Ayo main

Sabar semua kebagian karcis.

Hidangan Pembuka

Asyiiiiiikkkkkkkkk

Nah gitu dong

Terimakasih terimakasih terimakasih

Gedung kesenian ya begini

Setiap aktris aktor atau bintang yang pernah tampil bangga

Apalagi

Mendapat tepuk tangan panjang dan penghargaan yang tak terlupakan

Friday, December 30, 2011

Arwah Setiawan tentang Srimulat




DI kalangan pencinta humor maupun para humoris, nama Arwah Setiawan*) sangat akrab. Figur yang satu ini, setidaknya bisa dibilang sebagai orang Indonesia “pertama” yang menyadari perlunya mendekati humor maupun berbagai gejala seputar humor dengan jurus-jurus ilmiah.
Maka tak aneh, ia kemudian mendirikan Lembaga Humor Indonesia (LHI) yang berkedudukan di Jakarta. Mengadakan serangkaian kegiatan yang di dalamnya sarat bernafaskan humor. Satu ciri yang menandai upayanya adalah munculnya corak humor jenis baru atau bernada subversif, eh, revolutif. Sehingga dibanding dengan corak-corak yang ada sebelumnya, corak humor yang lahir dari konsep Arwah Setiawan, sangat tampak perbedaannya.
Seperti misalnya ketika pada awal “operasi”-nya, LHI pernah mementaskan wayang humor dengan lakon “Ratu Jadi Petruk”. Kemudian ketika ia menjadi pengasuh majalah humor Astaga, banyak orang mengakui bahwa humor-humor yang lahir dari majalah itu masuk kategori humor bermutu. Terutama pada awal-awal edisinya.
Maka tak aneh, eksistensi seorang Arwah Setiawan sebagai konseptor maupun pengamat, sulit dicari tandingannya. Menurut pengakuannya, hingga kapan pun tak mungkin ia menjauh dari humor, karena humor merupakan salah satu iman hidupnya.
Berbagai jabatan pun pernah dipegangnya, baik ketika bekerja di USIS (Kedutaan Besar Amerika) maupun ketika mengelola majalah sebagai pemimpin redaksi. Bahkan salah satu kejutan yang sempat dibuatnya, ia pernah duduk sebagai redaktur pelaksana sebuah majalah paling serius di Indonesia, yakni majalah sastra Horison. Lalu bongkar pasang terus. Terakhir ia berkantor di Citra Audi Vistama (pelayanan profesional media audiovisual) sebagai kepala divisi kebudayaan, sementara yang duduk sebagai direktur utama perusahaan ini adalah Dwi Koendoro, kartunis jempolan Indonesia yang sering diidentikkan dengan Panji Koming.
Tulisan ini merangkum serangkaian wawancara dengan Arwah Setiawan di beberapa tempat dengan waktu nyaris tak terbatas. Baik ketika berlangsung di Wisma Seni TIM, Jakarta; di kantor Citra Audivistama; maupun ketika penulis berkesempatan menginap di rumahnya.
Salah satu isu yang cukup menarik belakangan ini, sekitar dunia perlawakan di Indonesia, tampaknya menjadi salah satu sentral perhatiannya; yakni, tentang Srimulat.
Tanya: Apa pendapat Anda tentang gejala yang ada di tubuh Srimulat (terutama unit Jakarta), apakah itu suatu indikasi kemunduran, kemandegan atau justru kemajuan?
Jawab: Tampaknya sulit mengelak untuk tidak mengatakan bahwa di tubuh Srimulat memang sedang menunjukkan gejala-gejala yang menuju ke arah kemunduran, sebagaimana yang diramalkan banyak orang. Karena orang dengan mudah mendeteksi tanda-tanda krisis itu; misalnya dengan gencarnya para pemain andalan (top star) yang keluar dari Srimulat. Karena dengan demikian nilai selling point dari produk yang akan dijual ke masyarakat mau tidak mau memang mengalami semacam penyusutan. Tetapi bagi saya, persoalannya tidak sesederhana itu. Ada masalah-masalah tertentu yang saling berkait sehingga sebagai sebuah gejala, keadaan yang ada di tubuh Srimulat itu banyak menyiratkan pelajaran berguna yang bisa dipetik oleh para pelawak maupun grup lawak lainnya.
T: Apa saja misalnya?
J: Saya melihat ada tiga masalah atau sebab-sebab mengapa Srimulat mengalami apa tadi? Oh ya, kemunduran (konon). Mungkin pula problemnya sama. Tidak hanya di Jakarta, tapi di unit-unit lainnya, seperti misalnya di Semarang, dan di Surabaya. Tiga masalah tadi, atau tiga faktor tadi menurut perkiraan saya, pertama faktor keseniannya itu sendiri. Jenis atau pola lawakan Srimulat itu berakar pada lawakan tradisional. Terutama dari segi bahasa, sehingga yang diungkapkan adalah lawakan kata-kata yang memakai dasar bahasa Jawa. Makin lama, Srimulat seperti dituntut untuk mengimbangi kebutuhan masyarakat yang lebih modern dan kosmopolitan. Kosmopolitan dalam arti bahasa itu bisa menjangkau atau punya nilai komunikasi luas. Lalu idiom-idiom tertentu, yang harus diadakan pergeseran, termasuk di antaranya subject matter-nya. Ini tidak otomatis bisa tumbuh hidup dan enak. Tidak otomatis para pemain bisa mengimbangi tuntutan tersebut. Akibatnya, bagi para pemain yang tidak bisa, tentu saja tidak menarik bagi para penonton.
Kedua, di bidang manajemennya, yang bermula dari corak non manajemen, artinya bertumpu pada sebuah figur god father atau seorang bapak, di mana ikatan anak buah terhadap atasannya lebih bersifat primordial loyality, atau loyalitas yang tidak saklek. Ikatan batin. Hal ini dengan makin terkenalnya Srimulat, maka Srimulat dituntut untuk otomatis mengorganisasi. Adanya penataan yang lebih sistematis dan kemudian manajemen keuangan. Ini tentu saja membutuhkan kiat atau ilmu tersendiri. Apalagi lokasinya semakin tersebar, Surabaya, Solo (dulu) dan kini Semarang serta Jakarta.
Dengan adanya kenyataan demikian, sistem ketergantungan terhadap seorang bapak, kurang relavan lagi. Paling tidak dituntut untuk mengadakan semacam pembagian tugas, pendelegasian. Kebetulan orang-orang yang terpilih untuk ini kebanyakan ipar-ipar Pak Teguh sendiri, dan mungkin bagi para pemain, sentuhan kepemimpinannya lain dengan yang dahulu ketika langsung ditangani Pak Teguh, sehingga agak menimbulkan rasa tidak puas dan sebagainya. Dengan kata lain, di bidang manajemen itu mengalami kemerosotan.
Ketiga, faktor yang ditentukan oleh hal-hal yang lebih bersifat ekstern. Misalnya soal job-job yang ditawarkan kepada para pemain/pelaku dengan imbalan yang lebih menarik dari segi finansial. Dengan adanya tawaran demikian, secara tidak sengaja lalu tumbuh semacam super starism. Lalu tercipta semacam level. Dan bagi para super star tadi setidaknya juga tergoda oleh keinginan untuk bisa memperoleh in come yang lebih. Dengan adanya pola manajemen yang kurang memuaskan, maka kenyataan ini merangsang bagi para “jagoan” tadi untuk keluar dari Srimulat. Ini merupakan salah satu contoh bentuk evolusi dari sebuah forma paguyuban (guyub) menjadi forma administratif. Sikap-sikap primordial loyality lama kelamaan makin terkikis oleh sikap yang lebih modern.
T: Namun demikian, salah satu kenyataan yang ada, para super star yang mencoba mandiri di luar dari Srimulat, ternyata toh tak juga menunjukkan kepesatan kemajuan. Malah beberapa di antaranya justru semakin tak jelas sosoknya. Mengapa bisa demikian?
J: Menurut saya, Pak Teguh memang sengaja mengemas Srimulat dengan versinya yang khas. Dan para super star yang keluar dari Srimulat banyak yang tidak menyadari, bahwa yang membuatnya hebat adalah sistem atau iklim yang ada di Srimulat itu sendiri. Bukan semata-mata capability atau kemampuan yang ada padanya.
T: Menurut Anda, apakah Srimulat (dalam semua unit) masih ada kans untuk mengawali masa kejayaannya lagi atau justru sedang siap-siap untuk pamit pada para penggemarnya?
J: Langkah-langkah yang bisa diambil, artinya secara teoritis. Apakah akan dilakukan atau tidak saya tidak tahu, andaikata akan dilakukan pun rasanya juga tidak mungkin. Salah satu hal yang menurut saya vital dilakukan adalah menaikkan penghasilan mereka. Atau paling tidak meskipun tidak sama dengan tarif job yang ada di luar, ya mendekati begitu. Hal ini dengan konsekuensi penonton juga harus meningkat. Ini bisa atau tidak? Langkah-langkah lain misalnya, Srimulat tak perlu mengadakan pengkaderan dengan cara mengambil pelawak-pelawak yang belum jadi. Andaikata akan diadakan pengkaderan pun seyogianya mengambil pelawak yang sudah jadi atau setengah jadi, sehingga upaya untuk menstabilkan citra atau selling point itu tidak perlu menunggu waktu yang terlalu lama. Misalnya mereka ambil Warkop, Jayakarta dan sebagainya. Bukan sebagai bintang tamu, tetapi sebagai karyawan. Jadi fungsi Srimulat sebagai label atau nama performance (di bidang karya grafis mirip fungsi syndicate; dms). Atau bila itu terlalu sulit, bikin saja dengan tidak berpretensi melayani penonton yang kosmopolitan. Kembali lagi dengan pola lawakan Srimulat semula. Yang menggunakan bahasa Jawa. Tentu saja dengan risiko cuma menjangkau khalayak yang lebih sempit. Atau ditinggalkan oleh penonton dari kalangan menengah ke atas.
T: Misalnya mengupayakan semacam pola lawak yang mengandung unsur eksperimental dan sebagainya, apakah ini bukan semacam nilai lain atau alternatif lain yang bisa ditawarkan agar membuat Srimulat bisa dilirik orang lagi?
J: Kalau melayani masyarakat kosmopolitan atau modern memang perlu. Tetapi kalau mengingat nilai instrinsik mereka apa bisa? Kalau saya melihat Srimulat, semuanya itu polanya Pak Teguh semua, ya begitulah Teguh. Media ekspresinya, maupun mimbar bagi kreasi-kreasinya.
T: Tentang perlawakan Indonesia, apakah Anda melihat sesuatu yang baru dan layak dilirik pada periode setengah dasa warsa ini?
J: Secara umum, belum ada yang begitu kuat dan menonjol. Itu bila meninjau lawak dari segi keseniannya. Tetapi dari segi hiburannya, banyak juga grup lawak yang cukup eksis di masyarakat.
T: Obsesi Anda tentang seni lawak Indonesia?
J: Adanya kesadaran menggali dan menampilkan hal-hal baru. Sehingga lawak tak sekadar sebagai ekspresi hiburan semata, tetapi seyogianya ada tanggung jawab berkeseniannya. Dan bila esensi ini dilakukan betul, barangkali orang baru sadar bahwa lawak atau humor itu benar-benar serius. (Darminto M Sudarmo_

*) Saat wawancara Arwah Setiawan masih hidup; beliau meninggal tahun 1995.

Naskah dan Literatur Komedi



SEORANG pengamat tayangan TV pernah merekomendasikan buku Comedy Writing Secrets, tulisan Melvin Helitzer, tergolong bagus untuk pedoman penulisan naskah humor TV. Dalam hati saya: mudah-mudahan, betul.
Buku yang lumayan tebal dan terdiri 19 bab ini memang menyajikan gambaran yang (nyaris) menyeluruh tentang seluk-beluk rahasia penulisan humor. Tetapi, kalau dengan buku itu seorang penulis naskah komedi langsung bisa bermain dan menghasilkan karya sebagus naskah komedi TV Amerika Serikat, misalnya, maka itulah yang disebut: sekali tepuk dua lalat.
Memang harus diakui, manfaat referensi; umum atau spesifik; sungguh penting untuk dunia humor sebagai cabang kesenian yang masih bertanda petik dalam wacana perilmiahan. Nah, berkaitan dengan semangat itu, tak ada salahnya mengintip buku-buku berikut. Setidaknya, ini menjadi pelengkap atau malah “pedoman” vital bagi dunia penulisan komedi.
Simak saja: Comedy Techniques for Writes and Performers tulisan Melvin Helitzer juga; ada pula How the Great Comedy Writers Great Laughter oleh Larry Wilde. Atau kalau mau lebih tajam dan tune in, tidak berdosa menyantap Movie Comedy tulisan Stuart Byron dan Elizabeth Weis.
Harap diingat, muatan materi dari buku-buku tersebut tidak otomatis menyulap Anda menjadi penulis komedi TV/film yang jempolan! Ibarat kata, teori-teori itu baru membangkitkan kemampuan “manajerial”, sistematika dan disiplin analisis otak bagian kiri Anda. Otak bagian kanan, yang memiliki berjuta kegilaan, “kecerdasan”, kreativitas, dan keliaran tanpa batas, tetap membutuhkan waktu dan tempaan tersendiri supaya terampil.
Ngomong-ngomong, lalu mana peran literatur asal negeri awak? Ini pertanyaan menarik. Jangankan untuk memperoleh bahan tentang metodologi seni melawak di panggung, sinetron dan film, untuk mencari peta sejarah perlawakan di bumi Nusantara tercinta ini pun, sulitnya cukup menggigit tulang menyerap sumsum. Ada sebuah buku tentang “Teguh dan Srimulat” tulisan Herry Gendut Janarto; namun, sentuhannya sangat khusus dan terbatas.
Tradisi lawak atau bebodoran atau punakawan-an yang ada pada kita adalah warisan yang ditularkan secara oral; secara learning by doing. Maka tak heran, kalau pada sekitar 1983, ketika saya menanyakan pada Indro Warkop tentang kemungkinan diadakan sekolah lawak di Indonesia, langsung disambut dengan jawaban: tidak mungkin! Alasannya, lawak di Indonesia lebih banyak muncul karena bakat alam dan panggilan jiwa. Setidaknya, pendapat serupa juga diyakini oleh pelawak-pelawak lain.
Apa teori tidak penting? Tentu saja penting. Hanya saja, yang terjadi di negeri kita, proses pemindahan “ilmu” itu terproyeksi secara oral, langsung dalam pengalaman. Mungkin ini sejalan dengan lingkungan tumbuhnya seni lawak itu sendiri, yaitu lewat kelompok: ketoprak, wayang orang, sandiwara permanen, bahkan sandiwara keliling. Apalagi, manajemen yang diterapkan dalam gurup-grup itu lebih banyak menganut forma paguyuban. Sangat kontras dengan beberapa grup yang ada di negeri asing, yang sejak awal sudah menyadari pentingnya sistem atau forma administratif.
Lawak panggung, TV, film, memang ada bedanya? Mungkin hanya disiplin teknis yang membedakan. Namun, kebiasaan berkarya dalam jalur “spesialisasi”, baik panggung, TV, maupun film tetap mengundang risiko nilai kurang dan nilai lebih. Sebuah grup yang terbiasa dengan konsep nonskrip (tanpa naskah), tetap memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan “lakon” atau “laga” yang menggunakan konsep atau skenario. Demikian pula sebaliknya.
Akhirnya, baik jalur spesialisasi maupun campur (umum) tak akan pernah menjanjikan semangat lestari dan survival kalau mengabaikan pentingnya visi, strategi, konsep, perencanaan, persiapan, dan sejenisnya. Persiapan naskah, untuk tradisi sebagian lawak kita, memang tidak otomatis dalam bentuk tertulis. Bisa saja dalam bentuk diskusi yang kemudian berlanjut ke pembagian peran dan penyimpanan “ide” di dalam kepala masing-masing.
So, apa pun dalihnya, persiapan dalam bentuk naskah atau “naskah”, tetap penting. Ini perlu diingatkan supaya jangan sampai terjadi sebuah grup yang sudah kesohor justru meninggalkan penggemarnya karena paceklik ide dan kekeringan kreasi. Alangkah terbatasnya lingkungan pergaulan kreativitas grup yang kayak gitu. Seingat saya, di Indonesia kagak ada deh. Percayalah. (Darminto M Sudarmo)

Teknik dan Strategi dalam Melawak



TAK terasa posisi seni lawak semakin mantap menghuni bumi negeri ini, menjadi semacam bentuk kesenian yang punya daya pikat tersendiri. Bentuk kesenian ini, bukan saja digemari oleh kaum muda, tua, anak-anak, tetapi juga oleh individu maupun kelompok dari berbagai satus sosial yang beragam.
Mengapa seni lawak digemari? Sederhana jawabannya: sebagai tontonan, lawak memang memiliki unsur hiburan yang padat. Penuh kelucuan di samping sisi-sisi lain yang mampu membikin penikmat terpenuhi harapan.
Tentu saja harapan yang dimaksud di sini adalah harapan yang umumnya berisi khayalan kosong atau berlebihan. Lewat media lawak, imej, dan emosi penikmat diajak melambung atau berpesiar ke berbagai pengalaman gembirawi. Sehingga segala hal yang tampaknya tak masuk akal, bakal memperoleh penyaluran rasa dan hasrat lewat permainan multi rasio sang pelawak.
Manfaat seni lawak sudah tentu tak bisa diragukan lagi, yakni sebagai pelepas ketegangan. Adakalanya emosi dan hasrat-hasrat kita yang terpendam perlu sesekali kita manjakan (sebatas dosis yang sehat) supaya keseimbangan mental dan fisik dapat tercapai secara proporsional.
Kenyataan-kenyataan inilah yang mendasari, mengapa seni lawak digemari masyarakat. Bagaimanapun seni lawak hampir identik dengan kondisi kegembiraan itu sendiri. Sebuah kondisi yang sanggup membuat manusia sejenak melupakan urusan dunia yang terus membelit. Keajaiban-keajaiban yang terus bertimbun. Tekanan-tekanan yang terus menghimpit! Pendek kata, seseorang butuh dalam hidupnya (meski hanya sekali) bisa lepas dan bebas dari berbagai rongrongan psikologis dan kesulitan hidup.
Lawak adalah seni suguh; yang bisa divisualkan lewat berbagai media, di antaranya media pandang-dengar (panggung, televisi, film, dan sebagainya), media pandang saja (pantomim), media dengar saja (rekaman cassete, radio, dan sebagainya), maupun via media tulis (buku, koran, tabloid dan sebagainya).
Menurut para ahli, seni pertunjukan lawak akan disebut berhasil bila mampu menghadirkan suasana lucu bagi para penikmatnya. Di samping lawak itu sendiri mengandung hal-hal seperti: unsur kebaruannya menonjol (olah kreasi), berdaya kejut dan berdaya cegat (unsur sensasional) materi yang dibawakan mengandung segi-segi pendidikan (unsur edukatif), mampu menghadirkan persoalan atau problematika yang merangsang penikmat untuk berpikir (olah intelejensia), dan peka terhadap kondisi di sekitarnya (kontrol dan kritik sosial).

Kaidah
Sebagai seni yang pengekspresiannya memerlukan berbagai media, maka tak bisa dielakkan bahwa seni lawak butuh dan harus patuh pada kaidah-kaidah yang ada dalam media itu sendiri. Pada media pandang-dengar (panggung misalnya), maka lawak itu harus berurusan dengan kaidah-kaidah seni panggung (pentas) pada umumnya. Misalnya bagaimana pelawak harus muncul pertama kali; harus mengatur bloking, mengatur intonasi suara, harus diam ketika yang lain bicara, harus menembakkan lelucon pada saat yang tepat, dan harus mengakhiri dengan kejutan yang menggegerkan!
Sikap teatral yang berhasil adalah bila sang pelawak (demikian pula sang dramawan) mampu menampilkan sosok (karakter) dirinya secara jelas. Mungkin lewat permainan jeda yang benar atau strategi menyiasati kondisi panggung (teknik bloking) secara cerdik. Dalam hal ini sangat dibutuhkan kreativitas sang pelawak itu sendiri. Kemampuan berimprovisasi dan berspontan secara kaya, akan semakin memberi kans besar kemungkinan sang pelawak menguasai suasana dan massa penontonnya.
Jika fase ini mampu dilampaui dengan mulus, bukan berarti hasil akhir yang bernama sukses bisa dijamin. Sebab masih berderet kewajiban bagi sang pelawak untuk mampu mempertahankan suasana “gayeng” itu scara utuh dan total. Dalam hal ini, sutradara harus pandai-pandai bersiasat. Jika dalam suasana demikian hendak dihadirkan partner main lain, maka di samping ketangguhan materi yang hendak dilemparkan ke penonton satu hal yang paling penting dan tak boleh dilupakan adalah penggalangan kerjasama secara manis dan pas.
Sebab bila seluruh pemain hendak memaksa diri untuk bisa melucu sebanyak-banyaknya, sementara jeda dan gilir tampil atau bicara tidak disiapkan dengan matang, yang ada justru suasana yang gaduh dan kacau. Materi yang dilempar tak mengesankan satu kesatuan yang utuh dan terpusat, melainkan cerai-berai. Bahkan boleh jadi berantakan!
Kaidah lain mengenai materi lawak itu sendiri yang perlu menjadi catatan, yaitu pantang sekali bagi sang pelawak untuk mengulang dua kali atau lebih materi atau suasana mood yang berhasil mendatangkan gelak. Ibaratnya minum kopi, bila secangkir telah habis kita reguk bakal terasa hambar jika kita jerang lagi untuk kemudian kita suguhkan kedua kalinya. Kesalahan yang banyak dilakukan oleh para pelawak. Pasalnya sederhana, mereka menganggap penikmat belum jelas. Karena itu mereka perlu menjelas-jelaskan lagi.
Seni lawak bukan ceramah atau pidato. Celaka sekali bila pelawak terperosok dalam anggapan yang keliru ini. Pada seni humor secara umum, sesuatu yang hadir secara sembunyi atau berkesan tak jelas (sengaja disembunyikan) justru merupakan suasana yang mampu mengundang bagi sang penikmat untuk berpikir. Dan bila para penikmat itu telah sanggup memecahkan kelucuan atas usaha dan jerih payahnya sendiri (tergantung pula pada IQ dan referensi sang penikmat), maka tawa dan gelak yang dimunculkan adalah gelak dan tawa yang benar-benar mengesankan. Terutama bagi penikmat itu sendiri. Ya, makna sebenarnya dari rekreasi adalah penciptaan kembali, kata Arthur Koestler.
Kemampuan berefleksi para penikmat terhadap kelucuan yang dihidangkan memang berbeda-beda. Tergantung pada kemampuan kerja otak dan kekayaan referensi yang dimiliki. Ada penikmat yang responsif, ada pula yang lambat. Kendati demikian, bila mereka menemukan kelucuan atas dasar upaya sendiri (biar lambat atau cepat) maka kesan yang mengendap, tingkat kepuasan yang diperoleh dan sebagaimana akan berbeda bila kelucuan itu diperoleh karena disodorkan atau dijelaskan oleh pelawaknya.

Strategi
Strategi yang dimaksudkan di sini adalah upaya para pelawak dalam beradaptasi dengan lingkungan di tempat mereka hendak melawak. Terutama kaitannya dengan arah topik atau tema yang hendak diangkat. Akan sangat menguntungkan bagi si pelawak jika ia mau mengangkat topik yang sudah akrab dengan masyarakat setempat atau konteks dengan situasi dan kondisi yang ada.
Lain soal bila masyarakat penontonnya heterogen, maka pelawak harus telah mempersiapkan segala sesuatunya jauh-jauh waktu sebelum melakukan pertunjukan . Pemilihan topik pun harus jeli. Bisa saja mengambil jalan tengah; separo lawakan bertopik universal dan separonya lagi mengangkat topik yang diperkirakan memuat idiom-idiom lokal.
Karena itu, dari gambaran di atas jelas bagi kita bahwa profesi di bidang seni lawak mengandung risiko yang tidak kecil. Bila mereka tak tahan banting, maka sudah jelas nasib seperti apa yang akan menjemput mereka di depan nanti.
Maka sungguh menarik ucapan salah seorang pelawak terkenal negeri ini, ia dan kelompoknya tak akan pernah berhenti belajar karena memang tak ingin ditinggalkan penggemar mereka.
Hubungan otak manusia dan ide, jangan-jangan tak beda kendi dan air. Bila kendi itu sudah kehabisan air, maka tugas yang harus dilakukan adalah mengisinya lagi. Demikian pula soal pelawak. Bila ia sudah sudah kehabisan ide, maka salah satu tindakan bijaksana yang harus dilakukannya adalah belajar.

Pelawak
Manusia macam apa dia? Siapakah yang bisa menjadi pelawak? Bagaimana rasanya menjadi pelawak?
Para ahli menyebut pelawak adalah orang yang melankolik dan suram. Mereka membuat orang lain ketawa dan tergelak, tetapi dirinya sendiri tak pernah tertawa. Pelawak yang tertawa karena leluconnya sendiri, tidak mengerti profesinya.
Para pelawak yang sudah mencapai tingkat seniman, juga tak beda dengan para seniman atau kreator seni lain. Sering dihuni perasan gelisah, resah, ragu-ragu, tak menentu, jika sesekali lolos dari keseimbangan jiwanya (kadar kecil), lalu tanpa sadar, terekspresi dalam tingkah laku fisik; maka tafsiran orang tentang dirinya pun, lalu macam-macam. Ada yang menyebutnya nyentrik; ada yang mengatakan sombong, dan ada pula yang menuduhnya tak waras. Meskipun “rongrongan” dari dalam demikian laten dan cukup menyiksa, tetapi pada umumnya para seniman ini dapat mengendalikan diri.
Penyair Inggris J. Keats menyebut kegelisahan yang tak bisa ditolak oleh para seniman itu sebagai negative capability. Sebuah kondisi yang justru sangat dibutuhkan dan baik bagi mereka. Sebab dari keadaan seperti itulah sesungguhnya yang membuat mereka menjadi subur dalam berkreasi dan mencipta.
Seorang pelawak besar memang lahir karena bakat besar. Tetapi bakat besar tanpa ditunjang teknik, pengarahan dan momentum yang sesuai, bisa-bisa malah tidak jadi apa-apa. Pesan Thomas Alva Edison tetap relevan sepanjang zaman; untuk sukses, dia hanya perlu 1% bakat, tapi 99% kerja keras. Nah! Memang dikiranya pelawak boleh enak-enak? (Darminto M Sudarmo)

Halo Seni Lawak Indonesia?



SEBAGAI bagian dari seni suguh, lawak dipandang sebagai bentuk pertunjukan yang cukup ampuh. Dalam arti mampu menyedot penonton dan bahkan, dicari penonton. Selama ini, ketika seni lawak dikemas dalam bentuk “paket” acara di TVRI, para penonton selalu menyiapkan diri untuk dapat menikmatinya. Demikian pula halnya ketika dikemas dalam bentuk sajian film, atau rekaman kaset.
Di Indonesia, popularitas seni lawak memiliki sejarah yang khas. Paling tidak ada suatu era yang mengawali iklim seperti itu. Misalnya, ketika Bing Slamet bersama Kwartet Jaya-nya sempat malang-melintang di kancah pertunjukan atau film Indonesia, satu tahapan bahwa pamor seni lawak mulai diperhitungkan secara serius. Di samping itu, era tersebut juga memancing tumbuhnya grup lawak baru yang kemudian mampu eksis di mata penonton. Bahkan ada pula sementara personal lawak yang nekad menjadi single fighter. Menjelajah karier seorang diri.
Kejayaan grup Bing Slamet Cs, memberikan inspirasi besar bagi kemunculan grup-grup lawak baru; maka kemudian muncul grup-grup seperti Bagio Cs, Warkop, Kwartet S, dan sekian grup lain yang kehadirannya ternyata juga mampu merebut hati penonton.
Tetapi, bahwa grup-grup lawak itu kemudian sarat dinamika dan perubahan, makin menarik untuk diamati. Bongkar pasang formasi, “migrasi” anggota dari satu grup ke grup lain, adalah fakta yang harus dilihat dengan bijak dan penuh rasa maklum. Proses berorganisasi, bagi mereka, memerlukan waktu dan pembelajaran.

Manajemen dan Kualitas
Ada sementara dugaan yang mengatakan bahwa kondisi demikian karena kurang profesionalnya pengelolaan manajemen; ada pula yang beranggapan karena secara kualitatif, grup-grup itu sudah surut pamornya. Setidaknya frequensi hadir mereka kepada publik semakin menurun. Grup-grup potensial seperti De Kabayan, Srimulat, menghadapi kondisi yang tak jauh dari dugaan itu. Srimulat (Jakarta) yang belakangan ini banyak ditinggalkan oleh pemain-pemain andalannya, harus merasakan repotnya karena munculnya fenomena yang cukup merisaukan tersebut.
Bila ada sementara grup yang di TVRI masih aktif mengunjungi publik, seperti Jayakarta Grup, De Bodor, Tom Tam dan sebagainya, memang mengembirakan bila ditilik dari sisi produktivitas mereka. Namun demikian secara kualitatif, orang menangkap bahwa tema atau gagasan yang disampaikan oleh grup-grup tersebut hanya memenuhi target rutinitas.
Gagasan mereka belum memunculkan tawaran-tawaran yang menggebrak publik. Demikian pula Grup Ria Jenaka yang muncul di TVRI setiap Minggu siang; lebih banyk terjebak pada warna sponsor yang sangat dominan. Kita sulit membedakan itu sajian lawak atau penerangan.
Memasukkan pesan-pesan tertentu dalam pertunjukan lawak, boleh saja selama kreator mampu mengemas isi tanpa harus mengorbankan estetika; tanpa harus mengesampingkan bobot humornya. Bahkan dari dialog yang muncul acapkali kita dibuat bingung; terutama tentang satria culun yang omongannya agak kolokan itu bernama Lesmono Mondrokumoro atau Lesnomo Mondrokumoro. Sebab beberapa kemunculan Ria Jenaka, nama Lesmono lebih banyak diucapkan Nomo ketimbang Mono.

Kreativitas Digugat
Sebenarnya, bila kita mau sedikit berendah hati, prospek seni lawak Indonesia dapat “disiasati” dengan berbagai cara dan pilihan. Salah satu contoh misalnya, ini sekadar wacana, dalam film Kejarlah Daku Kau Kutangkap yang diperankan oleh personal-personal bukan pelawak tetapi justru mampu menghasilkan produk yang sarat lelucon dan “tinggi” mutu. Sudah selayaknya bila kita bertanya, bagaimana hal yang tampaknya mustahil itu bisa terjadi?
Mustahil? Tentu saja, mereka bukan pelawak tetapi dapat melucu demikian bagus; bagaimana mungkin? Mungkin saja. Melucu itu bukan monopoli pelawak. Bukan pelawak juga dapat melucu asalkan ada skenario yang lucu dan pengarahan sutradara yang tepat.
Improvisasi dalam seni lawak, tidak jelek. Bahkan ia menjadi semacam kekuatan. Tetapi dalam kenyataannya, improvisasi yang baik, yang cerdas, yang tepat timing, selalu lahir dari pelawak yang rakus belajar (akses materi). Tak mungkin pelawak dapat memberi sesuatu yang dia sendiri tidak punya. Oleh karena itu, kata belajar atau akses materi, dari mana pun sumbernya (membaca, menonton, mendengar orang lain, mengamati sesuatu, menganalisa gejala di lingkungan sekitar dan sebagainya). Dalam bahasa yang sangat banal dikatakan, bagaimana ente bisa buang hajat jika sehari-hari kagak pernah nyantap makanan?
Siasat yang lain, belajar pada seni teater. Terutama teater modern yang lebih toleran mengaktualisasikan unsur gerak, lighting, musik, dan properti lainnya. Unsur-unsur ini bisa disentuh untuk kepentingan humor. Lewat berbagai siasat dan kreasi sutradara atau pembuat skrip. Obyek yang bisa dioptimalkan untuk kepentingan humor tak hanya terpancang pada unsur cerita dan verbal saja, tetapi lebih kaya dari itu.
Paduan teknik teater dengan seni lawak “tulen”, akan menghasilkan bentuk sajian yang beragam dan berdimensi ganda. Hal ini mengingatkan kita bagaimana sebuah humor kartun dilahirkan, yang dapat mengeksplorasi obyek secara tak terbatas itu.
Hal lain yang perlu dimaklumi, grup lawak itu harus mengerti pentingnya fungsi sutradara yang akan mengolah bukan saja masalah estetika tetapi juga unsur-unsur lain yang terkait dengan lelucon. Bagi yang mengerti, peran sutradara itu akan sangat membantu, bukan malah menjadi beban, sebagaimana yang sering disalahpahami oleh sementara pihak. Apalagi bila grup tersebut secara “jiwa besar” mau pula melibatkan bintang-bintang tamu, yang akan memberi kesan kesegaran tersendiri kepada penikmat.
Kerja serius dalam seni lawak memang sudah seharusnya dimulai. Masyarakat sudah terlalu toleran menghargai kehadirannya, sekaligus dengan penghargaan finansial yang mahal. Bila para pelawak, kreator humor yang berkaitan erat dengan seni lawak tahu diri, sudah saatnya “melayani” penikmat dan masyarakat penonton dengan imbangan “mutu” yang selayaknya. Sekaligus pula memulai masa “era” baru dalam bidang seni suguh. (Darminto M Sudarmo)

Wednesday, December 28, 2011

Mengenal Terminologi Seputar Stand Up Comedy


Dane Cook, seorang Comic
Belajar Stand Up Comedy Yuk!
Rekan-rekan penggemar stand up comedy, tulisan ini hanya sekadar warming up untuk menjawab rekan-rekan muda yang punya minat besar pada kesenian ini tapi mereka gamang, sepertinya kesenian itu hanya milik sejumlah “elit stand up comedy founder di Indonesia”, seakan-akan dengan menebar terminologi yang serba Inggris minded, kesenian ini hanya layak dimainkan oleh orang-orang khusus dan gaul .... tidak, tidak. Siapapun anda, muda-tua-nenek2-kakek2, selama pikiran anda terbuka, bertenggangrasa terhadap perbedaan, punya rasa humor yang baik, mengapa tidak? Bahkan beberapa comic kelas dahsyat di AS, justru orang-orang gaek, karena hidupnya sudah komplet, ilmunya matang dan wawasannya luas dan mendalam sehingga out put karyanya juga oke banget.  Wacana ini hanya menyentuh di relung dasar dari ilmu stand up itu sendiri. Kalau ada istilah basic, maka yang ini pre-basic; sesudah itu bagi anda yang ingin mencapai tahapan advance, silakan melakukan pembelajaran diri, karena sumber belajar di zaman kini terbuka seluas langit sedalam samodra, so enjoy yourself! (dms)

Be able to develop stand-up comedy skills and techniques....
(Gimana sih cara tampil yang oke di stand up comedy?)

·         Physical, vocal and acting skills: body language; characterisation; microphone techniques; vocal and physical exaggeration; timing; style of delivery; stagecraft; stage presence.

·         Comedy technique: eg audience interaction, heckling, observation skills, set-up and payoff, satire, mimicry, solo material and sketch writing, opening patter, delivery, rant-and-rave technique, formula gag.

·         Tubuh, vokal dan akting, meliputi: bahasa tubuh, karakterisasi {gaya  pribadi}, teknik pegang mikrofon, olah vokal dan fisik (lebay, ekspresif, pokoknya yang bisa menarik perhatian), manage waktu, gaya penyampaian, kepandaian menyajikan fragmen2/suspen2/joke2 kecil; dan teknik muncul di panggung.

·         Teknik melucu, meliputi: interaksi dengan penonton misalnya dengan melempar teka-teki, meminta komen, menjadikannya sebagai contoh kasus dsb pokoknya disesuaikan situasi dan kondisi, mengejek, (saran saya –dms – untuk kultur Indonesia sebaiknya mempertimbangkan ajaran Charlie Chaplin berikut ini: kalau anda ingin mempermainkan seseorang, maka orang itu sebaiknya orang yang saat itu berada di posisi kuat, pongah, arogan atau sewenang-wenang....), melakukan observasi (tentu dengan analisis yang mengejutkan/miring/sodrun, pokoknya baru dan beda), set-up dan hasil (membangun suasana lelucon hingga mencapai titik ledak) , satir (humor pahit dan penuh sindiran), mimikri (meniru lalu memplesetkan obyek yg ditiru), menyiapkan sendiri baik garis besar cerita maupun materi lelucon, sampaikan (opening) dengan cepat, luncurkan lelucon secara taktis dan mempertimbangkan sikon, pintar2 menggunakan teknik mengomel-dan memuji, resep melucu tiap comic mungkin beda-beda, jadi yakin pada metode anda sendiri.

Be able to select, develop and refine stand-up comedy material
(Gimana cara mengembangkan dan menyempurnakan materi stand-up komedi)

  • Stimulus: explore ideas related to sources eg text, props, pictures, found objects, music, voice, song, words, stories, masks, costume, poetry, paintings, sculpture, buildings, topical events, news
  • Manipulation: use of words; action and movement combined; technical involvement; other media eg live sound and recorded sound, multi-media
  • Development: taught material; original material; motifs; themes; physical style
  • Create: devise; adapt; experiment; rehearse; appraise; test; modify
  • Context: nature of material; potential audience; types/functions of venues; formal/informal relationship
  • Constraints: health and safety; copyright; legal; technical; financial; access; location; resources

  • Stimulus atawa perangsang: kembangkan atau eksplor ide anda baik itu yang berhubungan dengan materi sendiri maupun benda-benda yang ada di sekitar: alat peraga, gambar, properti, musik, suara, lagu, kata-kata, cerita, topeng, kostum, puisi, lukisan, patung, bangunan, peristiwa topikal, berita terkini, dan seterusnya.
(Saran dms: salah satu cara untuk mempertajam kemampuan mendeskripsi dan menganalisis (termasuk berimajinasi), satu-satunya jalan anda musti banyak membaca baik koran, majalah, buku, internet dst dst, juga banyak menonton film, dokumenter, TV, dst dst, banyak denger radio atau sumber verbal lainnya (gosip?), dan tentu saja banyak bergaul, jalan-jalan di lingkungan yang anda pada mulanya ogah atau enggan – manfaatnya untuk melakukan observasi, analisis dst dst ....pendek kata semakin luas bacaan, wawasan, dan pergaulan, semakin anda kaya dengan bahan dan tentu saja semangkin mendalem. Melatih terus menerus untuk menulis dan menulis opini lucu yang pendek-pendek saja (lucu yg dimaksud pake sudut pandang yg baru dan beda tadi)...jadi dengan begitu anda lama-lama akan ketemu apa yg dimaksud, siapa gue, mo ngapain, bisa apa aja, setelah itu saatnya anda berteriak pada dunia: inilah gue! Sang comic sejati, siap menghibur anda, dan so pasti mutu komedi gue jauh dari garing dan boring....eng ing eng!!!)

  • Manipulasi: kata-kata; kombinasi tampilan dan gerak tubuh; hal-hal yang berhubugan dengan teknis; media lain, misalnya suara live dan suara rekaman, multi-media, dan lain-lain
  • Bangun: materi yang pernah diajarkan, materi sendiri; motif/target atau tujuan; tema; gaya fisik
  • Bikin: suatu cara/rancangan, cara beradaptasi; melakukan percobaan; melatih, menilai, menguji; memodifikasi
  • Konteks: materi asli;  potensi audiens; jenis / fungsi tempat/lokasi; hubungan formal / nonformal
  • Kendala: kesehatan dan keselamatan diri; hak cipta; hukum; masalah teknis; keuangan, akses, lokasi, sumber daya

Be able to take part in the performance of stand-up comedy
(Gimana cara mengambil bagian dalam pentas stand-up comedy)

  • Performance skills: use of body; voice; acting; instrument; equipment; materials; props; communication and interaction; timing; participation; energy and focus; responsiveness
  • Presentation of ideas: eg verbal, visual, textual, audio, physical, technical, vocal, musical

  • Performance skills: penggunaan tubuh, suara, akting, instrumen, peralatan, bahan, alat peraga, komunikasi dan interaksi, waktu, partisipasi, energi dan fokus; respon
  • Presentasi ide: misalnya verbal, visual, tekstual, audio, fisik, teknis, vokal, musik
Pembaca yang budiman, beginilah tradisi orang bule dalam mendekati masalah selalu berupaya menyajikan itu dengan cara seilmiah mungkin: artinya, mereka bikin sistematika, struktur, unsur yang ada di dalamnya, bagaimana cara kerjanya dsb dsb, jangan ciut nyali dengan itu semua, kita ikuti aja dulu, pada akhirnya teknik dan kompleksitas yang dipaparkan itu cuma salah satu bentuk komunikasi yang bisa diterima “orang2 sekolahan”; sementara orang-orang otodidak atau empiris lebih dituntun pada naluri dan insting semangat belajar dan berlatih yang tinggi untuk mencapai prestasi yang sehebat-hebatnya. Tidak perlu ada polarisasi atau pertengkaran mana yang hebat mengenai ini, juga tidak perlu ada penafian terhadap yang tidak tahu teknis sekolahan mengenai ini. Bahkan beberapa penemuan metodologi baru justru ditemukan oleh orang-orang “liar” dan bandel, karena dia tidak berada dalam sandera atau kurungan metodologi yang seakan-akan sudah baku dan selesai padahal namanya kesenian, dia bergerak sedinamis kehidupan itu sendiri.
Salam,
dms

Tuesday, December 27, 2011

Video Komedi Cuci Tangan: Jamu dan Jonggrang

Pelawak Indonesia Popular

Pelawak Indonesia Popular