yang sebenarnya sudah pamitan terpaksa menghentikan langkah.
“Kata Pak Dukuh sih itu bule. Saya percaya aja soalnya mereka juga nggak bisa bahasa Jawa,” jawab Samin.
“Dasar gemblung. Bule yang saya maksud itu bukan itu..!!!!”
“Lho..ciri-cirinya kan sudah seperti yang sampeyan terangkan, ta?”
Pak Adjie memukul-mukul kepalanya sendiri, jengkel karena bukan tamu yang dimasukkan ke kamar melainkan kerbau bule yang ternyata milik Pak Dukuh.
“Sudah ya Pak Adjie saya mau ke Pak RT karena tamu 1x24 jam harus lapor,” kata Samin pamitan.sembari membunyikan terompet yang mau dipakai pesta malam tahun baru besok..

Dibyo Primus, adalah salah seorang pelawak yang juga aktif di berbagai kesenian lain, tinggal di Yogyakarta.

Sunday, December 14, 2008

Sangat Kontras, Karya Jitet Koestana


Evaluasi Akhir Lima Tahunan, Lawak dan Sinetron Komedi di Program TV

Oleh Darminto M. Sudarmo

Di era televisi memegang peran penting dalam mengakomodasi kebutuhan hiburan masyarakat, maka dunia perlawakan tak dapat dipisahkan darinya. Bahkan, ketergantungan lawak pada dunia industri budaya (kreatif) semakin bergayut-gayut saja.
Kita lihat misalnya, beberapa kali paket API (Audisi Pelawa k TPI), hasilnya adalah untuk menunjang kebutuhan program televisi. Ketika jumlah pemenang tiap tahunnya terus bertambah, dan kecenderungan mutunya makin menurun, dampaknya justru merepotkan TPI sendiri selaku institusi yang notabene “memproduksi” pelawak baru secara periodik.
Tetapi, apapun yang kemudian terjadi, program-program berbasis komedi tetap dibutuhkan oleh masyarakat penonton; pilihannya kemudian ketika tawaran dari pelawak tak dapat diharapkan terlalu banyak, beberapa stasiun TV akhirnya beralih kepada pengandalan konsep (naskah) dan pemain/bintang (tidak selalu harus pelawak). Kenyataannya dengan naskah (humor/komedi) yang baik, Trans TV berhasil mengantarkan “Bajaj Bajuri” menjadi salah satu paket komedi yang sangat fenomenal; baik dari segi mutu penyajian maupun respon masyarakat penonton.
TPI sendiri yang pada mulanya menjadi produsen pelawak populer (Lenong Bocah, Patrio, Cagur, Teamlo, dan beberapa saja grup pemenang API) akhirnya tak dapat mengakomodasi ekspresi mereka dalam produk program-program berbasis lawak atau komedi di stasiunnya sendiri; akibatnya terjadilah sesuatu yang tak dapat dielakkan, yaitu “hengkang”-nya sejumlah personal atau grup binaan TPI ke stasiun lain yang tertarik memberi ruang ekspresi kepada mereka. Hengkang di sini dalam arti, tidak semata bermain dan berekspresi di TPI saja, tetapi juga merambah di beberapa stasiun TV lain.
Bukan Pelawak tapi Lucu
Meskipun demikian, beberapa program komedi yang belakangan terlihat naik daun (terutama setelah eranya “Extravaganza”) justru muncul dari personal atau tim yang bukan pelawak. Sebutlah misalnya “Suami-suami Takut Istri” sekelompok pendatang baru dalam dunia komedi, namun sepak terjang mereka tampak seperti tim yang sudah sangat berpengalaman dan mengesankan.
Timbul pertanyaan kepada para pelawak kita, apa yang terjadi dengan mereka semua? Masyarakat pada akhirnya tidak pernah peduli, apakah program yang lucu di TV itu berbentuk lawak atau sinetron komedi; yang penting mereka mendapatkan hiburan yang memadai.
Melihat beberapa upaya pelawak yang menghadirkan program lawak dengan setting out door, lalu memvisualisasikan joke-joke pendek yang dipanjang-panjangin, dan meniru-niru program “Just for Laugh” yang hanya didukung oleh properti dan gagasan seadanya, terasa ada sesuatu yang hampa di sana. Mengapa mereka tak melihat tuntutan penonton sudah semakin tambah dan maju. Apakah hanya sampai di situ kekuatan yang ada pada para pelawak kita?
Gagasan Baru dan Beda
Untunglah, sesekali ada juga pihak yang mau berpikir dan menawarkan gagasan beda dan baru, itu ditandai dengan lahirnya program TV berbasis humor yang diberi nama “Republik BBM”. Untuk sekian saat negeri kita diguncang tawa dan sajian yang agak bermutu. Kalau karena sesuatu hal lalu berganti menjadi “Republik Mimpi” dan lain-lainnya, tidak menjadi masalah; tetapi, para pemikir kreatif dalam industri “kreatif” ini, termasuk dari pihak broadcast sendiri rasanya akan tetap bijak bila memperhitungkan “masa laku” atau batas trend sebuah program. Dalam konteks ini, bukan semata wadahnya, tetapi yang paling penting adalah isi yang ditawarkan kepada masyarakat penonton. Perlu terus ada eksplorasi dan penjelajahan yang tak kenal henti agar jangan sampai penonton tiba pada titik yang sangat mengkhawatirkan kita semua: bosan. Di Jepang ada sebuah program di bawah tajuk “Kato Ken Show” (pemain intinya lima orang) yang bertahan lebih dari 32 tahun; tetapi karena para pemainnya merasa sudah semakin uzur, bukan program itu yang digusur oleh broadcast atau masyarakat penonton; tetapi justru para pemainnya sendiri yang meminta izin ke pemirsa agar diberi kesempatan untuk istirahat dan menikmati sisa hari tua.
Peran Broadcast
Selera masyarakat mungkin menentukan sebuah program komedi menjadi berhasil atau tidak menurut parameter lembaga rating yang sendirian dan tak ada pembandingnya itu, tetapi program yang baik dan dibutuhkan masyarakat tetap membutuhkan kesabaran dan kepercayaan diri dari pihak broadcast agar tak terlalu cepat goyah oleh klaim-klaim dari pihak marketing. Contoh yang sudah di depan mata dapat dilihat pada program “Empat Mata” (sekarang: “Bukan Empat Mata”) dan terutama, meskipun tidak berlabel komedi atau humor: “Kick Andy”. Mengapa kedua program itu membutuhkan kesabaran dan kepercayaan diri yang tinggi dari pengelola? Karena dalam situasi yang sangat rentan dan tegang, didukung oleh arogansi para pengambil keputusan di tingkat “dewa”, sedikit saja salah menentukan sikap, maka sejarah yang terjadi di dunia pertelevisian akan sangat berbeda: dua “mutiara” itu tak akan pernah “berkilau” dan dapat mengunjungi penonton TV di seluruh Nusantara.

Darminto M. Sudarmo, Penulis dan Pengamat Humor, Tinggal di Semarang.

Monday, December 1, 2008

Kontroversi Ruang Katarsis


Catatan:
Beberapa hari setelah terdengar berita “Empat Mata” di Trans 7 kena sanksi KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dengan akibat tidak dapat hadir di Trans 7 sebagaimana lazimnya, maka tulisan ini dikirimkan ke Harian Kompas dan ternyata tidak dapat dimuat; sampai akhirnya muncul alternatif “Bukan Empat Mata” sebagai pengganti “Empat Mata” dan tampaknya pelawak Tukul Arwana masih tetap dipakai sebagai host di acara pengganti tersebut. Mohon maaf bila artikel berikut terkesan flash-back.

Oleh Darminto M. Sudarmo


BILA dilihat dari sudut konsep, acara taklshow “Empat Mata” dengan presenter pelawak Tukul Arwana yang selama ini rutin muncul di televisi Trans 7, tergolong brilian. Memang talkshow-talkshow lain seperti Oprah atau Larry King show atau bahkan Kick Andy tak kalah menarik dan memukau, tetapi “Empat Mata” sungguh beda.
Perbedaan paling mendasar terletak pada positioning acara tersebut yang menawarkan kondisi paradoks atau ambigu dalam silang arus persepsi yang sulit ditebak bagaimana ujungnya. Pada satu ketika karena kondisi paradoks itu terus di-drive, maka muncullah berbagai gesekan yang kemudian mendatangkan suasana tak terduga sehingga timbullah reaksi tawa dari pemirsa di studio maupun di rumah. Uniknya lagi, pada ketika yang lain, Tukul selaku presenter, yang dalam performance-nya berupaya tampil elegan, ketika ia disergap atau diledek oleh narasumber, pemain pendukung maupun bintang tamu, bukannya bertahan sekuat tenaga atau mengelak dengan aneka dalih, tetapi ia malah lebih tajam lagi meledek dirinya sendiri. Tentu saja respon Tukul yang mengagetkan ini , langsung membuat penonton tertawa terbahak-bahak.
Muatan Humor
Dalam teori humor, “Empat Mata” memuat, bukan saja teori bisosiatif yang amat kompleks dan terkenal itu, tetapi juga sesekali memanfaatkan situasi yang merujuk pada teori “Unggul-Pecundang”. Seperti kita ketahui, teori bisositif menampilkan kejutan berlapis-lapis, sedangkan unggul-pecundang tergolong lelucon yang memakan korban; maksudnya, orang tertawa karena menyaksikan orang lain lebih sial, lebih bodoh, lebih jelek, atau lebih menderita. Tukul sering menyediakan diri jadi korban. Itu tidak masalah sejauh ia menganggap itu wajar dari sudut profesionalitasnya. Terkait dengan kondisi demikian, pernah ada seorang kawan yang berkomentar setengah berseloroh bahwa “Empat Mata” itu adalah satu-satunya acara TV paling cerdas di dunia karena mampu menjual kebodohan dan kesalahan.
Bagaimanapun masyarakat mengakui, “Empat Mata” adalah acara yang mereka gemari. Ternyata kelebihan konsep “Empat Mata” tidak berhenti seperti disebutkan di atas. Dalam aplikasi kreatifnya dapat dilihat betapa semua elemen yang ada, dari laptop, penonton skondan (tukang respon tawa), properti, kostum, hingga penonton sungguhan berupaya men-support agar kiprah Tukul dapat mencapai fokus maksimal. Sedemikian teliti dan penuh pertimbangan detail Trans 7 men-set up acara “Empat Mata” agar voltage daya tariknya tetap terjaga; tetapi mengapa kontruksi bangunan konsep yang sudah sedemikian solid tiba-tiba menjadi berserakan karena persoalan etik yang lepas kontrol? Benarkah persoalan ini telah menjadi final dan tak ada kesempatan untuk terbukanya dialog lagi?
Debut Fenomenal
Hemat saya, dari segi track record “Empat Mata” sulit dicari tandingannya; khususnya untuk acara sejenis pada tahun-tahun lampau. Ia pernah mencapai debut yang sangat fenomenal dalam paket acara TV yang bernama talkshow. Sebagai pelawak yang menjadi presenter, Tukul Arwana juga mendapatkan efek pengakuan yang sangat signifikan. Dari si pecundang menjadi sang pemenang. Ibarat pasangan “Empat Mata” dan Tukul Arwana sulit dipisahkan. Bangunan citra yang sudah terbangun antara acara tersebut dan sang pelawaknya sudah sangat klop dan kompak. Persoalannya kemudian, bila “Empat Mata” sebagai salah satu ruang katarsis bagi publik yang sedang jenuh dan jengkel oleh keadaan yang tak kunjung membaik harus dilenyapkan dari penonton TV demi tertibnya sebuah aturan main, lalu mengapa tayangan berita yang memuat foto-foto atau gambar-gambar seram (maaf, mayat terpotong-potong, kepala tanpa tubuh dan sebagainya) masih tampak lenggang kangkung muncul di TV kita. Tambahan lagi, paket-paket reka ulang kejahatan yang diungkap demikian lugas dan detail, sepertinya bukan tak membawa efek apa-apa bagi pemirsa; bukankah ia juga dapat menjadi salah satu “inspirasi” kursus kesadisan bagi sebagian masyarakat yang lugu dan sedang labil kondisi psikologisnya.
Dalam kasus “Empat Mata” atau kasus-kasus sejenis yang substansi iktikad etiknya bandel atau bahkan arogan, saya setuju KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) perlu memberikan “hukuman” agar tercapai efek jera, bagaimanapun KPI juga mewakili opini dan hati nurani masyarakat, namun dalam konteks “Empat Mata” seyogianya juga mempertimbangkan seberapa besar perbandingan “pahala” dan “dosa “ yang telah diperbuatnya. Jangan-jangan persoalan acara yang berakibat menjijikkan bagi masyarakat itu hanya kasuistik. Terjadi karena kurangnya wawasan terhadap persoalan-persoalan yang peka dan solusinya pun sebenarnya juga tidak begitu sulit, yaitu merekrut tim ahli dari berbagai latar belakang keilmuan atau keahlian sebagai rujukan.
Tekanan Rating
Dalam konteks tertentu, masyarakat kadang heran juga, mengapa produser acara sepertinya agak panik sehingga dalam memilih tema, bintang tamu atau narasumber seringkali rada dipaksa-paksakan. Kecemasan terhadap menurunnya rating adalah situasi yang umum terjadi di semua stasiun TV. Tetapi bila penurunan rating yang juga mengancam kredibilitas dan kedudukan sang produser, persoalannya menjadi lain. Berbagai upaya dilakukan supaya dapat mendongkrak rating. Frekuensi rapat dengan tim kreatif dilipatgandakan supaya mendapatkan gagasan-gagasan yang selalu segar dan baru. Sementara itu, catatan-catatan dari tim marketing soal produk yang dianggap kurang sesuai dengan kehendak masyarakat, kurang cocok dengan kehendak pemasang iklan, dan lain-lainnya serasa sebuah presure, sebuah beban, yang pada akhirnya dapat mendorong ke situasi pengambilan keputusan (memilih tema, tokoh narasumber atau bintang tamu) yang penuh risiko; tak peduli; yang penting dapat mengguncang pemirsa, menarik perhatian pemirsa dan tercipta wacana produktif yang berefek baik bagi rating maupun partisipasi pemasang iklan.
Bila “Empat Mata” diakui oleh masyarakat sebagai sebuah ruang katarsis untuk publik, ia telah terbukti memberikan manfaat yang cukup besar karena tolok ukur untuk itu memang ada. Dalam logika sederhana berarti acara itu sudah pernah berjasa dan punya manfaat bagi masyarakat; sehingga masyarakat dapat tereliminasi dari berbagai perilaku agresif yang berlebihan.
Dan bila keteledoran yang pernah dilakukan penanggungjawab acara semata karena persoalan teknis, bukan idelogis, tentu sanksi membekukan acara tersebut dapat melukai dan mengurangi hak-hak masyarakat untuk bebas dari rasa penat dan stres karena tekanan hidup.

Darminto M. Sudarmo, penulis dan pengamat humor.

Saturday, November 1, 2008

Komedi Jalan di Tempat


UNTUK bicara komedi TV di negeri ini, sebaiknya kita kesampingkan dulu pemilahan terminologi; komedi, lawak, humor, lelucon, guyon, dan seterusnya. Semua itu bisa menjerumuskan kita ke dalam apologi-apologi rutin, yang akhirnya justru tidak menunjang proses pendewasaan diri.
Dalam setengah dekade ini, setidaknya sejak RCTI memproklamasikan diri sebagai TV swasta — yang kemudian secara beruntun diikuti TPI, SCTV, AN-teve, dan lain-lainnya — publik kita mulai mendapatkan menu “komedi” TV yang secara esensial berbeda dengan menu dari TVRI dan TVRI 2. Kecenderungan ini makin merebak, terutama sejak paket-paket komedi impor banyak diluncurkan, dan sering menjadi pemicu inspirasi industri “komedi” dari sejumlah rumah produksi domestik.
Dari fenomena yang ada, bisa disimpulkan sebuah kecenderungan “latah” yang menjadi warna dominan dari sebagian besar paket komedi TV kita, yakni: masih jalan di tempat, monoton, dan manja. Dalam konteks ini, posisi komedi TV tidak berdiri sendiri. Sangat mungkin keberadaannya terkait dengan sejumlah masalah yang kompleks: institusi periklanan, stasiun TV, rumah produksi, tenaga kreatif, komedian/aktor/aktris, teknis, rambu-rambu etis-politis-etnis-relegiusitas, dan lain-lain yang kita semua sudah pasti bisa menduganya.
Namun, semua itu bukan satu-satunya alasan, bahwa komedi TV boleh mengalami stagnasi. Kita ambil contoh sederhana: membanjirnya lelucon bergaya verbal (baca: ceriwis dan nyinyir) yang hampir menyita sebagian besar waktu penikmat, sepertinya semakin keterusan dan jadi satu-satunya pilihan. Kecenderungan ini seakan mem-fait a compli, bahwa pemirsa kurang memiliki rasa nalar, rasa imaji, rasa optis dan rasa estetis yang bisa dipertanggungjawabkan, yang harus dituntun dan didikte.
Hemat saya, kecenderungan ini sangat “kocak” lagi ketika bentuk dan isi komedi TV secara umum juga ikut-ikutan tak berkembang. Lihat saja pilihan setting yang—hampir wajib—indoor; properti, kostum, trick, tantangan akting, sudut bidik, yang cenderung menghindari kerumitan dan kesungguhan mutu.
Alhasil, lepas dari sejumlah masalah rutin di atas, ada persoalan asasi yang perlu terus diwaspadai, yakni soal daya lelucon. Institusi kreatif, perancang program, kreator gag, komedian/aktor/aktris, sutradara dan seluruh timnya, adalah pos-pos penting yang menjadi mata rantai dan titik akhir produksi komedi TV. Filosofi SDM mereka bagaimana? Ada tidaknya eksplorasi atau inovasi, juga tertangkap dari garis-garis haluan humor yang mereka rumuskan. Rowan Atkinson, pemeran Mr. Bean, dalam serial videonya “Rowan Atkinson in Funny Business” menyadarkan kita bahwa peluang mengolah dan mengembangkan paket komedi di TV terbuka sedemikian lebarnya. Inilah fatwa “Profesor” Atkinson berdasarkan tulisan David Hinton.
Suasana komedis, terutama untuk TV, dapat mengacu kepada beberapa jurus, yaitu: pertama, membangun lelucon dengan cara mempermainkan logika visual (visual comedy); kedua, lelucon via jurus slapstik dan “kekejaman” (slapstick and violence); ketiga, memanfaatkan logika ajaib dan surealis; keempat, pantomim dan plesetan bahasa tubuh (mime body language).
Logikanya, keberhasilan melawak, bukan hanya karena ide jokes/anekdot yang lucu; ia dinilai berhasil, di antaranya dari cara pemain membawakan peran secara konsisten dan berkesinambungan (the character of physical), misalnya corak: kekanak-kanakan, sok agung, berwibawa dan tak tersentuh, licik, suka mencelakakan, dan sebagainya.
Aneh kan, pilihan dan jurus demikian banyak, tapi kita cuma ambil sebiji dua biji doang: humor ceriwis dan... yang tadi itu. Sayang, kan?

Darminto M. Sudarmo, penulis dan pengamat humor.

Pelawak Indonesia Popular

Pelawak Indonesia Popular