Ayo main

Sabar semua kebagian karcis.

Hidangan Pembuka

Asyiiiiiikkkkkkkkk

Nah gitu dong

Terimakasih terimakasih terimakasih

Gedung kesenian ya begini

Setiap aktris aktor atau bintang yang pernah tampil bangga

Apalagi

Mendapat tepuk tangan panjang dan penghargaan yang tak terlupakan

Monday, May 11, 2009

The Gondez Ambelgedez (2)

Oleh Darminto M Sudarmo

Terengah-engah ketiganya menghadap sang Prof. sebelum secuil kata meluncur dari mulut mereka, Prof. Durgandana telah tahu apa yang harus dikatakannya.

“Inilah kebrengsekan berikutnya kenapa untuk bilang tidak punya, tidak berani?! Kenapa harus membuang-buang waktu untuk kepura-puraan itu. Sungguh tidak logis. Otak kalian memang ditaruh di dengkul. Tak pernah diajar ya bagaimana menyanggah sinyalemen?"

Dul Goen, Jimat, dan Jupri seperti ditelanjangi mukanya. Tapi tanpa komentar Prof. galak itu pun muka mereka sebenarnya sudah biasa dengan ketelanjangan.

"He, kenapa pada kemplu begitu? Jawab dong!"

"Ta....tapi apa yang harus kami jawab Prof?” tanya Jimat terbata-bata. Wajahnya tiba-tiba sendu. Jupri sudah dua detik yang lalu sesenggukan menahan tangis. Tak kepalang Dul Goen. Meski pun cuma kethap-kethip seperti monyet kehilangan handai tolan, pipinya telah basah oleh air mata.

Bentakan-bentakan profesor galak itu membuat mereka jadi nelangsa. Jimat ingat emaknya di kampung ketika dia digendong sambil dikudang-kudang saat masa kecil yang amat indah. Jupri terkulai dalam rasa pilu yang luruh, teringat simboknya yang telah pergi ke alam baka ketika usianya masih kanak-kanak. Dul Goen sebenarnya tak ingat siapa-siapa, tetapi melihat orang menangis, dia selalu tak bisa tahan, maka tangisnya kali ini sudah sekali dikategorikan termasuk jenis apa.

Melihat tingkah ketiga mahasiswa yang kelak bakal dikaderkan sebagai tokoh pelopor non-gelar, tetapi kolokan sekali, Prof. Durgandana tak bisa menahan amarahnya lagi. Kemarahan puncak. Kemarahan yang bisa menghancurkan gunung dan membelah langit . Lalu dengan gaya seorang guru besar yang amat abstrak, dia meloncat bangkit. Berdiri tegak di hadapan ketiga mahasiswa pilihannya dengan tangan gemetar menahan ledakan dinamit di dadanya.

"Bojleng, bojleng! Murid-murid tak punya guna nyaris saja kupanggilkan arwah Hitler buat menyembelih kalian semua!" Matanya menyala merah. Menatap ketiga mahasiswa yang duduk terbungkuk-bungkuk. Nyaris saja dia hendak menelan mereka bulat-bulat. Lalu ujarnya pula.

"Apa yang harus saya lakukan buat menghukum kalian? Menyerahkan ke Westerling atau kupenggal sendiri leher kalian dengan pedang samurai Musashi?"

Ketiganya masih melipat tengkuk. Prof. Durgandana kian naik darah. Maka segera bermunculanlah “lagu wajib”-nya dalam bentuk sumpah serapah menggunakan berbagai bahasa asing. Salah satu bahasa asing yang paling sering dia ucapkan waktu kesal adalah: sontoloyo!
Setelah kenyang mencaci cemooh, perasaannya jadi ngilu. Lalu sendu. Kemudian ingat anak cucu. Perasaannya yang paling dalam pun kini jadi tersentuh. Orang-orang yang dimarahi diam saja selalu mengundang belas kasihan. Menerbitkan rasa empati. Tetapi Prof itu tetap ingat, tugasnya kali ini adalah menggembleng mental ketiga kader itu supaya jadi tangguh. Supaya tidak cengeng dan gampang ngambek. Maka keterharuannya cuma singkat saja. Lalu kembali wajah garangnya menggelantung dengan liat.

"Sudah kukatakan kalau berani jadi mahasiswa jangan menyusu orang tua terus. Tak tahu malu! Pakai atribut, jaket, emblim, naik motor atau mobil berstiker universitas sambil mendongakkan kepala. Menganggap remeh atau melecehkan kanan kiri, terutama kepada orang-orang sederhana yang bekerja setulus hati, meski bentuknya butut dan kampungan, tetapi mereka telah berbuat bagi kehidupan dengan jitu dan otak waras. Sikap kalian itu sikap badut! Ngerti, nggak? Sebab yang kalian pakai, yang kalian naiki, yang kalian rasa miliki, semuanya kostum sementara untuk pentas di panggung. Itu pinjaman, itu sewa, dan, bukan kalian yang membayarnya; lalu apa yang bisa kalian banggakan sebenarnya? Diktat dan buku-buku tebal? Istilah-istilah sulit dan cara berpikir pelik? Atau gelar-gelar yang bakal berserakan di depan atau di belakang nama?"

"Ampun Profesor! Ampun.... berilah kami petunjuk." ketiganya kemudian berebut memegang kaki Pokal.

"Jadi kalian menganggap perlu apa yang kuberikan?"

"Benar Porf."

"Baik, sekarang jawab pertanyaanku dengan pola berpikir gila. Sekali lagi logika gila."

Dul Goen, Jimat dan Jupri segera mengambil tempat yang agak layak. Ketiganya duduk dengan takzim. Tangannya masing-masing telah siap mencatat apa saja yang bakal diucapkan oleh sang Profesor. Untuk sesaat itu rumah di Jalan Tonggak 15, benar-benar sepi dan menegangkan. Profesor Durgandana belum juga membuka mulut, matanya terpejam penuh wibawa.
Seperti orang tengah melakukan meditasi. Gerak di dadanya menunjukkan sikap pernapasan yang rapi. Beberapa saat kemudian kelopak matanyya mulai membuka. Bibirnya menyungging senyum arif. Tak tampak sikap garang dan congkaknya. Bahkan kesan sebagai seorang guru besar sebuah perguruan tinggi, lenyap sudah. Kini muncul sebagai bentuk yang amat tak bisa dipahami oleh ketiga mahasiswa hijau itu.

“Ada kisah yang pernah hidup ribuan tahun lalu. Atau paling tidak ratusan tahun yang lalu. Kisah ini akan menguji ketangkasan kalian dalam mengasah pikiran. Siapa di antara kalian yang bisa mengupas dengan pola berpikir gila, dan menghasilkan argumen paling gila, itulah tandanya, kalian bisa membebaskan diri dari kerudung dan norma-norma lapuk tadi: Pada suatu hari ada seseorang menangkap seekor burung. Burung itu berkata kepadanya.
‘Aku tak berguna bagimu sebagai tawanan. Lepaskan saja nanti kau kuberi tiga nasehat.’
Si burung berjanji akan memberikan nasehat pertama ketika masih berada dalam genggaman orang itu, yang kedua akan diberikannya kalau dia sudah ada di cabang pohon, dan yang ketiga sesudah ia mencapai puncak bukit.
Orang itu setuju, dan meminta nasehat pertama.
Kata burung itu, ‘Kalau kau kehilangan sesuatu, meskipun kau menghargainya seperti hidupnya sendiri, jangan menyesal.’
Orang itu pun melepaskannya, dan burung itu segera melompat ke dahan.
‘Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal, apabila tak ada bukti.’
Kemudian burung itu terbang ke puncak gunung. Dari sana dia berkata.
‘O manusia malang! Di dalam diriku terdapat dua permata besar, kalau saja kau tadi membunuhku, kau akan memperolehnya!’
Orang itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya, namun katanya, ‘Setidaknya katakan padaku nasehat yang ketiga itu!’
Si Burung menjawab, ‘Alangkah tololnya kau, meminta nasehat ketiga sedangkan yang kedua pun belum kurenungkan sama sekali! Sudah kukatakan kepadamu agar jangan kecewa kalau kehilangan, dan jangan mempercayai hal yang bertentangan dengan akal. Kini kau malah melakukan keduanya. Kau percaya pada hal yang tak masuk akal dan menyesali kehilanganmu. Aku toh tidak cukup besar untuk bisa menyimpan dua permata besar! Kau tolol. Oleh karenanya kau harus tetap berada dalam keterbatasan yang disediakan bagi manusia’.
Begitulah kisahnya, siapa diantara kalian punya nyali untuk terlihat paling dulu tololnya, eh, bertanya?"

"Saya, Prof." Jupri mengangkat jari.

"Sampaikanlah".

"Kisah itu memusingkan, tapi ada juga sisi yang cerah. Burung itu cerdik, dia gunakan segala tipu daya untuk menyelamatkan diri. Dan manusia itu memang gambaran makhluk yang lagi tolol, dengan mudahnya dia menuruti saja dibodohi oleh binatang sepele yang tentunya tak pantas didengar ocehan palsunya itu."

"Kasihan sekali analisamu Buyung, kau belum bisa melihat apa yang disebut masalah itu. Nah, siapa mau coba lagi?"

"Saya Prof. Menurut pendapat saya, kedua-duanya sama-sama tolol. Si Burung yang bisa terbang kenapa mau ditangkap manusia. Si Manusia yang sudah memperoleh apa yang dicarinya, kenapa mudah saja melepaskannya,." ujar Jimat dengan gaya bahasa yang taktis.
Sang Profesor, yang tentu saja berfigur Pokal, tersenyum kegelian. Tak berkomentar apa-apa.

"Kalau pendapat saya lain lagi Prof. Ketika Anda membawakan kisah tadi, maka segera timbul anggapan dalam benak saya. Bahwa Anda itu jadi si manusia dan sayalah yang jadi burungnya." ujar Dul Goen dengan santainya.

Sang Profesor mengangguk-anggukan kepalanya. Apa maknanya itu, tidak ada yang tahu.
"Sampai ketemu pada kuliah mendatang.” ujarnya kalem, lalu tubuh Pokal limbung. Dengan gesit, mereka bertiga menangkapnya. Tubuh Pokal diletakkan di atas dipan lagi, dan tak lama kemudian terdengar dengkur khasnya yang luar biasa. Wajahnya masih tetap tampak sehat kemerahan. Tak ada tanda-tanda baru saja terjadi peristiwa unik dan merepotkan. Jantungnya berdentang sebagaimana biasanya. Perutnya juga tetap membuncit sebagaimana kebiasaan orang-orang yang doyan makan dan tidur. (Bersambung ke Bagian 3)

Tuesday, April 28, 2009

Wayang Kartun karya Bagong Soebardjo

The Gondez Ambelgedez

The First
Kesurupan


Oleh Darminto M Sudarmo


Pembekalan dari pengarang:
Seting cerita diambil secara absurd antah berantah, jadi dijamin tidak ada pihak yang perlu senang atau tersinggung karena nama, tempat, suasana, maupun pikiran-pikirannya masuk dalam cerita ini. Semua cerita asli bikinan khayalan sang pengarang. Menurut pengarang cerita ini yang konon sudah cukup lama menggerogoti honorarium berbagai penerbitan bergengsi atau setengah gengsi di negeri ini, segmen pembacanya adalah mereka-- tak peduli berlatar belakang akademis atau empiris—yang penting memiliki IQ khsusus!
Jadi menurut pengarang novel ini, bila ada dari Anda yang kurang mampu menjangkau isi yang terpapar, terangkum, terjulur, dan tercincang silang tunjang ini, berarti permasalahan terletak bukan pada jelek atau bagusnya cerita, tetapi pada khusus dan tidak khsususnya IQ Anda. Gitcuuu!



(Bagian Pertama)

Februari 1988.

Rumah kontrakan mahasiswa jantan yang terletak di Jalan Tonggak 15, tiba-tiba geger. Bukan karena ada kebakaran kompor atau listrik. Bukan pula karena barusan terjadi penggarongan dan penganiayaan. Apalagi pembunuhan dan berbagai tindakan kriminalitas lain. Bukan semua!
Yang ada, kegegeran itu berawal dari peristiwa aneh yang menimpa Pokal. Salah seorang mahasiswa yang memiliki kebiasaan paling khas. Yakni, tidur atau tidur-tiduran sambil merenda langit, menbayangkan bulan dan matahari jalan berduaan.

Menurut saksi mata, yaitu teman-teman se-rumah Pokal; yaitu Dul Goen, Jimat dan Jupri, peristiwa itu datangnya demikian mendadak. Tak terduga sama sekali. Tubuh Pokal tiba-tiba mengejang bagai kayu. Keras, dan lurus-lurus. Disusul bola matanya mendelik, kemudian membalik-balik. Keringta dingin meluncur membasahi seluruh tubuh dan wajahnya. Tubuh itu terus bergulingan di atas dipan tanpa kasur yang bunyinya ramai sekali.

Dul Goen, Jimat dan Jupri masih bingung dan panik ketika tiba-tiba tanpa diduga pula, mulut Pokal masih sempat mengucapkan kata.

"Saya kesurupan! Saya kesurupan! You know?"

Pokal memang baru saja membalik-balik buku conversation. Kemudian berguling dan berkelojotan di atas dipan riuhnya.

"Kita harus berbuat sesuatu!" ujar Jimat dengan sikap amat panik. Mahasiswa yang satu ini berbadan kurus, tapi kumisnya lebatnya minta ampun.

"Benar! Kita harus berbuat sesuatu." sambung Jupri sambil mengacungkan tangan. Jupri adalah penghuni bertubuh paling mungil, tetapi cerdiknya lumayan juga.

Mendengar ada yang mendukung idenya, buru-buru Jimat mengangkat pantat lalu menyalak lagi.

Ya! Kita tak boleh cuma berpangku tangan. Kita harus berbuat sesuatu!"

"Kita harus berbuat sesuatu!" Jupri tetap membeo.

Sementara itu, Dul Goen, berusia paling tua di kelompoknya, bertubuh paling subur, berwajah paling khas, tampak tenang-tenang saja. Dengan santai dia membalik-balik buku ensiklopedi Indonesia-sia. Mencari huruf K. Lalu dengan santai pula jari-jari tangannya yang tak gampang gemetar itu mencari-cari kata kesurupan. Tak lupa lidahnya agak terjulur untuk mencari sedikit cairan lewat sentuhan ujung jari penunjuk.

Tertulis: Kata kesurupan dirumuskan pendek saja, yakni sebuah keadaan di mana seseorang menjadi sangat tergoncang karena jiwanya tengah didesak oleh kekuatan lain. Mungkin ruh, mungkin jin, mungkin setan, dedemit atau genderuwo. Sebabnya, karena terlalu banyak bengong atau menghayal yang mokal-mokal. Cara mencegahnya, hindari semua sebab tadi. Sedang cara pengobatannya, cukup dibiarkan untuk beberapa saat. Setelah keadaan agak mereda, sang korban diajak dialog secara santai. Terutama dialog sama ruh yang indekost tanpa bayar itu; agar tahu diri segera angkat kaki. Kalau masih juga bandel, boleh pakai pelicin atau iming-iming yang lain; misalnya komisi atau sekedar upeti.

Setelah melempar ensiklopedi bercetak mewah itu, Dul Goen menyalakan sebatang rokok. Menghisapnya dalam-dalam. Menghampiri tempat tidur Pokal yang berserak-berantakan. Duduk di tepi dipan sambil menikmati rokok. Sementara itu Jimat dan Jupri kalang kabut tak karuan. Berlari ke ruang depan mencari-cari sesuatu agar bisa sesegera mungkin menghubungi dokter. Tapi usaha itu sesungguhnya usaha yang tak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah, karena rumah kontrakan itu memang tak pasang pesawat telepon.

Tak berhasil mendapatkan pesawat telepon, buru-buru membuka laci alamari, meja dan sebagainya sambil berharap-harap semoga mendapatkan pesawat Handy Talky. Usaha yang ini pun tak kalah latahnya. Menyadari tentang kemustahilan itu, mereka lalu bergerak lagi dengan sigap meraih kunci kontak. Tentu saja tak ada mobil atau sepeda motor yang cocok, karena benda itu jodohnya sama almari pakaian. Masih juga belum jera mereka lalu menghambur ke luar rumah, hendak menghentikan taxi. Untunglah mereka masih ingat untuk merogoh saku dan membuka dompet masing-masing. Begitu tahu isinya, keduanya lalu saling pandang dengan mimik muka yang amat aneh. Tak sepeserpun uang ada di tempat itu. Seperti sudah dikomandokan, keduanya balik lagi ke rumah. Sasarannya juga sama, membalik-balik buku. Semua halaman buku. Buku kuliah, buku cetak, buku perpustakaan, sambil berharap-harap lagi, semoga ada selembar dua lembar ribuan ketlingsut di dalamnya. Sungguh tak bisa dimaafkan cara berfikir yang seperti itu. Apalagi berpredikat sebagai mahasiswa. Tetapi keduanya memaklumi keadaan. Bagai sang bijak yang murah hati, secara spontan keduanya mengucapkan kalimat yang nyaris berbareng.

"Sudahlah, tak apa-apa....tenang sajalah."

Lalu keduanya sama-sama tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala. Maka bebaslah segala beban.

Tiba-tiba kedua orang itu, Jimat dan Jupri, dikejutkan oleh hadirnya suara aneh. Suara yang tak baisa mereka dengar. Suara berat tapi penuh wibawa. Bukan hanya Jimat dan Jupri, tetapi juga juga Dul Goen yang saat itu tengah rada 'slebor' menikmati lezatnya asap rokok yang konon punya daya bunuh cukup ampuh.

"Tidak logis! Tidak logis!" ujar suara itu. Jimat dan Jupri buru-buru pasang telinga. Dul Goen hampir pingsan. Suara itu muncul dari mulut Pokal. Tapi dua ratus persen itu bukan suara Pokal. Jimat dan Jupri masih linglung di tempatnya, terpisah dari tempat tidur Pokal.

"Itu pasti suara tetangga." ujar Jimat.

"Boleh jadi." sambung Jupri sesaat sepi. Tiba-tiba suara itu menggemuruh lagi.

"Heiiiii! kalian semua kemari!"

“Eh, sepertinya dari kamar Pokal," ujar Jimat. Keduanya langsung menghambur masuk. Dul Goen panas dingin, seperti orang yang pertama kali melihat hantu. Pokal kini tidak terlentang lagi. Tidak kelojotan lagi. Tidak mendelik-delik lagi. Tidak memperlihatkan biji matanya yang putih dan mengerikan lagi. Tapi justru tampak jauh lebih menakutkan dari semula. Duduk dengan sikap amat takzim. Wajahnya rada memerah. Sinar matanya aneh, tetapi mengandung kekuatan yang luar biasa.

"Hai kalian kenal aku tidak?"

"Ke...kenal, tentu saja," jawab mereka bertiga.

"Bagus. Siapa?"

"Kau temanku, eh, teman saya tersayang."

"Iya siapa?"

"Pokal tentu saja."

"Goblog! Aku bukan Pokal. Aku Profesor Durgandana. Guru besar ilmu sosial politik Universitas Gondolumayit. Ngerti?!!!"

"Ya ya ngerti Prof...."

"Aku juga dosen kehormatan bidang Hubungan Internasional di India-Indianan State University, Amerika Serikat, paham?"

"Paham Prof."

"Tahu kedatanganku masuk ke tubuh Pokal!?"

"Be....belum Prof."

"Untuk memberi kuliah kalian bertiga. Tapi syaratnya bila aku lagi pergi dari tubuh Pokal, kalian harus memberikan materi kuliah ini kepada Pokal."

"Baik Prof. kami akan laksanakan amanat itu."

"Nah, sebelum menyiapkan buku-buku dan alat-alat tulis, perlu juga kuberitahukan pada kalian kenapa cara yang aneh ini harus kutempuh. Pertama kalian semua punya otak rada encer, tapi kantong kalian selalu kosong. Kedua, menjelang kalian selesai semester akhir, akan terjadi musibah, yakni, kalian harus kena D O! Harus angkat kaki dari perguruan tinggi, karena selalu nunggak SPP. Maka biar jangan putus harapan, aku datang untuk kalian. Ketiga, kalianlah yang bakal mempelopori prinsip 'Deschooling Society' alias bebas dari sekolah di Indonesia ini. Nanti di tahun 2000-an istilahnya menjadi “Home Schooling”. Prinsip yang diteriak-teriakkan oleh Van Illich sejak lima belas tahun yang lalu itu, mulai terasa khasiatnya setelah adanya revolusi penggusuran gelar yang bakal kalian lakukan di kemudian hari. Orang bakal setahap demi setahap menengok pada kualitas ketimbang target. Jangan sedih menerima berita ini."
Jimat, Dul Goen dan Jupri saling pandang. Berita itu meskipun keluar dari mulut orang teler macam Pokal, tetapi di dalamnya mengandung hawa kemurniaan pendapat seorang Profesor Durgandana yang kemungkinan besar melihat dari kaca mata supra-rasional. Kalau itu benar, alangkah menyedihkan sudah menjual habis sapi dan kerbau serta sawah berhektar-hektar buat kuliah, akhirnya bakal dikeluarkan dan tak dapat gelar. Apa yang bisa dibanggakan saat pulang kampung dengan bendera tergulung?

Tak sadar ketiganya lalu meneteskan air mata. Di luar dugaan Prof. Durgandana marah besar melihat kenyataan itu.

"Kalian semua goblog dan cengeng! Pikiran picik itu musti dihilangkan. Berpikir tegar tentang masa depan hanya akan dipunyai bila kalian telah bisa membebaskan diri dari struktur lapuk itu. Ingatlah kata-kata saya, pada suatu era nanti, orang-orang spesialis, orang-orang akademis yang terkotak dalam bidang yang serba eksklusif bakal dipimpin oleh orang-orang yang telah bisa membebaskan diri dari struktur lapuk tadi. Meloncat dari pikiran-pikiran yang memburu kemasan fisik. Catat ini baik-baik, ngerti?!"

"Ngerti Prof...."

"Nah, sekarang kuliah akan dimulai. Sana ambil catatan. Ingat jangan sekali-kali main rekam pakai benda teknologi, itu tindakan bodoh dan malas. Kalian harus aktif, menggurat bunyi dalam tulisan sudah separo belajar."

Agak kalung kabut ketiganya berlari menuju ke rak buku masing-masing. Kemudian kembali dengan perasaan seperti tersihir.

"Ada lima paket pelajaran yang bakal saya sampaikan untuk jangka waktu tak kurang dari satu bulan penuh. Tiap pertemuan tak kurang dari dua jam. Dan kalian harus kerja keras untuk ini semua. Saya tak bakal mengulangi hal yang sama. Ngerti?"

"Ngerti Prof."

"Pertama, paket pelajaran saya beri judul, Teknik Berpikir Gila."

"Apa Prof?" Hampir berbareng mereka terlonjak seperti tak percaya pada pendengarannya.

''Tak bakal diulangi apa yang sudah diucapkan." ujar Profesor dengan nada dingin, "dengan topengnya yang cantik orang cenderung ogah disebut gila. Karena itu meskipun mereka menderita gejala-gejala yang hampir menjurus ke situ, mereka tetap berusaha untuk melupakan dirinya. Lalu larut dalam kehendak massa, bahwa liar disangka waras. Kemudian terjadi opini salah bahwa yang dilakukan oleh umum selalu benar, dan yang dilakukan oleh bukan umum, pasti menyimpang alias tak waras. Pahaaaaam?!!" Tiba-tiba mata Pokal seperti melotot ke salah satu arah.

"Hai yang boleh dengar kuliahku cuma kalian bertiga. Tak boleh pihak lain coba-coba mencuri dengar."

Dengan gugup Jimat buru-buru menjelaskan.

"Di sini aman Prof. dinding kami tak bertelinga. Lantai tidak, jendela tidak, pintu tidak, atap juga tidak. Semua bebas dari gangguan. Jangan kuatir di sini persis di kampus Gondolumayit Anda."

"Tapi aku belum percaya. Aku mendengar suara mencurigkan dari balik almari kalian. Benda apa yang ada di situ. Cepat diungkap sampai tuntas, waktuku tinggal sedikit."

Ketiganya bergegas menggeser alamari. Tak menjumpai apa-apa selain coro-coro dan cicak.

"Hanya coro dan cicak Prof. aman kok."

"Bego! Benda itulah yang kumaksud sangat mencurigakan. Harus segerra dihalau, kalau tidak kalian akan jadi lebih bodoh dari mereka. Mereka memiliki energi penangkap jauh lebih hebat dari pada kalian. Sebab mereka juga bisa menangkap bahasaku.

Urusan coro dan cicak rampung sudah. Baru saja hendak mulai Prof. Durgandana, rewel lagi.

"Aku dari tadi kehausan dan kelaparan, tetapi kalian benar-benar tak bisa membaca gejala dan lingkungan. Itu warisan pola-pola pelajaran yang kalian pelajari hingga kini. Makin jauh dari tanda-tanda, gejala, dan modal kepekaan. Jadinya yah begitu itu. Lamban, miskin inisiatif, serba takut menyimpang sedikit dari rumus-rumus, pola-pola, dan terutama norma dan sekian tetek-bengek etika bohong-bohongan. Nah kenapa tak cepat-cepat ambil minuman dan makanan."

Tetap dengan sikap kalang kabut, Dul Goen, Jimat dan Jupri menghambur ke dapur. Tetapi sesungguhnya itu cuma tindakan iktikad. Di dapur tak ada seujung sayur pun. Tak sesendok nasi atau bubur. Semua kosong. Prof. Gondo lebih tahu tentang itu. Tetapi sedikitnya dia menghargai usaha itu, sebab rumah kontrakan itu lebih kelihatan kumuh ketimbang bersihnya. Gombal dan pakaian kotor bergelantungan kayak monyet-monyet. Bekas bungkus kue dan makanan berserakan di pojok-pojok ruangan. Dan bila tak seorang pun lihat, sampah itu justru didorong-dorong agar masuk lebih dalam lagi ke sela-sela kolong yang tak terlihat oleh mata.

(Bersambung.....)

Tuesday, April 7, 2009

Clown Attractions by Dede Eri Supria

Sunday, March 8, 2009

From Indonesia With Laugh





Sunday, March 1, 2009

April Masih Hujan dan Banjir by Tiyok



Empat Sekawan yang Edan

SEKARANG, tak ada lagi Bandung lautan api. Yang ada Bandung lautan kendaraan. Bila Anda pendatang baru, belum lengkap rasanya mengenang Bandung bila Anda belum pernah kesasar. Jalan-jalan di Bandung memang istimewa. Punya daya pikat luar biasa untuk membuat pendatang baru kesasar. Semakin sering orang kesasar, semakin indah rasanya melahap pesona kota ini.
Saya tidak kesasar. Karena dulu pernah kesasar. Sekarang tidak lagi. Ada seorang rekan –bernama Joe—yang benar-benar turun ke Bandung. Tepatnya tinggal di Jalan Cikutra. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, ia menyunting mojang Priangan. Lengkap kebahagiaannya, setahun kemudian dikaruniai seorang bayi mungil yang lucu dan bermutu.
Joe –bukan mahluk sembarangan. Kelakuannya semasa mahasiswa bukan main antiknya. Perawakannya sedang, kulitnya coklat kehitaman, berkumis tak begitu lebat, pembawaannya pendiam dan santun, tapi gairah melucunya luar biasa. Hidupnya pun akhirnya dia jalani dengan lucu. Setidaknya ketika ia masih mahasiswa, dan bergabung dalam kelompok kost – sebut saja “Empat Sekawan”—yang tingkahnya benar-benar edan-edanan. Andaikata boleh memberi cap padanya, maka dialah “kartun” yang benar-benar hidup.
Seusai basa-basi, saya mengajaknya ngobrol. Ia mengusulkan di suatu tempat yang khas, warung makan tenda. Dengan bangga ia memamerkan rasa nikmat mie kocok Bandung. Ia menyetir mobil sambil berlenggang di malam yang lengang dan nyaris larut itu. Saya setuju-setuju saja. Inilah kisah Joe dan kawan-kawannya.

PALING tidak ada empat penghuni di sebuah rumah kontrakan sederhana di daerah Petompon, Semarang. Keempatnya bernama: Joe, Prie Kisut, Wied, dan Kokok Demo. Berani sumpah, mereka itu mahasiswa sebuah perguruan tinggi yang berkampus di Kelud Raya. Berani sumpah lagi, terhadap tetangga-tetangganya mereka mengaku bekerja sebagai buruh bangunan. Kesan itu mereka buktikan lewat cara berpakaian dan penampilan sehari-hari. Orang-orang sekitarnya pun percaya saja.
Keempatnya bukan mahasiswa miskin. Bukan pula berlagak miskin. Tapi –lagi-lagi berani sumpah—mereka acapkali menderita kemiskinan. Artinya tidak pegang uang, pada awal bulan sekali pun. Bahkan sepeser pun. Entah karena jodoh atau kompak, keempatnya gemar royal bila dompet penuh. Satu contoh yang gampang misalnya, begitu keempatnya terima wesel dari orang tua, malam harinya halaman rumah kontrakan mereka langsung meriah. Penjual mie, bakso, ronde, kue puthu, sate, dan lain-lainnya mangkal dengan gayeng-nya. Itu terjadi karena keempatnya memiliki selera yang berbeda dalam hal makanan. Tepatnya lagi, bila dompet lagi penuh uang.
Lain soal bila dompet sedang menganga seperti kuda nil menguap. Selera makan bisa diajak kompromi. Itu terbukti ketika seekor ayam jago tak sengaja menyelinap masuk ke rumah mereka.
“Aku punya ide,” ujar seseorang.
“Apa itu?” tanya lainnya.
“Lihat itu. Pesta besar!” Lainnya, tanpa diberitahu langsung paham. Ketiganya langsung siap-siap hendak mengamankan “benda” berharga itu.
“Tunggu! Ideku belum rampung. Jangan langsung tubruk, itu kuno! Kalau ayam itu berteriak, tetangga pasti tahu. Bunyikan radio dan tape recorder! Sekeras-kerasnya, semuanya pasti beres!” Sore itu juga ayam naas itu jatuh ke dalam genggaman Empat Sekawanan dengan aman, tenteram, dan damai.
Penyembelihan berlangsung dengan lancar. Tibalah saatnya menggoreng. Orang pertama yang punya ide, buru-buru berteriak begitu melihat potongan daging ayam itu hendak dimasukkan ke penggorengan yang berisi minyak mendidih.
“Tunggu! Sudah kukatakan, ideku belum rampung. Berbahaya menggoreng ayam secara langsung. Tetangga pasti curiga. Ingat, kita ini hanya “buruh bangunan” kurang pantas memasak ayam goreng secara demonstratif. Harus pakai kiat. Nah, Kokok, kamu beli ikan asin di warung. Bakar di atas tungku. Setelah seluruh kampung ini dihebohkan oleh bau ikan asin bakar, barulah masukkan ayam itu ke penggorengan! Aku jamin, semua aman dan nyaman! Semua orang akan menyangka kita menggoreng ikan asin!”
Selain mereka bekerja sama, adakalanya juga terlibat dalam kompetisi untuk saling mengerjai. Itu terbukti ketika suatu malam seorang penjual mie goreng berhenti di depan rumah. Joe mengambil dua piring kosong lalu menyodorkannya ke penjual. Saat itu hanya dua orang yang ada di rumah, Joe dan Prie. Melihat Joe membawa dua piring, dalam hati Prie langsung yakin, ia kebagian.
Selang beberapa menit Joe masuk ke dalam sambil membawa satu piring mie goreng. Ia duduk dengan nyaman, lalu menyantapnya dengan lahap. Prie yang sibuk menggambar, menunggu dengan sabar. Semenit dua menit, bahkan setengah jam, tukang mie tidak memanggil juga. Ia tidak sabar, langsung ke luar. Di luar tidak ada siapa-siapa. Jejak tumang mie pun sudah tak tampak. Prie langsung menyusul ke kamar Joe.
“Joe, mana mie bagianku?”
“Lho, aku cuma pesan satu kok.”
“Tapi, kamu kan bawa dua piring tadi?”
“Iya memang, tapi yang satu buat bayar!”

SELAIN sibuk kuliah Empat Sekawan juga sibuk mengerjakan order membuat taman. Maklum mereka kuliah di jurusan seni rupa, wajar bila jauh-jauh hari sudah pintar ngobyek.
Suatu ketika Joe memperoleh order. Cukup gede. Di atas kertas, setelah pekerjaan usai, dia pasti mengantongi uang Rp. 3 juta. Seminggu kemudian dengan wajah berseri-seri ia mengajak Prie ke super market. Dalam hati Prie berpikir, “Ia pasti ingin membelikan sesuatu untukku.” Makin yakin Prie, ketika Joe menyuruh Prie memilih jaket, celana, atau tas, yang disukainya. Mula-mula Prie ragu.
“Ayo Prie, pilih saja yang kamu suka, suruh pelayan membungkusnya.”
Prie tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia mengambil jaket, celana, dan tas yang dia sukai. Petugas pun dengan sigap mencatat, dan membungkusnya. Tak lama kemudian Joe menghampiri. Joe menggandeng Prie ke tempat yang agak sepi. Ia meminta bungkusan yang dibawa Prie. Lalu meletakkannya di tempat yang tersembunyi.
“Ayo Prie, pulang,” kata Joe.
“Lho. Lha bungkusan itu?”
“Siapa yang bilang mau beli? Kalau kau mau beli, beli saja. Pakai duitmu sendiri. Aku tak punya duit kok. Lihat!” Joe membuka dompet, saku baju, dan celana. Hanya ada uang beberapa ratus perak.
Joe memang kelewatan badungnya. Bahkan ia pun dapat bebas dari tugas membuat karya tulis yang diberikan dosennya. Saat pengumpulan karya tulis, Joe tidak membuat, apalagi mengumpulkan. Tapi dengan tenang ia mengambil karya tulis teman-temannya yang tergeletak di meja, lalu menyerahkannya ke meja Ibu Dosen. Meja nyaris penuh, tak muat. Joe disuruh membawa ke kantor. Dengan senang hati Joe membantu mengangkatkan ke kantor.
Pada pertemuan berikutnya, karena merasa bersalah Joe berpikir lebih baik bertanya lebih dulu daripada dimarahi kemudian. “Bagaimana Bu, karya tulis saya?” Ibu Dosen tersenyum sambil mengatakan belum sempat memeriksa. Pertemuan berikutnya, Joe bertanya lagi, “Bagaimana Bu, karya tulis saya?” Lagi-lagi Ibu Dosen belum memeriksa. Begitu terus-menerus, sampai akhirnya Ibu Dosen itu mengatakan, “lumayan”. Di pengumuman, Joe memperoleh nilai 7. Bukan main! Bagaimana itu bisa terjadi? Tak ada yang tahu. Mungkin Ibu Dosen bingung, setelah dicari berulang kali karya tulis Joe tak juga ketemu.

(Darminto M. Sudarmo)

Pelawak Indonesia Popular

Pelawak Indonesia Popular