Ayo main

Sabar semua kebagian karcis.

Hidangan Pembuka

Asyiiiiiikkkkkkkkk

Nah gitu dong

Terimakasih terimakasih terimakasih

Gedung kesenian ya begini

Setiap aktris aktor atau bintang yang pernah tampil bangga

Apalagi

Mendapat tepuk tangan panjang dan penghargaan yang tak terlupakan

Monday, October 21, 2013

BUKU HUMOR PENUH INSPIRASI



ANDA PASTI PUAST MEMBACA BUKU INI

Sem Lumbangaol, pria asal Indonesia yang kini bermukim di Kanada tampaknya  tak  dapat tinggal  diam. Entah karena ia  sedang “kesurupan” virus humor atau karena otaknya sedang kedatangan
gagasan  lucu  yang  berdesak-desakan  minta  dikeluarkan;  Sem  tak dapat  untuk  menahan  itu  sehingga    ia  bertekad  menuangkan semuanya  dalam  sebuah  buku  yang  diberi  judul  “Pesona  Humor”.

Ya,  akhirnya  buku  itu  jadilah  dan  kini  sedang  ada  di  tangan  Anda. Di  sampul  depan  tertulis  nama  pengarangnya  Dr.  Sem Lumbangaol,  MBA  (Dari  Sem  Lumbangaol,  Makin  Botak  Aje).  Jelas terlihat, pria ini  memang terhuni virus nakal yang beranak-pinak dan Berbeda  dari  penulis  humor  lain  yang  kebanyakan  hanya berfokus  pada  penulisan  joke  dan  oneliner,  Sem  justru  memulai dari  tema  yang  cukup  simpatik;  berangkat  dari  khasanah  budaya sendiri,  budaya  Indonesia.  Seni  pantun  dan  puisi,  salah  satunya.


Pesona Humor adalah:

Sebuah Buku Humor Yang Unik dan Mengelitik

Ratusan Karikatur Yang Lucu Menghibur Anda

Mengupas Persoalan Cinta dan Rumah Tangga

Tips Humor: Rahasia Hidup Sehat dan Bahagia

Humor Politik: Dari Kasus Daging Sapi Hingga Hambalang

Simak Kisah Kasih Jokowi Ahok:
•    Kisah Cinta Membara
•    Arti Nama Jokowi dan Ahok
•    Jokowi Yang Disayang
•    Jokowi dan Ahok Bermarga Batak?
•    Surat Terbuka Untuk Jokowi
•    Pidato Politik Jokowi
•    Chemistry Jokowi dan Ahok
•    Wawancara Khusus

Info selengkapnya klik Pesona Humor.

Sunday, June 9, 2013

Informasi tentang Buku Kecerdasan Humor









Monday, May 6, 2013

Menjadi Pembicara Publik Humoris


HQ - Humor Quotient - Kecerdasan Humor


Lihatlah pemandangan di sekitar Anda. Di mana-mana, setiap terlihat banyak manusia berkumpul, selalu ada lingkaran orang dengan seseorang yang menjadi pusat perhatian mereka. Orang-orang yang menjadi pusat perhatian banyak orang ini lazim disebut sebagai “Sang Bintang”. Bintang pergaulan.

Orang ini biasanya berwajah segar, energik dan dengan sepenuh hati menceriterakan sesuatu sehingga membuat orang-orang di lingkarannya dengan takzim menyimak dan mengikutinya. Dalam situasi seperti itu, cerita paling menarik bagi orang-orang yang ada di lingkaran itu adalah cerita lucu. Cerita yang menuju pada suasana penuh gelak tawa.

Topiknya bisa apa saja. Dari gossip hingga politik. Dari seni hingga otomotif. Tujuan dari reriungan itu tetap saja satu: penyegaran suasana. Stimulus yang paling efektif untuk menciptakan suasana yang segar adalah cerita humor. Cerita yang dapat menghadirkan suasana penuh gelak tawa dan kegembiraan. Itulah aksi para bintang pergaulan yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Aksi yang membuat kita semua pulang dari acara dengan perasaan nyaman dan penuh kesan.

Pembicara publik humoris juga demikian. Hanya saja mereka lebih banyak berkiprah di suasana seminar atau presentasi. Berbeda dari para pembicara publik umumnya, yang serius, tegang dan kadang membosankan, para pembicara humoris sangat menyadari bahwa kehadirannya di suatu seminar atau presentasi selain menyampaikan pesan penting juga harus menghibur audiens-nya. Bahkan, bila yang tampil pembicara humoris professional, audiens tidak menyadari, mereka pikir hanya menikmati suasana segar penuh gelak tawa, ternyata diam-diam mereka juga merasakan ada informasi atau pesan yang masuk ke dalam pengertian mereka. Sambil bersenang-senang pengetahuannya bertambah.

Mengapa hiburan menjadi penting dalam sesi tersebut? Ya, bahkan sanggat penting. Seringkali orang mau mendatangkan seorang pembicara dengan bayaran mahal karena alasan hiburannya itu. Seperti kata Steve Allen, “Orang berani membayar mahal untuk hiburan tapi tidak untuk pendidikan.” (HQ-Humor Quotient – Kecerdasan Humor, hal 117). Fakta ini mungkin agak menyengat rasa budaya kita, namun begitulah dunia entertainment.

Pertanyaannya adalah, benarkah hanya pembicara publik humoris professional yang berhak untuk tampil menarik, disenangi dan mendapatkan bayaran mahal? Tentu saja tidak. Setiap orang, termasuk Anda berhak untuk menjadi pembicara publik humoris yang berhasil. Tetapi kalau tidak lucu bagimana? Mari kita lihat nasihat Melvin Helitzer, “Ayo saudara-saudara, janganlah ragu, you can do it, even if you are not funny!”,Anda juga dapat melucu meskipun Anda bukan orang yang lucu. Itu artinya, dengan berbekal bahan lelucon yang siap saji, siapapun yang membawakannya hasilnya tetap saja lucu. Tentu saja untuk kasus ini perlu menyimak penjelasan teknis dan cara melaksanakannya dengan benar.

Profesi apa saja yang relevan dengan formula ini? Banyak, banyak sekali. Baik Anda: masyarakat umum, karyawan, petugas promosi, manajer, pemasar produk, HRD, birokrat, pelobi, creative director, direktur, diplomat maupun seorang juru kampanye! Apalagi Anda seorang akademisi, peneliti, profesional, pelatih diklat, presenter, copywriter, wartawan, penulis, musisi, seniman, kartunis, pelawak, comic, creative people, EO seni. motivator, pembicara publik, penyuluh lapangan, pendakwah, dosen maupun guru!

Pendek kata, setiap profesi yang berhubungan dengan orang lain, sesungguhnya memerlukan humor sebagai alat persuasi untuk memperlancar komunikasi sehingga mencapai keberhasilan sesuai yang diharapkan. Hakikatnya, humor (dikirim secara tepat waktu dan sasaran) akan menciptakan keakraban dan kegembiraan.  Keakraban dan kegembiraan dapat mengubah hal-hal yang semula mustahil menjadi nyata!

Tentu saja ini tantangan bagi Anda yang berkeinginan serius meniti karier di bidang humor. Pelawak atau komedian berbeda dengan pembicara humoris, namun itu bukan berarti pelawak tak dapat meniti karier di bidang tersebut. Pelawak tunggal (stand up comedian)  kenyataannya hampir mirip dengan pembicara publik humoris; yang bentuk komunikasi kepada publiknya hampir tak ada bedanya. Meskipun demikian bagi pelawak konvensional (biasa tergabung dalam grup atau merupakan bagian dari sebuah galatama) perlu menyiapkan sejumlah perangkat untuk dapat berkiprah di lahan pembicara publik humoris karena disiplin dan prosedurnya memang relatif beda (lin).

Friday, October 26, 2012

Buku Baru Satir Sosial Politik Darminto M Sudarmo




Buy it ... Click Here!

Buku Anatomi Lelucon di Indonesia Tersedia dalam eBook

       Ini berita bagus untuk pencinta humor di tanah air. Buku Anatomi Lelucon di Indonesia karya Darminto M Sudarmo kini tersedia dalam bentuk ebook. Banyak hal baru telah ditambahkan di dalamnya. Selain diadakan revisi dan perbaikan dari edisi buku sebelumnya, juga dilakukan penambahan materi baru,  bahan-bahan penting terkait dengan Bing Slamet, Mang Udel, Mang Cepot, Srimulat dan selintas pandang tentang sejarah perlawakan Indonesia. Banyak yang mempertanyakan, siapa peletakdasar seni lawak modern? Siapa yang memulai tradisi menulis konsep (outline story – skenario) yang khusus diperuntukkan bagi sebuah pentas lawak di Indonesia?  Lalu bagaimana perkembangan Stand Up Comedy  di Indonesia?

Anatomi Lelucon di Indonesia




        Buku Anatomi Lelucon di Indonesia terbitan Penerbit Buku Kompas di atas tak mungkin Anda dapatkan di toko buku atau outlet pameran buku lagi karena persediaan telah habis. Kini untuk memenuhi permintaan berbagai kalangan baik dari kalangan masyarakat umum maupun para akademisi, kami Penerbit Kombat Publishers menyediakan untuk Anda dalam bentuk ebook plus+plus! Artinya, selain telah diadakan revisi dan pemutakhiran data juga telah ditambahkan aneka materi atau bahan paling mutakhir (2012) kaitannya dengan isyu perhumoran nasional.
       Buku telaah tentang humor yang amat langka ini sangat cocok bagi Anda untuk bahan referensi, penelitian atau sekadar wawasan. Anatomi Lelucon di Indonesia benar-benar berbicara tentang seni humor yang ada di Indonesia dengan caranya yang khas dan jenaka. Berikut Anatomi Lelucon di Indonesia versi ebook plus+plus yang baru dan tersedia untuk Anda.
   
DATA eBook

Judul                     : Anatomi Lelucon di Indonesia
Penyusun             :  Darminto M Sudarmo
Penerbit               :  Kombat Publishers - Semarang - Indonesia, Okt 2012
Format                 :  A4 (Portrait) - 21 x 29,7 cm—190 hal
ISBN                    :  979-3468-28-9
Harga                  :  Rp 75.000 (Tujuh puluh lima ribu rupiah)
Order                   :  Klik di Sini

Saturday, August 11, 2012

Tema Kritik Diri dalam Stand Up Comedy


Catatan: 
Berikut adalah wawancara tertulis yang dilakukan Rizki, seorang mahasiswa yang sedang menyusun skripsi dengan tema stand up comedy kepada pengamat humor Darminto M Sudarmo.




Bagaimana tanggapan Anda  mengenai humor Stand Up Comedy yang Anda tonton dalam video yang menampilkan comic Boris Bokir di atas?
Lumayan, mengalir dan Boris cukup cermat menjaga “emosi” sehingga daya pikatnya dalam performance terus terbangun.

Apa yang dimaksud dengan humor?
Dalam makna yang sederhana, humor merupakan energi budaya yang kandungan pengertiannya amat rumit. Menurut Arwah Setiawan, pendiri LHI (Lembaga Humor Indonesia) dan peneliti humor, humor diartikan sebagai suatu gejala yang secara mental cenderung mendorong orang untuk tertawa.

Definisi humor sangat luas. Selain sebagai kata benda, humor juga dapat berperan sebagai kata kerja. Selain dipahami masyarkat sekarang sebagai sebutan yang berkaitan dengan lelucon, dalam ilmu fisiologi kuno di abad pertengahan, kata humor mengandung makna cairan; salah satu (darah)  dari empat cairan di dalam tubuh manusia yang terdiri atas dahak, darah, choler, dan empedu hitam; proporsi yang relatif untuk menentukan disposisi seseorang dan kesehatan secara umum.

Ada cukup banyak teori humor dan tawa yang dapat ditemukan di berbagai  literatur, dalam literatur akademik kontemporer , tiga teori humor  yang paling banyak dibicarakan adalah: teori pembebasan, teori keunggulan, dan teori keganjilan. Masyarakat ilmiah menganggap teori humor secara tradisional dibagi dalam tiga cabang sebagaimana disebutkan di atas.

Hingga kini, di antara para peneliti humor sendiri, belum ada konsensus tentang mana dari tiga teori humor tersebut yang paling layak mewakili semua teori yang ada. Para pendukung masing-masing  teori awalnya memang mengklaim bahwa teori merekalah yang  mampu menjelaskan semua kasus humor. Namun, akhirnya mereka mengakui bahwa meskipun setiap teori umumnya berkutat dan mencakup wilayah sendiri, setidaknya banyak contoh humor yang ternyata dapat dijelaskan oleh lebih dari satu teori.

Francis Hutcheson menyatakan dalam “Thoughts on Laughter” (1725) bahwa apa yang menjadi konsep kunci dalam pengembangan teori lelucon: tawa muncul sebagai reaksi atas persepsi yang tidak sesuai.. Arthur Schopenhauer menulis bahwa terjadinya keganjilan karena konsep dan kenyataan terwakili. Hegel nyaris memiliki pandangan yang sama, tetapi ia melihat konsep tersebut sebenarnya sebagai "sesuatu yang tampak" namun karena munculnya tawa kemudian justru  meniadakan sesuatu yang tampak itu. Menurut Spenser, tawa adalah "fenomena ekonomis" yang berfungsi untuk melepaskan "energi psikis" yang telah salah dimobilisasi oleh harapan yang tidak benar atau salah. Pandangan terakhir ini tampaknya juga didukung oleh Sigmund Freud. Dalam wacana berikutnya, Teori Keganjilan juga paralel dan seiring sejalan dengan Teori  Inkonsistensi, Teori Kontradiksi  dan Teori Bisosiasi (Arthur Koestler).
(Merujuk dari buku: HQ – Humor Quotient  - Kecerdasan Humor,  susunan Darminto M Sudarmo dan Danny Septriadi – yang saat ini masih dalam tahap finishing).

Bagaimana tanggapan Anda setelah menonton tayangan video Stand Up Comedy di atas yang dibawakan oleh salah satu Comic bernama Boris yang dalam humornya mengangkat mengenai orang Batak?
Menurut saya, menarik dan masih dalam atmosfer positif. Artinya, Boris sebagai orang Batak tetap mampu berdiri di sisi yang elegan. Dia tidak melakukan justifikasi, tidak menghakimi – tidak terjebak dalam opini yang berlebihan tentang sukunya sendiri; bahkan ia berhasil melakukan kritik diri dengan sangat anggun dan estetik.

Bagaimana menurut Anda cara untuk melucu dalam humor Stand Up Comedy tanpa harus mengangkat materi humor mengenai identitas kesukuannya seperti dalam tayangan video ini yang humornya mengenai orang Batak?
Sebentar,  tema tentang kesukuan sebagaimana yang ditampilkan Boris, bukan sesuatu  yang “tabu” sejauh itu dilakukan oleh warga dari suku yang bersangkutan. Misal kritik diri tentang orang Jawa, Orang Madura, Orang Sunda, dan suku-suku lain, sebenarnya masih dalam batas toleransi selama itu dilakukan oleh warga dari suku bersangkutan dan .... ini entry point yang penting: tidak menghakimi, elegan dan estetik! Artinya secara isi atau content bersifat obyektif, informatif – bukan justifikatif dan insinuatif. Pilihan tema ini memang sangat riskan dan mengandung risiko tinggi bila comic-nya belum memahami betul tentang rasa budaya, rasa seni dan psikologi penontonnya.

Cara melucu dalam stand up comedy (SUC) secara umum ya harus memenuhi tiga unsur penting yang sering disebut: MAP (Materi, Audiens dan Penampilan). Bila ketiganya klop dan sebanding, niscaya target dapat dicapai sesuai ekspektasi. Materi bagus, penampilan bagus di-deliver ke penonton yang salah, sama juga bohong. Demikian pula sebaliknya.

Menurut Anda mengapa Comic Boris yang merupakan berasal dari Batak mengangkat humor mengenai orang Batak sekedar hanya untuk melucu?

Mengapa? Ha ha ha ... saya kira yang dapat menjawab dengan tepat pertanyaan ini ya Boris sendiri. Namun kalau saya diizinkan mendiskusikannya, kurang lebih
karena faktor kedewasaan mental dan budaya Boris sendiri maupun warga Batak secara umum cukup memadai.

Seperti kita ketahui, di masyarakat sangat banyak “lelcuon” tentang orang Batak yang serba miring dan diidentikkan dengan berbagai praktik kejahatan seperti 
mencopet, memeras, maling, menggarong dan lain-lain. Semua itu ditangkap Boris sebagai sebuah gagasan yang kemudian diramu dan diendapkan lewat kontemplasi
yang “dewasa” dan direpresentasikan ulang lewat performance yang juga pede dan terjaga estetikanya.

Saya bukan orang Batak, tetapi “kredo” Boris itu saya yakin tidak melukai warga  Batak sendiri. Sebagian besar teman-teman Batak saya memiliki rasa  humor yang baik, sanggup menertawakan kekurangan dan kesumbangan diri mereka sendiri. Kekuatan ini seharusnya menjadi inspirasi bagi suku- suku yang lain agar tidak membesar-besarkan ego etnik mereka dengan mengedepankan reaksi gampang marah, gampang tersinggung, gampang berpikir negatif dan rentan rasa percaya dirinya.

Dalam zaman yang serba transparan di lintas sektoral bahkan internasional saat ini, kita tiba pada pemahaman bahwa KEWIBAWAAN bukan lagi identik dengan keangkeran-kemisteriusan melainkan justru ada di KERAMAHAN dan KECERIAAN.

Menurut Anda bagaimana agar kita mempunyai gagasan dalam humor, khususnya dalam Stand Up Comedy yang dalam jenis komedi ini kebanyakan memang mengangkat fenomena sosial yang ada di masyarakat?
Bukan hanya di SUC, di bidang lain seperti menulis artikel, buku, novel,  mengartun, mengarang lagu, melukis, dll orang butuh gagasan atau ide.  Bagaimana mendapatkan ide? Balik lagi ke Anda, bagaimana Anda dapat menyusun pertanyaan untuk wawancara ini? Itulah menariknya ide.

Secara umum ide itu datang apa harus dicari? Dalam etos saya pribadi,   ide harus dicari. Kalau toh dia datang sendiri, itu karena kita sudah punya    deposit keinginan atau upaya untuk mendapatkannya.

Bagaimana supaya kita subur ide? Ya, buka semua indera, kalau perlu indera-indera lain di luar panca indera. Bagaimana cara membuka indera? Fungsikan mata untuk membaca, menonton, melihat; fungsikan otak kiri dan kanan baik untuk menganalisa maupun mengingat dan mengembangkannya. Fungsikan telinga, dan indera-indera lain untuk  bekerja maksimal namun tetap enjoy.

Dengan itu semua, memori kaya data, kaya analisa, kaya inspirasi, kaya renungan, kaya fleksibelitas. Ibarat prajurit, selain memiliki kemampuan bela diri tangan kosong, Anda juga memiliki senjata lengkap: dari belati,  pistol, granat, senapan, meriam bahkan bom. Dengan kekayaan senjata Anda maka akan pasti SIAP TEMPUR di medan yang bagaimanapun ....  Sesudah itu, biasakan untuk melatih diri dengan selalu berpikir kreatif ...  artinya melihat berbagai masalah (untuk keperluan menyiapkan materi SUC) dari sudut pandang yang BARU, BEDA, dan KRITIS!

Naskah2 SUC secara sederhana hampir mirip tulisan Artikel Opini  (ilmiah populer-kontekstual) – namun ia lebih pendek dan lucu (karena baru dan beda tadi sehingga terasa aneh, karena aneh menimbulkan kontraksi psikologis – dan berujung tawa). Dalam konteks ini kreativitas, penggalian-pencarian yang terus-menerus menjadi taruhannya.

Apakah dalam berhumor bebas mengangkat materi untuk berhumor, seperti dalam tayangan video di atas yang mengangkat humor mengenai budaya?
Secara (hak asasi) kreativitas, humor tidak membatasi tema, karena pada dasarnya humor itu juga mencakup kehidupan manusia dengan seluruh perilaku dan peradaban yang ada di dalamnya. Karena tingkat peradaban kelompok manusia berbeda-beda, maka lalu muncul tingkat persepsi dan respon yang berbeda-beda pula; khususnya dalam menyikapi karya humor. Termasuk larangan humor dengan tema SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) di negeri kita. Ini karena potensi risikonya lebih  banyak ketimbang hasil tawanya. Jujur harus kita akui, bahwa kita   mensakralkan ini, karena itu  kita terima saja, ini kan bagian dari local value – nilai lokal; meskipun humor  sebenarnya bisa bermain di mana  saja,  selama pelakunya pandai- pandai menyiasati kontekstualitasnya.

Menurut Anda apa yang membedakan humor dalam Stand Up Comedy dengan humor komedi lainnya?
Menurut saya SUC itu kombinasi antara teater dan lawak improvisasi.  Tradisi teater mensyaratkan kesiapan naskah/skenario, latihan dan   pengarahan sutradara. Lawak improvisasi, sebenarnya juga memiliki konsep atau “naskah” hanya tidak tertulis. Sejauh yang saya tahu dalam perform mereka hanya mengandalkan kesepakatan dalam brifing sutradara dibantu tim kreatif, tidak mengenal latihan. Hasilnya?  Bagaimana nanti di lapangan.

Nah, SUC mengadopsi dua disiplin kesenian itu. Dan tampil secara perseorangan. Karya komedi lainnya seperti yang sudah kita kenal seperti: film komedi,  tari, musik, pantomim, tutur humor (joke telling), cerpen, cerber (novel)  kartun, karikatur, lukisan humor...jelas berbeda dengan SUC.

Bagaimana tanggapan Anda mengenai seni komedi dalam humor Stand Up Comedy di indonesia?
Sejauh ini dari aspek kuantitatif (jumlah) cukup menggembirakan dan punya kans yang bagus untuk ke depannya; hanya saja secara kualitatif (mutu) belum berbanding lurus dengan eforia  jumlah itu.

Andai ada upaya terus-menerus dan intensif untuk peningkatan kompetensi para comic via pemahaman teknis yang benar (sesuai kaidah  kesenian dari sumbernya) mungkin jumlah para comic berkelas boleh jadi akan meningkat, namun bila mereka berkembang “liar” dan “bebas”  sesuai arus besar tren yang ada di Indonesia lewat transformasi budaya,  bukan tak mungkin nantinya muncul genre baru SUC yang beda sama sekali dengan di barat . Beberapa sumber sudah menandai nama dengan istilah Berdikari (Berdiri di atas kaki sendiri) sebagai ganti SUC di Indonesia.

Menurut Anda humor Stand Up Comedy yang bapak tonton tersebut, termasuk jenis humor apa?
Humor etnik. Di tempat lain juga banyak: Humor Yahudi, Humor China, Humor (suku) Indian, dst dst.

Friday, August 10, 2012

Ada Apa dengan Olga Syahputra?

Olga Syahputra


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tayangan Komedi Pesbukers (Pesta Buka Bareng Selebriti) di ANTV yang dibintangi Olga Syahputra cs diduga masih mengandung celetukan-celetukan bermasalah.
Buktinya, Menteri Komunikasi dan Informastika Tifatul Sembiring berencana memanggil Olga cs untuk diajak bicara, diajak bertukar pikiran tentang materi melucu yang edukatif dan tidak mengandung unsur pelecehan dan SARA.
Tifatul bertutur, pihaknya perlu mengajak bicara Olga karena tayangan komedi Pesbukers hingga kini dinilai masih mengandung olok-olokan , ejekan, saling menghina, ucapan kasar dan kalimat yang mengarahkan ke asosiasi seksual vulgar walaupun dalam konteks bergurau.
Tidak hanya Olga yang akan 'diomeli' tapi juga produser, pemilik production House (PH), dan pemilik stasiun TV.
"Saya ingin ketemu Olga. Undang bintang-bintang yang nggak bener bicaranya itu, undang aja silakan. Anda boleh jadi komedian, pelawak tapi jangan menyentuh ABCD. Kita bebas tapi harus ada platform," kata Tifatul Sembiring di ruang Oaks Room Lt.2 Kominfo, Jakarta Pusat, Senin (6/8/2012).
Menurut Tifatul, pihaknya perlu memanggil para komedian karena Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) cuma berwenang menegur. Sementara dirinya sendiri melihat setelah acara Pesbukers ditegur gara-gara menjadikan ucapan 'Assalamualaikum' sebagai bahan bercanda, komedian lain gayanya masih vulgar.
"Kalau (teguran) dari Kementerian Kominfo sanksinya gawat, bisa nggak siaran. Itu bisa dilakukan kalau serius," tegasnya.
Namun Tifatul mengaku lebih senang mengedukasi tayangan atau siaran TV yang tidak mendidik daripada emosional menjatuhkan sanksi. Tifatul akan jemput bola supaya tayangan yang tidak mendidik itu bersama artis dan produsernya tidak mengulangi lagi. "Datangi produsernya, ownernya, mereka juga manusia, lebih baik edukatif dari pada diberangus," ujarnya.

Sumber: Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferro Maulana

Pelawak Indonesia Popular

Pelawak Indonesia Popular