Ayo main

Sabar semua kebagian karcis.

Hidangan Pembuka

Asyiiiiiikkkkkkkkk

Nah gitu dong

Terimakasih terimakasih terimakasih

Gedung kesenian ya begini

Setiap aktris aktor atau bintang yang pernah tampil bangga

Apalagi

Mendapat tepuk tangan panjang dan penghargaan yang tak terlupakan

Saturday, August 11, 2012

Tema Kritik Diri dalam Stand Up Comedy


Catatan: 
Berikut adalah wawancara tertulis yang dilakukan Rizki, seorang mahasiswa yang sedang menyusun skripsi dengan tema stand up comedy kepada pengamat humor Darminto M Sudarmo.




Bagaimana tanggapan Anda  mengenai humor Stand Up Comedy yang Anda tonton dalam video yang menampilkan comic Boris Bokir di atas?
Lumayan, mengalir dan Boris cukup cermat menjaga “emosi” sehingga daya pikatnya dalam performance terus terbangun.

Apa yang dimaksud dengan humor?
Dalam makna yang sederhana, humor merupakan energi budaya yang kandungan pengertiannya amat rumit. Menurut Arwah Setiawan, pendiri LHI (Lembaga Humor Indonesia) dan peneliti humor, humor diartikan sebagai suatu gejala yang secara mental cenderung mendorong orang untuk tertawa.

Definisi humor sangat luas. Selain sebagai kata benda, humor juga dapat berperan sebagai kata kerja. Selain dipahami masyarkat sekarang sebagai sebutan yang berkaitan dengan lelucon, dalam ilmu fisiologi kuno di abad pertengahan, kata humor mengandung makna cairan; salah satu (darah)  dari empat cairan di dalam tubuh manusia yang terdiri atas dahak, darah, choler, dan empedu hitam; proporsi yang relatif untuk menentukan disposisi seseorang dan kesehatan secara umum.

Ada cukup banyak teori humor dan tawa yang dapat ditemukan di berbagai  literatur, dalam literatur akademik kontemporer , tiga teori humor  yang paling banyak dibicarakan adalah: teori pembebasan, teori keunggulan, dan teori keganjilan. Masyarakat ilmiah menganggap teori humor secara tradisional dibagi dalam tiga cabang sebagaimana disebutkan di atas.

Hingga kini, di antara para peneliti humor sendiri, belum ada konsensus tentang mana dari tiga teori humor tersebut yang paling layak mewakili semua teori yang ada. Para pendukung masing-masing  teori awalnya memang mengklaim bahwa teori merekalah yang  mampu menjelaskan semua kasus humor. Namun, akhirnya mereka mengakui bahwa meskipun setiap teori umumnya berkutat dan mencakup wilayah sendiri, setidaknya banyak contoh humor yang ternyata dapat dijelaskan oleh lebih dari satu teori.

Francis Hutcheson menyatakan dalam “Thoughts on Laughter” (1725) bahwa apa yang menjadi konsep kunci dalam pengembangan teori lelucon: tawa muncul sebagai reaksi atas persepsi yang tidak sesuai.. Arthur Schopenhauer menulis bahwa terjadinya keganjilan karena konsep dan kenyataan terwakili. Hegel nyaris memiliki pandangan yang sama, tetapi ia melihat konsep tersebut sebenarnya sebagai "sesuatu yang tampak" namun karena munculnya tawa kemudian justru  meniadakan sesuatu yang tampak itu. Menurut Spenser, tawa adalah "fenomena ekonomis" yang berfungsi untuk melepaskan "energi psikis" yang telah salah dimobilisasi oleh harapan yang tidak benar atau salah. Pandangan terakhir ini tampaknya juga didukung oleh Sigmund Freud. Dalam wacana berikutnya, Teori Keganjilan juga paralel dan seiring sejalan dengan Teori  Inkonsistensi, Teori Kontradiksi  dan Teori Bisosiasi (Arthur Koestler).
(Merujuk dari buku: HQ – Humor Quotient  - Kecerdasan Humor,  susunan Darminto M Sudarmo dan Danny Septriadi – yang saat ini masih dalam tahap finishing).

Bagaimana tanggapan Anda setelah menonton tayangan video Stand Up Comedy di atas yang dibawakan oleh salah satu Comic bernama Boris yang dalam humornya mengangkat mengenai orang Batak?
Menurut saya, menarik dan masih dalam atmosfer positif. Artinya, Boris sebagai orang Batak tetap mampu berdiri di sisi yang elegan. Dia tidak melakukan justifikasi, tidak menghakimi – tidak terjebak dalam opini yang berlebihan tentang sukunya sendiri; bahkan ia berhasil melakukan kritik diri dengan sangat anggun dan estetik.

Bagaimana menurut Anda cara untuk melucu dalam humor Stand Up Comedy tanpa harus mengangkat materi humor mengenai identitas kesukuannya seperti dalam tayangan video ini yang humornya mengenai orang Batak?
Sebentar,  tema tentang kesukuan sebagaimana yang ditampilkan Boris, bukan sesuatu  yang “tabu” sejauh itu dilakukan oleh warga dari suku yang bersangkutan. Misal kritik diri tentang orang Jawa, Orang Madura, Orang Sunda, dan suku-suku lain, sebenarnya masih dalam batas toleransi selama itu dilakukan oleh warga dari suku bersangkutan dan .... ini entry point yang penting: tidak menghakimi, elegan dan estetik! Artinya secara isi atau content bersifat obyektif, informatif – bukan justifikatif dan insinuatif. Pilihan tema ini memang sangat riskan dan mengandung risiko tinggi bila comic-nya belum memahami betul tentang rasa budaya, rasa seni dan psikologi penontonnya.

Cara melucu dalam stand up comedy (SUC) secara umum ya harus memenuhi tiga unsur penting yang sering disebut: MAP (Materi, Audiens dan Penampilan). Bila ketiganya klop dan sebanding, niscaya target dapat dicapai sesuai ekspektasi. Materi bagus, penampilan bagus di-deliver ke penonton yang salah, sama juga bohong. Demikian pula sebaliknya.

Menurut Anda mengapa Comic Boris yang merupakan berasal dari Batak mengangkat humor mengenai orang Batak sekedar hanya untuk melucu?

Mengapa? Ha ha ha ... saya kira yang dapat menjawab dengan tepat pertanyaan ini ya Boris sendiri. Namun kalau saya diizinkan mendiskusikannya, kurang lebih
karena faktor kedewasaan mental dan budaya Boris sendiri maupun warga Batak secara umum cukup memadai.

Seperti kita ketahui, di masyarakat sangat banyak “lelcuon” tentang orang Batak yang serba miring dan diidentikkan dengan berbagai praktik kejahatan seperti 
mencopet, memeras, maling, menggarong dan lain-lain. Semua itu ditangkap Boris sebagai sebuah gagasan yang kemudian diramu dan diendapkan lewat kontemplasi
yang “dewasa” dan direpresentasikan ulang lewat performance yang juga pede dan terjaga estetikanya.

Saya bukan orang Batak, tetapi “kredo” Boris itu saya yakin tidak melukai warga  Batak sendiri. Sebagian besar teman-teman Batak saya memiliki rasa  humor yang baik, sanggup menertawakan kekurangan dan kesumbangan diri mereka sendiri. Kekuatan ini seharusnya menjadi inspirasi bagi suku- suku yang lain agar tidak membesar-besarkan ego etnik mereka dengan mengedepankan reaksi gampang marah, gampang tersinggung, gampang berpikir negatif dan rentan rasa percaya dirinya.

Dalam zaman yang serba transparan di lintas sektoral bahkan internasional saat ini, kita tiba pada pemahaman bahwa KEWIBAWAAN bukan lagi identik dengan keangkeran-kemisteriusan melainkan justru ada di KERAMAHAN dan KECERIAAN.

Menurut Anda bagaimana agar kita mempunyai gagasan dalam humor, khususnya dalam Stand Up Comedy yang dalam jenis komedi ini kebanyakan memang mengangkat fenomena sosial yang ada di masyarakat?
Bukan hanya di SUC, di bidang lain seperti menulis artikel, buku, novel,  mengartun, mengarang lagu, melukis, dll orang butuh gagasan atau ide.  Bagaimana mendapatkan ide? Balik lagi ke Anda, bagaimana Anda dapat menyusun pertanyaan untuk wawancara ini? Itulah menariknya ide.

Secara umum ide itu datang apa harus dicari? Dalam etos saya pribadi,   ide harus dicari. Kalau toh dia datang sendiri, itu karena kita sudah punya    deposit keinginan atau upaya untuk mendapatkannya.

Bagaimana supaya kita subur ide? Ya, buka semua indera, kalau perlu indera-indera lain di luar panca indera. Bagaimana cara membuka indera? Fungsikan mata untuk membaca, menonton, melihat; fungsikan otak kiri dan kanan baik untuk menganalisa maupun mengingat dan mengembangkannya. Fungsikan telinga, dan indera-indera lain untuk  bekerja maksimal namun tetap enjoy.

Dengan itu semua, memori kaya data, kaya analisa, kaya inspirasi, kaya renungan, kaya fleksibelitas. Ibarat prajurit, selain memiliki kemampuan bela diri tangan kosong, Anda juga memiliki senjata lengkap: dari belati,  pistol, granat, senapan, meriam bahkan bom. Dengan kekayaan senjata Anda maka akan pasti SIAP TEMPUR di medan yang bagaimanapun ....  Sesudah itu, biasakan untuk melatih diri dengan selalu berpikir kreatif ...  artinya melihat berbagai masalah (untuk keperluan menyiapkan materi SUC) dari sudut pandang yang BARU, BEDA, dan KRITIS!

Naskah2 SUC secara sederhana hampir mirip tulisan Artikel Opini  (ilmiah populer-kontekstual) – namun ia lebih pendek dan lucu (karena baru dan beda tadi sehingga terasa aneh, karena aneh menimbulkan kontraksi psikologis – dan berujung tawa). Dalam konteks ini kreativitas, penggalian-pencarian yang terus-menerus menjadi taruhannya.

Apakah dalam berhumor bebas mengangkat materi untuk berhumor, seperti dalam tayangan video di atas yang mengangkat humor mengenai budaya?
Secara (hak asasi) kreativitas, humor tidak membatasi tema, karena pada dasarnya humor itu juga mencakup kehidupan manusia dengan seluruh perilaku dan peradaban yang ada di dalamnya. Karena tingkat peradaban kelompok manusia berbeda-beda, maka lalu muncul tingkat persepsi dan respon yang berbeda-beda pula; khususnya dalam menyikapi karya humor. Termasuk larangan humor dengan tema SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) di negeri kita. Ini karena potensi risikonya lebih  banyak ketimbang hasil tawanya. Jujur harus kita akui, bahwa kita   mensakralkan ini, karena itu  kita terima saja, ini kan bagian dari local value – nilai lokal; meskipun humor  sebenarnya bisa bermain di mana  saja,  selama pelakunya pandai- pandai menyiasati kontekstualitasnya.

Menurut Anda apa yang membedakan humor dalam Stand Up Comedy dengan humor komedi lainnya?
Menurut saya SUC itu kombinasi antara teater dan lawak improvisasi.  Tradisi teater mensyaratkan kesiapan naskah/skenario, latihan dan   pengarahan sutradara. Lawak improvisasi, sebenarnya juga memiliki konsep atau “naskah” hanya tidak tertulis. Sejauh yang saya tahu dalam perform mereka hanya mengandalkan kesepakatan dalam brifing sutradara dibantu tim kreatif, tidak mengenal latihan. Hasilnya?  Bagaimana nanti di lapangan.

Nah, SUC mengadopsi dua disiplin kesenian itu. Dan tampil secara perseorangan. Karya komedi lainnya seperti yang sudah kita kenal seperti: film komedi,  tari, musik, pantomim, tutur humor (joke telling), cerpen, cerber (novel)  kartun, karikatur, lukisan humor...jelas berbeda dengan SUC.

Bagaimana tanggapan Anda mengenai seni komedi dalam humor Stand Up Comedy di indonesia?
Sejauh ini dari aspek kuantitatif (jumlah) cukup menggembirakan dan punya kans yang bagus untuk ke depannya; hanya saja secara kualitatif (mutu) belum berbanding lurus dengan eforia  jumlah itu.

Andai ada upaya terus-menerus dan intensif untuk peningkatan kompetensi para comic via pemahaman teknis yang benar (sesuai kaidah  kesenian dari sumbernya) mungkin jumlah para comic berkelas boleh jadi akan meningkat, namun bila mereka berkembang “liar” dan “bebas”  sesuai arus besar tren yang ada di Indonesia lewat transformasi budaya,  bukan tak mungkin nantinya muncul genre baru SUC yang beda sama sekali dengan di barat . Beberapa sumber sudah menandai nama dengan istilah Berdikari (Berdiri di atas kaki sendiri) sebagai ganti SUC di Indonesia.

Menurut Anda humor Stand Up Comedy yang bapak tonton tersebut, termasuk jenis humor apa?
Humor etnik. Di tempat lain juga banyak: Humor Yahudi, Humor China, Humor (suku) Indian, dst dst.

Friday, August 10, 2012

Ada Apa dengan Olga Syahputra?

Olga Syahputra


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tayangan Komedi Pesbukers (Pesta Buka Bareng Selebriti) di ANTV yang dibintangi Olga Syahputra cs diduga masih mengandung celetukan-celetukan bermasalah.
Buktinya, Menteri Komunikasi dan Informastika Tifatul Sembiring berencana memanggil Olga cs untuk diajak bicara, diajak bertukar pikiran tentang materi melucu yang edukatif dan tidak mengandung unsur pelecehan dan SARA.
Tifatul bertutur, pihaknya perlu mengajak bicara Olga karena tayangan komedi Pesbukers hingga kini dinilai masih mengandung olok-olokan , ejekan, saling menghina, ucapan kasar dan kalimat yang mengarahkan ke asosiasi seksual vulgar walaupun dalam konteks bergurau.
Tidak hanya Olga yang akan 'diomeli' tapi juga produser, pemilik production House (PH), dan pemilik stasiun TV.
"Saya ingin ketemu Olga. Undang bintang-bintang yang nggak bener bicaranya itu, undang aja silakan. Anda boleh jadi komedian, pelawak tapi jangan menyentuh ABCD. Kita bebas tapi harus ada platform," kata Tifatul Sembiring di ruang Oaks Room Lt.2 Kominfo, Jakarta Pusat, Senin (6/8/2012).
Menurut Tifatul, pihaknya perlu memanggil para komedian karena Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) cuma berwenang menegur. Sementara dirinya sendiri melihat setelah acara Pesbukers ditegur gara-gara menjadikan ucapan 'Assalamualaikum' sebagai bahan bercanda, komedian lain gayanya masih vulgar.
"Kalau (teguran) dari Kementerian Kominfo sanksinya gawat, bisa nggak siaran. Itu bisa dilakukan kalau serius," tegasnya.
Namun Tifatul mengaku lebih senang mengedukasi tayangan atau siaran TV yang tidak mendidik daripada emosional menjatuhkan sanksi. Tifatul akan jemput bola supaya tayangan yang tidak mendidik itu bersama artis dan produsernya tidak mengulangi lagi. "Datangi produsernya, ownernya, mereka juga manusia, lebih baik edukatif dari pada diberangus," ujarnya.

Sumber: Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferro Maulana

Tuesday, May 1, 2012

BILUNG, PERSONIFIKASI ELITE POLITIK KITA


Bilung
M Djoko Yuwono

SEPAK terjang para petinggi negeri ini menabrak-nabrak seperti Bilung mabuk. Akal sehatnya menjadi tumpul karena mabuk.
Bilung, tokoh raksasa kecil yang berteman dengan para punakawan, sahabat Togog, kelakuannya kerap nyeleneh. Dalam beberapa cerita wayang, Bilung yang punya nama lain Sarawita ini kadang berperan menjadi punakawan yang memihak musuh. Biasanya Bilung akan memberi masukan yang baik kepada majikannya. Tetapi, bila masukannya tidak didengarkan oleh majikannya, dia akan berbalik memberi berbagai masukan yang buruk.

Gayanya sok jagoan, padahal tanpa mabuk pun dia itu lola-lolo, mbangbung, dan bego. Mirip kera disumpit, celingak-celinguk tak mengerti harus berbuat apa terhadap siapa yang menyumpitnya. Apalagi ditambah mabuk. Maka, catatan dalam kitab suci menyebutkan bahwa barang siapa mabuk, maka diharamkan menjalankan kewajibannya.

Rame-ramenya mereka mabuk (kekuasaan-jabatan-kewenangan), atau mabuk bersama membuat rakyat melihat kelucuan-kelucuan yang terjadi. Repotnya, kelucuan yang tidak lucu. Bagaimana lucu kalau rakyat menjadi ragu melihat pemimpinnya seperti dungu, walau konon telah belajar sampai tinggi dan bergengsi? Lalu, mereka jatuh hanya karena ingin tetap di atas singgasana. Jatuh martabatnya, karena kebohongan-kebohongan atau memanipulasi keputusan-keputusan.

Tampuk pimpinan tertinggi seolah-olah menutup mata. Itu membuatnya menabrak-nabrak, dan awas... bisa masuk ke dalam jurang: Plung!

Monday, February 6, 2012

Doa Kesembuhan untuk Mas Tri

Catatan: 
Bapak TRIDOSO (Mas Tri) adalah figur di balik suksesnya sejumlah pelawak Indonesia seperti Bagiyo CS, Empat Sekawan, Tukul Arwana, dan banyak lagi lainnya. Kini beliau menderita sakit stroke. Mohon bantuan (moril-materiil) serta doa untuk kesembuhannya. Nomor keluarga yg bisa dihubungi: 02198208035 dan 081380035124 atau lewat PASKI (Persatuan Seniman Komedi Indonesia) Pusat. Demikian semoga rekan2 pelawak/broadcast/PH yang kini sedang dirundung kesibukan mohon sedikit waktunya untuk beliau.

SMS dari rekan2 pelawak:
Mohon Bantuan & Doa keSembuhan untuk Kreatif Humor bapak TRIDOSO (mas Tri) sakit STROKE, saat ini dirawat di rumah di jl. Petak Panjang no.21 rt.001/12 PORI Pisangan CIPINANG (belakang Pasar Induk Beras), Jak-Tim; terima kasih @Joko Dewo \cc.Derry Sudarisman Ketua Umum & Didin Pinasti Sekjen PaSKI.
==============================================================

Tridoso


Saya mengenal Mas Tri (nama asli di KTP: Satridoso), sekitar 1993-an. Tukul Arwana-lah yang memperkenalkan beliau; mereka, Tukul dan Mas Tri, singgah ke tempat tinggal saya di Kebon Nanas Selatan, Jakarta Timur untuk sekadar silaturahmi dan berbagi obrolan. Pada tahun2 tersebut, ketika Tukul masih gigih merintis karier, dia sering singgah ke rumah Kebon Nanas tersebut bersama rekan2 pelawak dari Kharisma Group. Di antaranya pelawak Karsono dan Untung. Banyak hal yang sering kami bicarakan, khususnya mengenai seluk beluk dunia perlawakan dan lebih spesifiknya lagi, strategi dan teknik melawak, serta proses kreatifnya.

Tentang Mas Tri, sejak perkenalan pertama itu, kami intens terlibat dalam diskusi berdua; setelah saya gali secara mendalam, ternyata beliau bukan saja menangani soal kreatif melainkan juga tentang hal2non-kreatif; misalnya, banyak sekali pelawak, yang ketika itu sebagian besar pendidikan formal dan latar belakang ekonominya kurang memadai, sempat kesentuh tangan dingin beliau. Baik menyangkut attitude, etika bergaul, cara berpakaian, bahkan hingga uang saku kalau mau pulang ke kampung. Tak terkecuali Tukul Arwana; suatu hari mampir ke tempat tinggal Mas Tri, setelah ngobrol naglor-ngidul lalu pamit pulang, tapi Tukul tidak juga mengangkat pantat, ternyata dompetnya memang lagi kosong melompong, artinya mana mungkin bisa beli karcis kereta di Stasiun Senen;  maka Ibu Tridoso segera tahu situasi yang sedang dialami sang calon pelawak andal ini. Jes jes jes...(sensor) terjadilah. Tukul kini bisa mengangkat pantat dengan ringan, lalu bergegas menuju Stasiun Senen dengan langkah pasti.

Tentu saja, peristiwa seperti itu tidak hanya dialami Tukul Arwana. Banyak pelawak lain juga memperoleh kesempatan indah dari kedermawanan dan kasih sayang Mas Tri kepada para pejuang humor negeri ini.

Pendek kata, jasa Mas Tri sebagai Sang Guru (beliau menyebut dirinya sebagai Klinik Humor) kepada para pelawak yang sempat melejit hingga membumbung langit, sudah tak terbilang kata, tak terhitung jumlah. Tapi satu hal yang tidak pernah diketahui oleh rekan2 pelawak adalah, kehidupan perekonomian Mas Tri sendiri, yang hanya mau cerita ke saya. Setelah pensiun dari salah satu perusahaan badan negara, praktis beliau hanya memperoleh penghasilan ketika mendapatkan job sebagai sutradara lawak atau pengarah acara baik dari PH (production house) atau broadcast. Bila job lagi kosong, tentu saja, dompetnya juga ikut-ikutan bengong.

Tapi Mas Tri orang yang "keras" dan menyembunyikan kesulitan finansialnya itu dari kolega  dan pelawak2 yang selama ini dia urus. Beliau tak pernah mengeluh apalagi curhat mengenai ini. Tetapi anehnya, dari pelawak2 yang belum sukses sebagai pelawak, tapi sukses sebagai bukan pelawak, dia justru sering mendapatkan kejutan yang sulit dinalar; suatu hari misalnya tiba2 mendapat kiriman paket dari kota lain berupa: kulkas atau benda2 berharga lainnya; pengirimnya tidak beliau kenal. Setelah dirunut-runut dan diusut-usut, akhirnya ketahuan Si A atau Si B yang dulu pernah dia dampingi dalam merintis karier lawak, "biang keladi" di balik pengirim benda2 tak bernama itu. Benda yang mewakili wujud kasih sayang seorang anak kepada bapaknya.

Melihat perkembangan kesehatan Mas Tri, saya sebenarnya sangat berharap di usia renta beliau ini, salah seorang pelawak yang pernah dia dampingi dan bantu lahir batin dan kini sedang menuai sukses besar, setidaknya mau berbagi atau mengambil oper seluruh atau sebagian kesulitan Mas Tri dan keluarga karena beliau sudah tidak produktif lagi, ternyata harapan itu, tinggal harapan. Saya sempat "menangis" dalam hati ketika beliau mengirim SMS bahwa kesulitan beliau yang bertubi-tubi dari operasi mata (katarak), degradasi kesehatan secara umum, check up rutin dan lain-lain tetap dibiayai dari gresek-gresek kanan-kiri. Ini sungguh menyayat hati.

Semoga fakta ini segera berubah, semoga Tuhan menyentuh hati sang pelawak yang kini  lagi diberi kelimpahan rezeki untuk sedikit saja berbagi kepada keluarga Mas Tri.

Setahu saya, Mas Tri bukan tipe orang seperti itu. Beliau sangat menjaga perasaan itu, apalagi terang2-an membicarakan masalah itu; hanya saja, saya terus terang dari pihak ketiga, sangat menyayangkan seandainya kemuliaan dan berkah Tuhan yangtengah  melimpah itu membuat sang pelawak bagai kacang lupa akan kulitnya. Karena bukan kata-kata dan kembang lambe basa-basi yang sangat dibutuhkan oleh keluarga Mas Tri, tapi perhatian nyata, yang saat ini sangat mendesak.

Akhirnya, simpati dan doa untuk kesembuhan rekan, bapak, dan sahabat diskusi Bapak Tridoso, semoga Tuhan selalu memberikan jalan terang dan pulihnya kesehatan beliau. Kepada Ibu Tridoso dan putra-putri beliau, semoga mereka diberi ketabahan dan kesabaran merawat beliau. Amin amin aminnnnn..! (Darminto M Sudarmo)

Malaysia Free Backlink ServicesFree Promotion LinkFree Smart Automatic BacklinkMAJLIS LINK: Do Follow BacklinkLink Portal Teks TVAutoBacklinkGratisjapanese instant free backlink Free Plugboard Link Banner ButtonFree Automatic Backlink Service

Friday, December 30, 2011

Wahyu Legendaris untuk Empat Pelawak

 Beberapa waktu lalu, pelawak Kang Ibing, pergi meninggalkan kita. Desember 2011, pelawak Aom Kusman, juga menyusul. Betapa bangsa ini sangat kehilangan orang-orang hebat yang menyegarkan udara negeri ini. Keduanya sama-sama pelawak berkelas yang kini makin sulit dicari penerusnya. Terkait judul di atas, karena tiga pelawak di bawah ini sudah terbaiat sebagai pemegang "Wahyu Legendaris" alias Gelar Maestro, maka kurang lebih setengah bulan saya mengadakan poling di facebook untuk meminta pendapat para pembaca bila Kang Ibing (sebelum Kang Aom meninggal) juga seharusnya layak mendapatkan apresiasi dan penghormatan itu, ternyata sambutan pembaca sangat mendukung. Sehingga tanpa mengurangi penghargaan dan dedikasi pelawak Aom Kusman, maka judul di atas itu menjadi lengkap, karena adanya tambahan seorang lagi yang tiada lain selain Kang Ibing.

***


BELUM jelas benar bagaimana kriterianya, tiba-tiba beredar gosip di kalangan terbatas yang mengatakan, bahwa tiga nama pelawak: Bing Slamet, S Bagyo dan Benyamin S; pantas menerima “gelar” legendaris sesuai dengan prestasi, dedikasi dan kontribusi mereka yang besar dalam dunia “kesenian”. Khususnya, seni lawak. Gelar yang dimaksud muncul secara rela hati tanpa rekayasa pihak mana pun. Itu terjadi karena turunnya semacam wahyu, yang membuat seseorang atau mereka bertiga dipilih oleh sejarah untuk menjadi sang maha bintang. Menjadi pemicu fenomena. Bahkan, pengobar optimisme.

Mengapa Bing Slamet, S Bagyo dan Benyamin S? Berhubung belum adanya semacam lembaga; walaupun lembaga Humor Indonesia dan Paguyuban Lawak Indonesia ada; yang secara spesifik mengkalkulasi prestasi, dedikasi dan kontribusi seseorang atau pelawak selama menjalankan kariernya, maka metode apresiasi yang dipilih pun berlangsung secara emosional. Terjadi, begitu saja. Pilihan kepada ketiga tokoh ini, tidak melewati perdebatan berbelit. Tidak melewati sidang-sidang. Cukup mengalir, sebagaimana mengalirnya gosip dan rumor yang bisa dianggap serius, bisa pula dianggap cuma guyon.

Bing Slamet, S Bagyo dan Benyamin S tergolong pelawak yang liat namun lembut dalam sosialisasi. Selama hidupnya banyak memberikan sentuhan dan inspirasi bagi kelompok yang lebih muda. Memberi tempat dan ruang untuk calon pengganti. Mereka tidak memonopoli fenomena. Dermawan dalam menyebarkan wabah optimisme. Mereka juga menyiapkan calon pengganti tanpa harus menampakkan diri, apalagi intervensi.


Pelajaran-pelajaran “besar” bagi yang muda, mereka berikan secara sederhana. Dengan menjalani fitrah sebagai manusia profesional. Tak pernah berhenti mencari, tak pernah puas menawarkan gagasan, tak pernah selesai dalam belajar. Tidak jumawa dan menganggap yang lain tak pernah ada. Setidaknya, demikian kesan umum yang bisa diagenda.

Dalam hidup mereka, jarang bisa dijumpai trik dan kegenitan akting dan PR (Public Relations), kecuali cara hidup yang tulus dan mensyukuri nikmat yang ada. Situasi demikian; pada zaman sekarang ini; mungkin semakin sulit kita jumpai. Menjadi orang yang rela hati terhadap pilihan-pilihannya sendiri, adalah persoalan yang tidak sederhana. Mereka, figur-figur yang konsisten, dalam duka maupun suka.


***

TANGGA-tangga karier yang mereka lewati, juga tidak sederhana. Tidak seperti wahyu yang jatuh dari langit kemudian dalam sekejap menyulap mereka menjadi manusia-manusia luar biasa. Pelawak-pelawak hebat dan serba bisa. Humoris-humoris tulen yang karya-karyanya memang sepadan. Mereka belajar dengan keras. Tapak demi tapak. Tak ada “kursi” kesenimanan yang bisa dicapai dengan jalan pintas, dengan instan, dengan karbitan lalu menempatkannya dalam singgasana keabadian. Karena kursi itu ada dalam diri pelawak itu sendiri. Tak bisa dibeli, tak bisa dimanipulasi.

Kesabaran dan kesadaran pada proses waktu, adalah pelajaran besar dan contoh besar yang mereka tinggalkan kepada kaum muda. Walaupun agak “pahit” untuk citarasa saat ini, kaum muda yang sedang meniti dan merangkak di karier yang sama, dapat menjadikannya sebagai katarsis atau apologia sesaat. Boleh saja ia menjadi semacam fatamorgana di keruncingan padang pasir; karena situasi dan tantangan sekarang mungkin lebih kompleks dan sulit dipeta; setidaknya, pengalaman-pengalaman para pendahulu masih menyisakan sebagian kearifan. Bahkan, harapan.

***

DI sisi lain, dunia perlawakan kita, dan humor pada umumnya, ditandai dengan kemiskinan tradisi literer. Ini sulit dibantah. Sangat tak sepadan dengan upaya karsa dan karya para seniman lawaknya. Banyak debut penting, yang hanya didokumentasi oleh pers atau kaset, video atau film layar lebar. Kadang tercecer, lalu terlupakan atau hilang ditelan oleh data baru. Upaya untuk melakukan kajian; menyangkut segi sosiohistorisnya; sama sekali belum dilakukan secara serius.


Buku tentang apa-siapa pelawak Amerika, Joe Franklin”s Encyclopedia of Comedians, misalnya, terdiri atas 348 halaman, mencatat dari Abbott dan Costello hingga Zacherley; bisa dibilang atau tergolong agak kuno. Cetakan kedua buku ini saja dicetak tahun 1979. Meskipun demikian, sebagai informasi dasar ia masih relevan. Komedian kondang seperti Bill Cosby, misalnya, yang saat ini diberitakan bayarannya melangit, saat itu (di buku) untuk tampil di klub malam, masih menerima sekitar 50.000 dollar hingga 100.000 dollar per minggu. Pemutakhiran (up dating) buku ini, memang sangat diperlukan agar berimbang dengan perkembangan paling baru.

Satu-satunya buku lawak di Indonesia, yakni tentang Teguh dan Srimulat, ditulis oleh Herry Gendut Janarto; yang ternyata merupakan upaya pendokumentasian dari tulisan bersambung, di media cetak. Lumayan. Sedemikian miskinnya tradisi apresiasi dan pendokumentasian seni lawak kita, hingga pelawak Qomar mengambil inisiatif dan hendak membukukan ensiklopedi para pelawak Indonesia itu dengan upaya sendiri.


Untunglah, tersiarnya upaya untuk membuat buku tentang “Apa Siapa Pelawak Indonesia” itu bukan sekadar guyon; mudah-mudahan sedang dalam proses dan segera rampung. Bahkan, buku tentang biografi (proses kreatif?) pelawak “Bagito” juga sedang dalam proses akhir. Tentu perlu diingatkan, para “master” lawak seperti Basiyo, Gepeng, Johny Gudel dan lain-lain yang masih hidup juga dipikirkan pendokumentasiannya. Bukankah untuk menghargai jasa seorang pelawak (Jaya Suprana, Media Minggu, 10 September 1995) tidak harus menunggu mereka jadi almarhum?

Betapapun, lembar demi lembar catatan perjalanan para pelawak, sangat penting artinya bagi sejarah kesenian lawak di Indonesia. Sebuah format profesi yang telah mengalami transformasi secara mencengangkan. Dari dilecehkan dan disia-siakan, menjadi sesuatu yang bereksistensi. Bahkan, bergengsi. Setidaknya, itu yang “dianggap” terjadi di negeri ini.


Sukses Merangkak Cara Pelawak


Syahdan, ini relung renik tentang nasib pelawak yang tertuang dalam buku berjudul “Bagito, Trio Pengusaha Tawa”.

Suatu malam medio tahun 1982. Gedung pertemuan Nyi Ageng Serang di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, menghentak gempita. Dari luar sebentar-sebentar gelegar tawa deras terdengar. Di pentas, tampak trio Warkop DKI: Dono, Kasino, Indro, tengah seru beraksi. Jenaka bukan main. Dari samping panggung, diam-diam sesosok pemuda berjaket biru lusuh menatap takjub ke arah pentas. Segala gerak-gerik Kasino dan kawan-kawan ia cermati dengan tuntas.
Pemuda ceking berambut awut-awutan itu, siapa lagi bila bukan Dedi Gumelar (Miing). Ia baru saja mem-pe-ha-kakan diri sebagai karyawan honorer Pemda DKI yang mengurusi arsip bangunan, dan kini praktis nganggur.
Panggung telah sepi. Dedi tak juga beranjak pergi. Ia lihat Kasino menggenggam segepok uang, lalu sibuk membagiratakan ke sejumlah stafnya. Tanpa canggung Dedi dekati dedengkot Warkop DKI itu. “Mas, gue... selembar dong,” ucapnya tiba-tiba seperti bercanda. Rada kaget Kasino pandangi pemuda tukang angkat-angkut (peralatan) itu, lantas ia sorongkan lembar puluhan ribu itu kepadanya.
Dengan nyengir Dedi lalu mengenalkan diri. “Mas Kasino, saya pengin banget belajar ngelawak sama Mas,” katanya agak terbata. Untuk kedua kalinya Kasino dikejutkan ulah dan ucap pemuda satu itu (hlm. 13-14).
***

Penggalan sebagian kisah di atas itu, bukan saja membuat “merinding” bulu kuduk saat membaca – karena merupakan momentum yang sangat tipikal – tetapi juga menjadi kunci dan peletak dasar nasib trio lawak Bagito yang sebelumnya terlunta-lunta, sehingga berhasil merebut fenomena sukses di kemudian hari. Titik menentukan itu di antaranya, karena Dedi (Miing) berani mengambil langkah ngenger atau ngawulo atau nyantrik pada Warkop DKI.
Ya. Kisah Bagito, baik sebelum maupun sesudah Hadi (Unang) bergabung, penuh dengan cucuran keringat dan air mata. Gambaran hidupnya di masa lalu sangat kontras dengan produk lelucon dan hiburan yang bisa dinikmati saat ini. Bagito, merangkak dari dasar penderitaan, dari bawahnya bawah. Mungkin tak banyak masyarakat umum bisa memahami, bila di balik gebyar tawa dan pekik hura para pelawak, komedian atau penghibur kondang sekalipun, acapkali tersimpan sebagian kenyataan hidup mereka yang amat menyelinap: tragedi dan kepiluan.
Membaca riwayat dan sebagian proses kreatif Bagito yang ditulis dengan pendekatan “manusiawi” ini terasa memperoleh banyak masukan dan inspirasi. Sedikitnya percikan “nilai” dan “kebajikan” universal. Potongan spirit yang membuat seseorang atau sekelompok orang bisa survive di zaman yang penuh persaingan keras.
Menurut penuturan penulis buku ini, Herry Gendut Janarto, Bagito sadar betul bahwa sebuah proses tidak kalah penting dari hasil. Mereka tak ingin cuma “memetik” tanpa lebih dulu “menanam”. Bagito bahkan meloloskan sebagian riwayat kesialan, kedunguan dan kepicikan yang pernah mereka lakukan muncul dalam buku ini. Suatu langkah yang amat hebat, mendahului sejumlah buku riwayat hidup yang seringkali hanya berkutat di atmosfer kebajikan dan basa-basi artifisial.
Adanya bunga rampai komentar dan tanggapan yang dijamin independen dari tokoh-tokoh Umar Kayam, Kris Biantoro, Arswendo Atmowiloto, N. Riantiarno, Marwah Daud Ibrahim, Ishadi SK, Jujuk Srimulat dan lain-lain, makin membuktikan iktikad penerbitan ini memang ingin memberikan semacam tawaran yang luwes bagi masyarakat luas.
Pembaca yang kurang akrab dengan istilah dan idiom Jawa atau asing (Inggris), mungkin sedikit terganggu keasyikan membacanya. Namun sebagai ritme lirik, tidak terlalu berlebihan mengapa penulis buku mengambil keputusan demikian. Dengan gaya penuturannya yang renyah dan akrab, sebenarnya penulis buku cukup punya kemampuan menggiring rasa ingin tahu pembaca.


***

Mengapa penerbitan buku Bagito – selain kelompok Srimulat – terkesan melompati Warkop DKI, para pelawak senior dan pendahulu? Jawaban ini jelas tidak sederhana. Warkop DKI, menurut penuturan Dono, merasa tidak enak (secara etis) bila inisiatif itu datang dari pihaknya. Sementara penerbitan biografi para pelawak pendahulu: Bing Slamet, Bagio, Benyamin S, Basiyo, Johny Gudel, Gepeng dan lain-lain hanya bisa terealisasi bila ada iktikad tulus dari pihak lain yang merasa punya kewajiban moral untuk membukukannya. Dan salah satu pilihannya adalah menerbitkan buku sejenis: apa-siapa pelawak Indonesia.

Arwah Setiawan tentang Srimulat




DI kalangan pencinta humor maupun para humoris, nama Arwah Setiawan*) sangat akrab. Figur yang satu ini, setidaknya bisa dibilang sebagai orang Indonesia “pertama” yang menyadari perlunya mendekati humor maupun berbagai gejala seputar humor dengan jurus-jurus ilmiah.
Maka tak aneh, ia kemudian mendirikan Lembaga Humor Indonesia (LHI) yang berkedudukan di Jakarta. Mengadakan serangkaian kegiatan yang di dalamnya sarat bernafaskan humor. Satu ciri yang menandai upayanya adalah munculnya corak humor jenis baru atau bernada subversif, eh, revolutif. Sehingga dibanding dengan corak-corak yang ada sebelumnya, corak humor yang lahir dari konsep Arwah Setiawan, sangat tampak perbedaannya.
Seperti misalnya ketika pada awal “operasi”-nya, LHI pernah mementaskan wayang humor dengan lakon “Ratu Jadi Petruk”. Kemudian ketika ia menjadi pengasuh majalah humor Astaga, banyak orang mengakui bahwa humor-humor yang lahir dari majalah itu masuk kategori humor bermutu. Terutama pada awal-awal edisinya.
Maka tak aneh, eksistensi seorang Arwah Setiawan sebagai konseptor maupun pengamat, sulit dicari tandingannya. Menurut pengakuannya, hingga kapan pun tak mungkin ia menjauh dari humor, karena humor merupakan salah satu iman hidupnya.
Berbagai jabatan pun pernah dipegangnya, baik ketika bekerja di USIS (Kedutaan Besar Amerika) maupun ketika mengelola majalah sebagai pemimpin redaksi. Bahkan salah satu kejutan yang sempat dibuatnya, ia pernah duduk sebagai redaktur pelaksana sebuah majalah paling serius di Indonesia, yakni majalah sastra Horison. Lalu bongkar pasang terus. Terakhir ia berkantor di Citra Audi Vistama (pelayanan profesional media audiovisual) sebagai kepala divisi kebudayaan, sementara yang duduk sebagai direktur utama perusahaan ini adalah Dwi Koendoro, kartunis jempolan Indonesia yang sering diidentikkan dengan Panji Koming.
Tulisan ini merangkum serangkaian wawancara dengan Arwah Setiawan di beberapa tempat dengan waktu nyaris tak terbatas. Baik ketika berlangsung di Wisma Seni TIM, Jakarta; di kantor Citra Audivistama; maupun ketika penulis berkesempatan menginap di rumahnya.
Salah satu isu yang cukup menarik belakangan ini, sekitar dunia perlawakan di Indonesia, tampaknya menjadi salah satu sentral perhatiannya; yakni, tentang Srimulat.
Tanya: Apa pendapat Anda tentang gejala yang ada di tubuh Srimulat (terutama unit Jakarta), apakah itu suatu indikasi kemunduran, kemandegan atau justru kemajuan?
Jawab: Tampaknya sulit mengelak untuk tidak mengatakan bahwa di tubuh Srimulat memang sedang menunjukkan gejala-gejala yang menuju ke arah kemunduran, sebagaimana yang diramalkan banyak orang. Karena orang dengan mudah mendeteksi tanda-tanda krisis itu; misalnya dengan gencarnya para pemain andalan (top star) yang keluar dari Srimulat. Karena dengan demikian nilai selling point dari produk yang akan dijual ke masyarakat mau tidak mau memang mengalami semacam penyusutan. Tetapi bagi saya, persoalannya tidak sesederhana itu. Ada masalah-masalah tertentu yang saling berkait sehingga sebagai sebuah gejala, keadaan yang ada di tubuh Srimulat itu banyak menyiratkan pelajaran berguna yang bisa dipetik oleh para pelawak maupun grup lawak lainnya.
T: Apa saja misalnya?
J: Saya melihat ada tiga masalah atau sebab-sebab mengapa Srimulat mengalami apa tadi? Oh ya, kemunduran (konon). Mungkin pula problemnya sama. Tidak hanya di Jakarta, tapi di unit-unit lainnya, seperti misalnya di Semarang, dan di Surabaya. Tiga masalah tadi, atau tiga faktor tadi menurut perkiraan saya, pertama faktor keseniannya itu sendiri. Jenis atau pola lawakan Srimulat itu berakar pada lawakan tradisional. Terutama dari segi bahasa, sehingga yang diungkapkan adalah lawakan kata-kata yang memakai dasar bahasa Jawa. Makin lama, Srimulat seperti dituntut untuk mengimbangi kebutuhan masyarakat yang lebih modern dan kosmopolitan. Kosmopolitan dalam arti bahasa itu bisa menjangkau atau punya nilai komunikasi luas. Lalu idiom-idiom tertentu, yang harus diadakan pergeseran, termasuk di antaranya subject matter-nya. Ini tidak otomatis bisa tumbuh hidup dan enak. Tidak otomatis para pemain bisa mengimbangi tuntutan tersebut. Akibatnya, bagi para pemain yang tidak bisa, tentu saja tidak menarik bagi para penonton.
Kedua, di bidang manajemennya, yang bermula dari corak non manajemen, artinya bertumpu pada sebuah figur god father atau seorang bapak, di mana ikatan anak buah terhadap atasannya lebih bersifat primordial loyality, atau loyalitas yang tidak saklek. Ikatan batin. Hal ini dengan makin terkenalnya Srimulat, maka Srimulat dituntut untuk otomatis mengorganisasi. Adanya penataan yang lebih sistematis dan kemudian manajemen keuangan. Ini tentu saja membutuhkan kiat atau ilmu tersendiri. Apalagi lokasinya semakin tersebar, Surabaya, Solo (dulu) dan kini Semarang serta Jakarta.
Dengan adanya kenyataan demikian, sistem ketergantungan terhadap seorang bapak, kurang relavan lagi. Paling tidak dituntut untuk mengadakan semacam pembagian tugas, pendelegasian. Kebetulan orang-orang yang terpilih untuk ini kebanyakan ipar-ipar Pak Teguh sendiri, dan mungkin bagi para pemain, sentuhan kepemimpinannya lain dengan yang dahulu ketika langsung ditangani Pak Teguh, sehingga agak menimbulkan rasa tidak puas dan sebagainya. Dengan kata lain, di bidang manajemen itu mengalami kemerosotan.
Ketiga, faktor yang ditentukan oleh hal-hal yang lebih bersifat ekstern. Misalnya soal job-job yang ditawarkan kepada para pemain/pelaku dengan imbalan yang lebih menarik dari segi finansial. Dengan adanya tawaran demikian, secara tidak sengaja lalu tumbuh semacam super starism. Lalu tercipta semacam level. Dan bagi para super star tadi setidaknya juga tergoda oleh keinginan untuk bisa memperoleh in come yang lebih. Dengan adanya pola manajemen yang kurang memuaskan, maka kenyataan ini merangsang bagi para “jagoan” tadi untuk keluar dari Srimulat. Ini merupakan salah satu contoh bentuk evolusi dari sebuah forma paguyuban (guyub) menjadi forma administratif. Sikap-sikap primordial loyality lama kelamaan makin terkikis oleh sikap yang lebih modern.
T: Namun demikian, salah satu kenyataan yang ada, para super star yang mencoba mandiri di luar dari Srimulat, ternyata toh tak juga menunjukkan kepesatan kemajuan. Malah beberapa di antaranya justru semakin tak jelas sosoknya. Mengapa bisa demikian?
J: Menurut saya, Pak Teguh memang sengaja mengemas Srimulat dengan versinya yang khas. Dan para super star yang keluar dari Srimulat banyak yang tidak menyadari, bahwa yang membuatnya hebat adalah sistem atau iklim yang ada di Srimulat itu sendiri. Bukan semata-mata capability atau kemampuan yang ada padanya.
T: Menurut Anda, apakah Srimulat (dalam semua unit) masih ada kans untuk mengawali masa kejayaannya lagi atau justru sedang siap-siap untuk pamit pada para penggemarnya?
J: Langkah-langkah yang bisa diambil, artinya secara teoritis. Apakah akan dilakukan atau tidak saya tidak tahu, andaikata akan dilakukan pun rasanya juga tidak mungkin. Salah satu hal yang menurut saya vital dilakukan adalah menaikkan penghasilan mereka. Atau paling tidak meskipun tidak sama dengan tarif job yang ada di luar, ya mendekati begitu. Hal ini dengan konsekuensi penonton juga harus meningkat. Ini bisa atau tidak? Langkah-langkah lain misalnya, Srimulat tak perlu mengadakan pengkaderan dengan cara mengambil pelawak-pelawak yang belum jadi. Andaikata akan diadakan pengkaderan pun seyogianya mengambil pelawak yang sudah jadi atau setengah jadi, sehingga upaya untuk menstabilkan citra atau selling point itu tidak perlu menunggu waktu yang terlalu lama. Misalnya mereka ambil Warkop, Jayakarta dan sebagainya. Bukan sebagai bintang tamu, tetapi sebagai karyawan. Jadi fungsi Srimulat sebagai label atau nama performance (di bidang karya grafis mirip fungsi syndicate; dms). Atau bila itu terlalu sulit, bikin saja dengan tidak berpretensi melayani penonton yang kosmopolitan. Kembali lagi dengan pola lawakan Srimulat semula. Yang menggunakan bahasa Jawa. Tentu saja dengan risiko cuma menjangkau khalayak yang lebih sempit. Atau ditinggalkan oleh penonton dari kalangan menengah ke atas.
T: Misalnya mengupayakan semacam pola lawak yang mengandung unsur eksperimental dan sebagainya, apakah ini bukan semacam nilai lain atau alternatif lain yang bisa ditawarkan agar membuat Srimulat bisa dilirik orang lagi?
J: Kalau melayani masyarakat kosmopolitan atau modern memang perlu. Tetapi kalau mengingat nilai instrinsik mereka apa bisa? Kalau saya melihat Srimulat, semuanya itu polanya Pak Teguh semua, ya begitulah Teguh. Media ekspresinya, maupun mimbar bagi kreasi-kreasinya.
T: Tentang perlawakan Indonesia, apakah Anda melihat sesuatu yang baru dan layak dilirik pada periode setengah dasa warsa ini?
J: Secara umum, belum ada yang begitu kuat dan menonjol. Itu bila meninjau lawak dari segi keseniannya. Tetapi dari segi hiburannya, banyak juga grup lawak yang cukup eksis di masyarakat.
T: Obsesi Anda tentang seni lawak Indonesia?
J: Adanya kesadaran menggali dan menampilkan hal-hal baru. Sehingga lawak tak sekadar sebagai ekspresi hiburan semata, tetapi seyogianya ada tanggung jawab berkeseniannya. Dan bila esensi ini dilakukan betul, barangkali orang baru sadar bahwa lawak atau humor itu benar-benar serius. (Darminto M Sudarmo_

*) Saat wawancara Arwah Setiawan masih hidup; beliau meninggal tahun 1995.

Pelawak Indonesia Popular

Pelawak Indonesia Popular