Mengapa Perlu Mengenal Kecerdasan Humor?
-
*Kecerdasan Humor* juga dikenal sebagai *HQ* (*Humor Quotient*) seperti
halnya Anda mengenal *IQ *(*Intelligence Quotient*), *EQ *(*Emotional
Quotient*) d...
Kokkang Pameran di Kuburan
-
Brosur Katalog Pameran Kokkang
Setidaknya, pada akhir tahun 2012 ini, *Kokkang* (Kelompok Kartunis
Kaliwungu) telah berumur 31 tahun. Umur yang cukup bag...
Majalah HumOr Disambut Hangat Pembacanya
-
HumOr edisi 1-5 *Sungguh*. Ini evaluasi setelah melihat bagaimana respon
publik peminat humor selama tak kurang dari setengah tahun terus-menerus
menyim...
Revolusi Kecerdasan Humor Anda
-
*Buku Baru - Pertama di Indonesia yang Mengupas HQ Secara Lengkap dan
Komprehensif!*
*DATA eBook*
Judul : *HQ - Humor Quotient ...
Humor Kontekstual – Universal, Sebuah Gurauan
-
Darminto M Sudarmo
HUMOR, dalam beberapa kasus, tak beda dengan karya sastra. Ia juga
dikisruhkan oleh tema dan topik. Ada tema atau topik yang demikian...
HQ - Humor Quotient - Kecerdasan Humor telah tersedia dalam cetak manual.
Lihatlah pemandangan di sekitar Anda. Di mana-mana, setiap terlihat banyak manusia berkumpul, selalu ada lingkaran orang dengan seseorang yang menjadi pusat perhatian mereka. Orang-orang yang menjadi pusat perhatian banyak orang ini lazim disebut sebagai “Sang Bintang”. Bintang pergaulan.
Orang ini biasanya berwajah segar, energik dan dengan sepenuh hati menceriterakan sesuatu sehingga membuat orang-orang di lingkarannya dengan takzim menyimak dan mengikutinya. Dalam situasi seperti itu, cerita paling menarik bagi orang-orang yang ada di lingkaran itu adalah cerita lucu. Cerita yang menuju pada suasana penuh gelak tawa.
Topiknya bisa apa saja. Dari gossip hingga politik. Dari
seni hingga otomotif. Tujuan dari reriungan
itu tetap saja satu: penyegaran suasana. Stimulus yang paling efektif untuk
menciptakan suasana yang segar adalah cerita humor. Cerita yang dapat
menghadirkan suasana penuh gelak tawa dan kegembiraan. Itulah aksi para bintang
pergaulan yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Aksi yang
membuat kita semua pulang dari acara dengan perasaan nyaman dan penuh kesan.
Pembicara publik humoris juga demikian. Hanya saja mereka
lebih banyak berkiprah di suasana seminar atau presentasi. Berbeda dari para
pembicara publik umumnya, yang serius, tegang dan kadang membosankan, para
pembicara humoris sangat menyadari bahwa kehadirannya di suatu seminar atau
presentasi selain menyampaikan pesan penting juga harus menghibur audiens-nya. Bahkan,
bila yang tampil pembicara humoris professional, audiens tidak menyadari,
mereka pikir hanya menikmati suasana segar penuh gelak tawa, ternyata diam-diam
mereka juga merasakan ada informasi atau pesan yang masuk ke dalam pengertian
mereka. Sambil bersenang-senang pengetahuannya bertambah.
Mengapa hiburan menjadi penting dalam sesi tersebut? Ya,
bahkan sanggat penting. Seringkali orang mau mendatangkan seorang pembicara
dengan bayaran mahal karena alasan hiburannya itu. Seperti kata Steve Allen, “Orang berani membayar
mahal untuk hiburan tapi tidak untuk pendidikan.” (HQ-Humor Quotient – Kecerdasan Humor, hal 117). Fakta ini mungkin agak menyengat rasa budaya kita, namun begitulah dunia entertainment.
Pertanyaannya adalah, benarkah hanya pembicara publik
humoris professional yang berhak untuk tampil menarik, disenangi dan
mendapatkan bayaran mahal? Tentu saja tidak. Setiap orang, termasuk Anda berhak
untuk menjadi pembicara publik humoris yang berhasil. Tetapi kalau tidak lucu
bagimana? Mari kita lihat nasihat Melvin
Helitzer, “Ayo saudara-saudara, janganlah ragu, you can do it, even if you are not funny!”,Anda juga dapat melucu
meskipun Anda bukan orang yang lucu. Itu artinya, dengan berbekal bahan lelucon
yang siap saji, siapapun yang membawakannya hasilnya tetap saja lucu. Tentu
saja untuk kasus ini perlu menyimak penjelasan teknis dan cara melaksanakannya
dengan benar.
Profesi apa saja yang relevan dengan formula ini? Banyak,
banyak sekali. Baik Anda: masyarakat umum, karyawan, petugas promosi, manajer,
pemasar produk, HRD, birokrat, pelobi, creative
director, direktur, diplomat maupun seorang juru kampanye! Apalagi Anda
seorang akademisi, peneliti, profesional, pelatih diklat, presenter, copywriter, wartawan, penulis, musisi,
seniman, kartunis, pelawak, comic, creative people, EO seni. motivator,
pembicara publik, penyuluh lapangan, pendakwah, dosen maupun guru!
Pendek kata, setiap profesi yang berhubungan dengan orang
lain, sesungguhnya memerlukan humor sebagai alat persuasi untuk memperlancar
komunikasi sehingga mencapai keberhasilan sesuai yang diharapkan. Hakikatnya,
humor (dikirim secara tepat waktu dan sasaran) akan menciptakan keakraban dan
kegembiraan.Keakraban dan kegembiraan
dapat mengubah hal-hal yang semula mustahil menjadi nyata!
Tentu saja ini tantangan bagi Anda yang berkeinginan serius meniti karier di bidang humor. Pelawak atau komedian berbeda dengan pembicara humoris, namun itu bukan berarti pelawak tak dapat meniti karier di bidang tersebut. Pelawak tunggal (stand up comedian) kenyataannya hampir mirip dengan pembicara publik humoris; yang bentuk komunikasi kepada publiknya hampir tak ada bedanya. Meskipun demikian bagi pelawak konvensional (biasa tergabung dalam grup atau merupakan bagian dari sebuah galatama) perlu menyiapkan sejumlah perangkat untuk dapat berkiprah di lahan pembicara publik humoris karena disiplin dan prosedurnya memang relatif beda (lin).
Telah
hadir buku istimewa dan baru pertama ada di Indonesia. Buku yang lahir
setelah penulis dan tim risetnya melakukan kerja keras selama lebih dari
4 tahun. Dan kini Anda-lah yang mendapatkan kesempatan pertama untuk
mengoleksi dan menyimaknya. Buku ini sengaja belum dikemas dalam cetak
manual sehingga belum dipasarkan secara massal.
DATA eBook
Judul : HQ - Humor Quotient - Kecerdasan Humor Penyusun : Darminto M Sudarmo Editor : Danny Septriadi Penerbit : Kombat Publishers - Semarang - Indonesia, Okt 2012 Format : A4 (Portrait) - 21 x 29,7 cm—226 hal ISBN : 979-3468-22-X Harga : Rp 135.000 (Seratus tiga puluh lima ribu rupiah) Order : Klik di Sini
Judul buku HQ (Humor Quotient) atau Kecerdasan Humor ini bukan untuk
ikut-ikutan latah karena beberapa waktu lalu negeri ini dibanjiri istilah
Quotient yang bertebaran di mana-mana. Ada IQ (Intelligence Quotient), ada EQ
(Emotional Quotient) dan ada pula SQ (Spiritual Quotient). Kalau HQ diperkenalkan
saat ini, bukan karena istilah ini baru ditemukan sehingga perlu cepat-cepat
diperkenalkan supaya segera popular, bukan.
Menurut
catatan literatur, HQ telah ditemukan sejak zaman baheula; terdapat dalam kritik sastra
dan lahir dari keinginan untuk menentukan apakah ada atau tidak hubungan antara kritik
sastra dan humor sehingga dapat bersama-sama menunjukkan sesuatu yang terukur
ke seluruh pengetahuan umat manusia.
Mitos yang
berkembang selama ini mengamanatkan bahwa potensi untuk melucu seseorang itu
adalah takdir semata; oleh karena itu tak boleh diirikan, dipertanyakan apalagi
diganggu-gugat. Padahal fakta ilmiah membuktikan bahwa seseorang dapat tertawa
terbahak-bahak setelah mendengar cerita lucu dari orang lain itu ada alasannya.
Alasan-alasan inilah yang kemudian
diteliti dan pada akhirnya ditemukan aneka formula dan kandungannya, bagaimana
mengolah, meracik, memasak, mengemas dan mengirimkannya; atau mengurai resep, memasak dan
menghidangkannya untuk istilah kuliner, misalnya.
Terbukanya misteri lelucon ini
setidaknya semakin memberi harapan bagi banyak orang mengingat manfaat humor
untuk kebaikan dan kesehatan; baik fisik maupun mental, sangatlah besar. Tentu
ada juga sisi “risiko” dalam humor yang kurang popular, bila ia salah kirim,
salah waktu dan salah tempat dalam menggunakannya. Namun itu semua tetap akan
kita agendakan dalam sesi yang relevan dan disesuaikan dengan konteks
persoalannya.
Siapa yang layak mengonsumi buku HQ? Inilah jawabannya.
Pertama, penting bagi Anda: masyarakat umum, karyawan, petugas promosi, manajer, pemasar produk, HRD, birokrat, pelobi, creative director, direktur, diplomat dsb untuk mengenal HQ dan tipe kepribadian agar Anda termasuk orang yang mudah bergaul, bersikap baik dengan kolega maupun rekan sekantor; Anda juga dapat menemukan solusi lebih kreatif setiap menemui masalah.
Kedua, penting bagi Anda: akademisi, peneliti, profesional, pelatih diklat, presenter, copywriter, wartawan, penulis, musisi, seniman, kartunis, pelawak, comic, creative people, EO seni, dsb untuk mengenal peta seni humor secara umum dan menemukan rahasia teknik membangun lelucon guna memenangkan dan menerobos situasi yang berbeda-beda.
Ketiga, penting bagi Anda: motivator, pembicara publik, juru kampanye, pendakwah, dosen, guru, penyuluh lapangan dsb untuk “menaklukkan” audiens lewat persuasi bertarget namun menghibur.
Secara umum ebook ini akan membantu Anda mengenali dan membangkitkan kecerdasan humor Anda untuk meraih popularitas dan sukses finansial sebagai pembicara profesional.
Ini berita bagus untuk pencinta humor di tanah air. Buku Anatomi Lelucon di Indonesia karya Darminto M Sudarmo kini tersedia dalam bentuk ebook. Banyak hal baru telah ditambahkan di dalamnya. Selain diadakan revisi dan perbaikan dari edisi
buku sebelumnya, juga dilakukan penambahan materi baru,bahan-bahan penting terkait dengan Bing Slamet, Mang
Udel, Mang Cepot, Srimulat dan selintas pandang tentang sejarah perlawakan
Indonesia. Banyak yang mempertanyakan, siapa peletakdasar seni lawak modern?
Siapa yang memulai tradisi menulis konsep (outline story – skenario) yang
khusus diperuntukkan bagi sebuah pentas lawak di Indonesia?Lalu bagaimana perkembangan Stand Up
Comedydi Indonesia?
Anatomi Lelucon di Indonesia
Buku Anatomi Lelucon di Indonesia terbitan Penerbit Buku Kompas di
atas tak mungkin Anda dapatkan di toko buku atau outlet pameran buku
lagi karena persediaan telah habis. Kini untuk memenuhi permintaan
berbagai kalangan baik dari kalangan masyarakat umum maupun para
akademisi, kami Penerbit Kombat Publishers menyediakan untuk Anda
dalam bentuk ebook plus+plus! Artinya, selain telah diadakan revisi dan
pemutakhiran data juga telah ditambahkan aneka materi atau bahan paling
mutakhir (2012) kaitannya dengan isyu perhumoran nasional.
Buku
telaah tentang humor yang amat langka ini sangat cocok bagi Anda untuk
bahan referensi, penelitian atau sekadar wawasan. Anatomi Lelucon di
Indonesia benar-benar berbicara tentang seni humor yang ada di Indonesia
dengan caranya yang khas dan jenaka. Berikut Anatomi Lelucon di
Indonesia versi ebook plus+plus yang baru dan tersedia untuk Anda.
DATA eBook Judul : Anatomi Lelucon di Indonesia Penyusun : Darminto M Sudarmo Penerbit : Kombat Publishers - Semarang - Indonesia, Okt 2012 Format : A4 (Portrait) - 21 x 29,7 cm—190 hal ISBN : 979-3468-28-9 Harga : Rp 45.000 (Empat puluh lima ribu rupiah) Order : Klik di Sini
Berikut adalah wawancara tertulis yang dilakukan Rizki, seorang mahasiswa yang sedang menyusun skripsi dengan tema stand up comedy kepada pengamat humor Darminto M Sudarmo.
Bagaimana tanggapan Anda mengenai humor Stand Up Comedy yang Anda tonton dalam video yang menampilkan comic Boris Bokir di atas? Lumayan, mengalir dan Boris cukup cermat menjaga “emosi” sehingga daya pikatnya dalam performance terus terbangun. Apa yang dimaksud dengan humor? Dalam makna yang sederhana, humor merupakan energi budaya yang kandungan pengertiannya amat rumit. Menurut Arwah Setiawan, pendiri LHI (Lembaga Humor Indonesia) dan peneliti humor, humor diartikan sebagai suatu gejala yang secara mental cenderung mendorong orang untuk tertawa. Definisi humor sangat luas. Selain sebagai kata benda, humor juga dapat berperan sebagai kata kerja. Selain dipahami masyarkat sekarang sebagai sebutan yang berkaitan dengan lelucon, dalam ilmu fisiologi kuno di abad pertengahan, kata humor mengandung makna cairan; salah satu (darah) dari empat cairan di dalam tubuh manusia yang terdiri atas dahak, darah, choler, dan empedu hitam; proporsi yang relatif untuk menentukan disposisi seseorang dan kesehatan secara umum. Ada cukup banyak teori humor dan tawa yang dapat ditemukan di berbagai literatur, dalam literatur akademik kontemporer , tiga teori humor yang paling banyak dibicarakan adalah: teori pembebasan, teori keunggulan, dan teori keganjilan. Masyarakat ilmiah menganggap teori humor secara tradisional dibagi dalam tiga cabang sebagaimana disebutkan di atas. Hingga kini, di antara para peneliti humor sendiri, belum ada konsensus tentang mana dari tiga teori humor tersebut yang paling layak mewakili semua teori yang ada. Para pendukung masing-masing teori awalnya memang mengklaim bahwa teori merekalah yang mampu menjelaskan semua kasus humor. Namun, akhirnya mereka mengakui bahwa meskipun setiap teori umumnya berkutat dan mencakup wilayah sendiri, setidaknya banyak contoh humor yang ternyata dapat dijelaskan oleh lebih dari satu teori. Francis Hutcheson menyatakan dalam “Thoughts on Laughter” (1725) bahwa apa yang menjadi konsep kunci dalam pengembangan teori lelucon: tawa muncul sebagai reaksi atas persepsi yang tidak sesuai.. Arthur Schopenhauer menulis bahwa terjadinya keganjilan karena konsep dan kenyataan terwakili. Hegel nyaris memiliki pandangan yang sama, tetapi ia melihat konsep tersebut sebenarnya sebagai "sesuatu yang tampak" namun karena munculnya tawa kemudian justru meniadakan sesuatu yang tampak itu. Menurut Spenser, tawa adalah "fenomena ekonomis" yang berfungsi untuk melepaskan "energi psikis" yang telah salah dimobilisasi oleh harapan yang tidak benar atau salah. Pandangan terakhir ini tampaknya juga didukung oleh Sigmund Freud. Dalam wacana berikutnya, Teori Keganjilan juga paralel dan seiring sejalan dengan Teori Inkonsistensi, Teori Kontradiksi dan Teori Bisosiasi (Arthur Koestler). (Merujuk dari buku: HQ – Humor Quotient - Kecerdasan Humor, susunan Darminto M Sudarmo dan Danny Septriadi – yang saat ini masih dalam tahap finishing). Bagaimana tanggapan Anda setelah menonton tayangan video Stand Up Comedy di atas yang dibawakan oleh salah satu Comic bernama Boris yang dalam humornya mengangkat mengenai orang Batak? Menurut saya, menarik dan masih dalam atmosfer positif. Artinya, Boris sebagai orang Batak tetap mampu berdiri di sisi yang elegan. Dia tidak melakukan justifikasi, tidak menghakimi – tidak terjebak dalam opini yang berlebihan tentang sukunya sendiri; bahkan ia berhasil melakukan kritik diri dengan sangat anggun dan estetik. Bagaimana menurut Anda cara untuk melucu dalam humor Stand Up Comedy tanpa harus mengangkat materi humor mengenai identitas kesukuannya seperti dalam tayangan video ini yang humornya mengenai orang Batak? Sebentar, tema tentang kesukuan sebagaimana yang ditampilkan Boris, bukan sesuatu yang “tabu” sejauh itu dilakukan oleh warga dari suku yang bersangkutan. Misal kritik diri tentang orang Jawa, Orang Madura, Orang Sunda, dan suku-suku lain, sebenarnya masih dalam batas toleransi selama itu dilakukan oleh warga dari suku bersangkutan dan .... ini entry point yang penting: tidak menghakimi, elegan dan estetik! Artinya secara isi atau content bersifat obyektif, informatif – bukan justifikatif dan insinuatif. Pilihan tema ini memang sangat riskan dan mengandung risiko tinggi bila comic-nya belum memahami betul tentang rasa budaya, rasa seni dan psikologi penontonnya. Cara melucu dalam stand up comedy (SUC) secara umum ya harus memenuhi tiga unsur penting yang sering disebut: MAP (Materi, Audiens dan Penampilan). Bila ketiganya klop dan sebanding, niscaya target dapat dicapai sesuai ekspektasi. Materi bagus, penampilan bagus di-deliver ke penonton yang salah, sama juga bohong. Demikian pula sebaliknya. Menurut Anda mengapa Comic Boris yang merupakan berasal dari Batak mengangkat humor mengenai orang Batak sekedar hanya untuk melucu? Mengapa? Ha ha ha ... saya kira yang dapat menjawab dengan tepat pertanyaan ini ya Boris sendiri. Namun kalau saya diizinkan mendiskusikannya, kurang lebih karena faktor kedewasaan mental dan budaya Boris sendiri maupun warga Batak secara umum cukup memadai. Seperti kita ketahui, di masyarakat sangat banyak “lelcuon” tentang orang Batak yang serba miring dan diidentikkan dengan berbagai praktik kejahatan seperti mencopet, memeras, maling, menggarong dan lain-lain. Semua itu ditangkap Boris sebagai sebuah gagasan yang kemudian diramu dan diendapkan lewat kontemplasi yang “dewasa” dan direpresentasikan ulang lewat performance yang juga pede dan terjaga estetikanya. Saya bukan orang Batak, tetapi “kredo” Boris itu saya yakin tidak melukai warga Batak sendiri. Sebagian besar teman-teman Batak saya memiliki rasa humor yang baik, sanggup menertawakan kekurangan dan kesumbangan diri mereka sendiri. Kekuatan ini seharusnya menjadi inspirasi bagi suku- suku yang lain agar tidak membesar-besarkan ego etnik mereka dengan mengedepankan reaksi gampang marah, gampang tersinggung, gampang berpikir negatif dan rentan rasa percaya dirinya. Dalam zaman yang serba transparan di lintas sektoral bahkan internasional saat ini, kita tiba pada pemahaman bahwa KEWIBAWAAN bukan lagi identik dengan keangkeran-kemisteriusan melainkan justru ada di KERAMAHAN dan KECERIAAN. Menurut Anda bagaimana agar kita mempunyai gagasan dalam humor, khususnya dalam Stand Up Comedy yang dalam jenis komedi ini kebanyakan memang mengangkat fenomena sosial yang ada di masyarakat? Bukan hanya di SUC, di bidang lain seperti menulis artikel, buku, novel, mengartun, mengarang lagu, melukis, dll orang butuh gagasan atau ide. Bagaimana mendapatkan ide? Balik lagi ke Anda, bagaimana Anda dapat menyusun pertanyaan untuk wawancara ini? Itulah menariknya ide. Secara umum ide itu datang apa harus dicari? Dalam etos saya pribadi, ide harus dicari. Kalau toh dia datang sendiri, itu karena kita sudah punya deposit keinginan atau upaya untuk mendapatkannya. Bagaimana supaya kita subur ide? Ya, buka semua indera, kalau perlu indera-indera lain di luar panca indera. Bagaimana cara membuka indera? Fungsikan mata untuk membaca, menonton, melihat; fungsikan otak kiri dan kanan baik untuk menganalisa maupun mengingat dan mengembangkannya. Fungsikan telinga, dan indera-indera lain untuk bekerja maksimal namun tetap enjoy. Dengan itu semua, memori kaya data, kaya analisa, kaya inspirasi, kaya renungan, kaya fleksibelitas. Ibarat prajurit, selain memiliki kemampuan bela diri tangan kosong, Anda juga memiliki senjata lengkap: dari belati, pistol, granat, senapan, meriam bahkan bom. Dengan kekayaan senjata Anda maka akan pasti SIAP TEMPUR di medan yang bagaimanapun .... Sesudah itu, biasakan untuk melatih diri dengan selalu berpikir kreatif ... artinya melihat berbagai masalah (untuk keperluan menyiapkan materi SUC) dari sudut pandang yang BARU, BEDA, dan KRITIS! Naskah2 SUC secara sederhana hampir mirip tulisan Artikel Opini (ilmiah populer-kontekstual) – namun ia lebih pendek dan lucu (karena baru dan beda tadi sehingga terasa aneh, karena aneh menimbulkan kontraksi psikologis – dan berujung tawa). Dalam konteks ini kreativitas, penggalian-pencarian yang terus-menerus menjadi taruhannya. Apakah dalam berhumor bebas mengangkat materi untuk berhumor, seperti dalam tayangan video di atas yang mengangkat humor mengenai budaya? Secara (hak asasi) kreativitas, humor tidak membatasi tema, karena pada dasarnya humor itu juga mencakup kehidupan manusia dengan seluruh perilaku dan peradaban yang ada di dalamnya. Karena tingkat peradaban kelompok manusia berbeda-beda, maka lalu muncul tingkat persepsi dan respon yang berbeda-beda pula; khususnya dalam menyikapi karya humor. Termasuk larangan humor dengan tema SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) di negeri kita. Ini karena potensi risikonya lebih banyak ketimbang hasil tawanya. Jujur harus kita akui, bahwa kita mensakralkan ini, karena itu kita terima saja, ini kan bagian dari local value – nilai lokal; meskipun humor sebenarnya bisa bermain di mana saja, selama pelakunya pandai- pandai menyiasati kontekstualitasnya. Menurut Anda apa yang membedakan humor dalam Stand Up Comedy dengan humor komedi lainnya? Menurut saya SUC itu kombinasi antara teater dan lawak improvisasi. Tradisi teater mensyaratkan kesiapan naskah/skenario, latihan dan pengarahan sutradara. Lawak improvisasi, sebenarnya juga memiliki konsep atau “naskah” hanya tidak tertulis. Sejauh yang saya tahu dalam perform mereka hanya mengandalkan kesepakatan dalam brifing sutradara dibantu tim kreatif, tidak mengenal latihan. Hasilnya? Bagaimana nanti di lapangan. Nah, SUC mengadopsi dua disiplin kesenian itu. Dan tampil secara perseorangan. Karya komedi lainnya seperti yang sudah kita kenal seperti: film komedi, tari, musik, pantomim, tutur humor (joke telling), cerpen, cerber (novel) kartun, karikatur, lukisan humor...jelas berbeda dengan SUC. Bagaimana tanggapan Anda mengenai seni komedi dalam humor Stand Up Comedy di indonesia? Sejauh ini dari aspek kuantitatif (jumlah) cukup menggembirakan dan punya kans yang bagus untuk ke depannya; hanya saja secara kualitatif (mutu) belum berbanding lurus dengan eforia jumlah itu. Andai ada upaya terus-menerus dan intensif untuk peningkatan kompetensi para comic via pemahaman teknis yang benar (sesuai kaidah kesenian dari sumbernya) mungkin jumlah para comic berkelas boleh jadi akan meningkat, namun bila mereka berkembang “liar” dan “bebas” sesuai arus besar tren yang ada di Indonesia lewat transformasi budaya, bukan tak mungkin nantinya muncul genre baru SUC yang beda sama sekali dengan di barat . Beberapa sumber sudah menandai nama dengan istilah Berdikari (Berdiri di atas kaki sendiri) sebagai ganti SUC di Indonesia. Menurut Anda humor Stand Up Comedy yang bapak tonton tersebut, termasuk jenis humor apa? Humor etnik. Di tempat lain juga banyak: Humor Yahudi, Humor China, Humor (suku) Indian, dst dst.