Ayo main

Sabar semua kebagian karcis.

Hidangan Pembuka

Asyiiiiiikkkkkkkkk

Nah gitu dong

Terimakasih terimakasih terimakasih

Gedung kesenian ya begini

Setiap aktris aktor atau bintang yang pernah tampil bangga

Apalagi

Mendapat tepuk tangan panjang dan penghargaan yang tak terlupakan

Monday, May 25, 2009

Natural Energy by Fu Hongge

The Gondez Ambelgedez (3)

The Second Kesurupan


Oleh Darminto M Sudarmo


Dul Goen, Jimat, dan Jupri tengah sibuk menulis di buku catatan masing-masing, ketika terdengar Pokal menguap. Sekali, dua kali, tiga kali, dan seterusnya. Mula-mula tak dihiraukan benar oleh ketiga pemuda itu. Tetapi pada uapan ketiga dan seterusnya mereka merasakan nada-nada suara yang tidak beres. Suara itu kian mengecil, dan akhirnya mereka rasakan sebagai suara perempuan.

Apa Pokal mendadak jadi bencong? Rasanya ketiga mahasiswa pejantan itu sepakat, bahwa selama bergaul dengan Pokal, selama ini pula tak pernah mereka saksikan tingkah Pokal yang rada-rada menor, apalagi keperempuan-perempuanan.

Dengan sudut mata terpicing, tetapi juga sedikit rasa was-was, ketiganya terus memperhatikan perkembangan yang terjadi pada diri Pokal. Terutama gaya tidur dan gelisahnya. Dan benar juga dalam pandangan mereka terlihat tingkah Pokal yang berkecenderungan seperti perempuan. Sikap tidur, tengkurap, miring atau telentangnya. Posisi tangan, posisi menaruh lutut dan sebagainya. Semua terasa berubah. Dan ketiganya pun sepakat mengambil kesimpulan, Pokal telah menjadi wanita.

Tapi apa yang sesungguhnya terjadi?

Ruh Den Rara Cangik, seorang doktor ilmu Gengsi, yang ketika hidup centilnya enggak ketulungan, dan senang lirak-lirik kepada para mahasiswa, terutama yang berwajah kampungan dan wagu, masuk ke tubuh Plokal.

Kini lewat tubuh Plokal, dia dapat merasuk ke sumsum tulangnya. Hingga sulit membayangkan berada di mana ruh Pokal sendiri. Andaikata tubuhnya merupakan rumah, boleh jadi cuma dapat bagian tempat yang jorok di gudang samping atau belakang. Dan Den Rara Cangik malang-melintang sebagai tamu tak diundang, menguasai seluruh ruangan.

Gaya penampilan Pokal yang sempurna menjadi Den Rara Cangik, sungguh membuat ketiga sahabatnya sedih tak terkira. Dalam hati mereka berharap-harap semoga dirinya tak dihinggapi kegemaran gampang tidur atau tidur-tiduran sambil berkhayal yang mokal-mokal.

Barangkali saja Pokal memang lagi memetik buah usahanya untuk prestasinya yang sekian lama bisa mempertahankan hobi dan kegemarannya tidur atau tidur-tiduran hingga mencapai tingkat nyaris sempurna. Atau barangkali ruh para leluhur sedang tertarik memanfaatkan tubuh dan rumahnya yang selalu ditinggal ngeluyur itu. Tak ada yang tahu pasti.

Bisa pula di dunia ruh para intelektual sedang terjadi kegelisahan hebat menyaksikkan kiprah lembaga perguruan tinggi kini yang tampaknya berkembang semakin aneh dan tak jelas maunya. Lalu seorang atau sebagian orang, yang lagi gemas soal citra itu, tak dapat menahan diri meski mereka telah jadi ruh atau dedemit sekalipun.

Pokal membuka mata pelan-pelan, sambil meningat-ingat keberadaan dirinya. Menoleh ke kanan dan ke kiri. dengan sorot mata penari Bali. Pelan-pelan pula dia mengangkat kepalanya begitu menyadari sekelilingnya, agak tersipu dan beranjak ke cermin dengan langkah melenggang. Menyisir rambut pelan-pelan pula. Gerakannya demikian lembut. Memantas-mantas bibir dan alis mata, lalu menoleh ke arah tiga pemuda yang menatapnya dengan pandangan penuh kasihan.

"Kalian sudah kenal aku bukan? Ya akulah ini Den Rara Cangik. Meskipun prestasi akademik baru mencapai gelar doktor tapi aku merasa tak begitu malang. Dan yang lebih dari itu semua, aku mencintai tugasku sebagai pengajar pada Universitas Gondolumayit. Kalian semua boleh mentertawakan karena Ilmu Gengsi yang akan aku ajarkan seolah berkesan main-main, tetapi itu merupakan perangkat vital yang tak boleh disepelekan.

“Sebagaimana yang sudah-sudah, setiap bel pergantian pelajaran, aku selalu datang tepat pada waktunya. Urutan yang lazim untuk giliranku, selalu jatuh setelah si tua bangka Prof. Durgandana yang genit dan suka ngomong nyelekit itu. Nah, apakah kalian sudah siap semua?"
Dul Goen, Jimat, dan Jupri masih ragu-ragu. Mereka saling pandang satu sama lain. Pada saat itu, terasa pikiran mereka demikian buntu. Akhirnya mereka cuma terbengong-bengong saja.
Den Rara Cangik tahu gelagat itu. Dengan penuh rasa sayang dan kelembutan dia berkata.
"Oh ya, barangkali kalian masih dihinggapi stress. Racun apa sebenarnya yang telah diberikan oleh si tua bangka profesor gila itu? Cobalah anak-anak manis katakan saja, banyak yang tak beres dalam sinar mata kalian.”

Kelembutan yang terangkai demikian memikat itu bukannya menerbitkan rasa keakraban bagi ketiga mahasiswa itu, sebaliknya justru semakin menambah rasa ngeri mereka.

Bunyi suara wanita yang mengejutkan itu keluar dari tubuh seorang anak muda yang gendut mirip boneka. Gerak-gerik yang anggun penuh pesona itu justru muncul dari figur lelaki gendut yang tak punya porsi keindahan sama sekali. Istilah seni rupanya: estetika yang tak matching.
Keseluruhan upaya Den Rara Cangik untuk tampil sefeminim mungkin, justru rusak dalam genggaman hukum alam yang menghendakki keseimbangan dan keselarasan. Den Rara Cangik dengan tubuh Pokal berada dalam ambang kontradiksi dan kesumbangan yang membikin orang jadi jengah menyaksikannya. Jengah mendengarnya. Sebuah paket kodrat yang tak mengenakkan hati.

Ketiga mahasiswa itu semakin menggigil. Takut pada trauma Prof. Durgandana. Takut bila dibentak dan ditelanjangi tanpa ampun.

"Aneh sekali kalian ini. Kalian anak muda berbakat. Banyak potensi yang belum tergali tetapi kenapa kalian bertingkah laku amat memalukan begitu? Apakah kalian belum pernah diajar etika bergaul? Terlibat sedikit basa-basi atau diskusi? Tidak logis! Cobalah katakan kepada saya, apakah Prof. kemplu itu telah menyelewengkan susunan saraf dan daya ingat kalian?"
Mereka masih terbengong-bengong, bukan lantaran meragukan kemampuan pengajar baru yang rupanya menyimpan permusuhan dengan Prof. Durgandana. Juga bukan karena dia hanya seorang doktor wanita. Tetapi perasaan kurang sreg itu memang benar-benar dirasakan oleh ketiganya.

Barangkali saja ketiganya telah lelah dan lapar, tetapi itu belum seberapa mengerikan bila dibanding dengan datangnya pelajaran-pelajaran aneh dan mengesankan teror yang drastis dan mengacau cara berpikir mereka. Atau bisa jadi memang rusak sama sekali.
Tetapi campur tangan para ruh terhadap manusia hidup membawa perubahan sendiri. Sedikitnya pengaruh yang amat halus. Hingga mereka merasa seperti terbang tetapi kakinya menginjak tanah. Terapung-apung antara alam nyata dan tidak nyata.

Tentu saja, kalau mau bilang terus terang mereka sesungguhnya jengkel juga. Hanya pada siapa? Membangkang pada tingkah ruh yang suka iseng itu berarti malapetaka bagi Pokal sahabat mereka yang kini jadi alat transportasi tingkat supercanggih para ruh. Itulah nasib Pokal. Sahabat yang supel, lugu, jujur dan tak pernah marah selama hidupnya. Tapi bila dia menyadari apa yang sebenarnya terjadi, bias-bisa akan marah besar jadi mainan ruh-ruh jahil.
Melihat reaksi ketiga anak muda yang masih tampak blo'onnya itu, Den Rara Cangik tak dapat mengendalikan diri untuk tersenyum geli.

"Hi hi hi, tak sangka tubuh yang besar, kuat dan sehat begitu bernyali kecoa. Kalau memang benar begitu kenyataannya, saya akan segera pulang dan lapor pada rektor bahwa hasil kesepakatan musyawarah itu cuma omong kosong. Keliru betul mereka bila menyangka batu pada benda yang sesungguhnya cuma kue bolu. Hi hi hi."

Dul Goen, Jimat, dan Jupri kaget besar menerima penuturan itu. Kali ini Jimat tak dapat berdiam diri.

"Tunggu dulu Nyai..."

"Husss!! Jangan panggil Nyai! Panggil saja Den Rara.” Bentak mesra Den Rara Cangik dengan senyum khasnya. Pancingannya berhasil.

"Baik Den Rara. Kami sungguh mohon maaf atas sambutan yang kekanak-kanakan tadi. Tapi satu hal, sebelum kami menerima pelajaran dari Den Rara, bolehkah kami tahu apa yang sesungguhnya tengah terjadi di Kampus Gondolumayit Anda?"

"O o o, soal itu gampang jawabnya. Tapi klian harus berterus terang dulu. Racun apa yang telah diberikan oleh monyet tua si Durgandana itu? Dia termasuk figur yang terus ducurigai oleh birokrasi kampus karena omongannya yang selalu ngawur dan menyakitkan hati. Dia pula yang selalu sesumbar tentang idealismenya yang masih murni. Lalu mengejek kami semua sebagai badut-badut yang bertopeng lembaga pendidikan tetapi sesungguhnya tak lebih dari..."
"Tak lebih dari apa Den Rara?" tanya ketiganya nyaris berbareng.

"Hah! Sebagai mahasiswa masa kalian tidak tahu sindiran seperti itu?"

"Sungguh betul Den Rara, mahasiswa generasi kami terlalu sibuk dengan urusan bayar kost, bayar kontrak rumah, kunjung pacar dan soal uang smester."

"Alaaaa jangan membanyol. Kalian pasti sudah tahu urusan yang begituan."

"Duh! Berani sumpah deh Den Rara, kami tak tahu sungguh soal-soal yang pelik dan berbelit seperti itu."

"Hi hi hi, aneh-aneh juga dunia ini. Tapi bila kalian benar-benar tak tahu, rasanya lebih baik tak usah mengenalnya. Berbahaya, nantinya malah bisa jadi racun yang berbisa."

Ketiganya saling pandang lagi. Lalu saling berbisik, kemudian tersenyum dengan sembunyi-sembunyi. Melihat gelagat yang curang itu, Den Rara segera menegur.

"Kalian bicara soal apa? Tak baik pakai model begitu sementara masih ada makhluk lain di sekitar kalian. Ketahuilah, dunia banyak perang karena model-model yang begitu itu. Kasak-kusuk, gossip dan bila lidah terpeleset lalu main fitnah. Bicaralah, aku rasanya juga ingin pula mengetahuinya."

“Maaf Den Rara, sesungguhnya kami sangat ingin tahu masalah tadi. Lalu karena Den Rara tak mau memberitahukan kepada kami, kami beranggapan bahwa Den Rara dan yang lain-lainnya memang benar seperti apa yang dituduhkan oleh Prof. Durgandana."

"Husssss!! Hati-hati buka mulut. Ketahuan sekarang, apa yang kusebut racun tadi; yang disebarluaskan oleh Profesor keparat itu. Eh maksud saya, Profesor pikun itu. Cara kalian beranalisis, cara kalian menghubung-hubungkan masalah, mengevaluasi dan menyimpulkan, persis betul dengan gaya Profesor gatal itu. Itu metode yang beracun anak-anak manis. Jangan sekali-kali kalian pakai. Berbahaya, sungguh berbahaya. Kalian tak bakal hidup tenteram, tak bakal tidur di kasur yang empuk, bila menghidupkan pola berpikir seperti itu. Tahukah kalian, di mana tempat paling sering dikunjungi oleh orang-orang yang senang main racun itu?"

"Mohon petunjuk Den Rara....."

"Penjara."

"Hah! Penjara? Apa hubungannya?!"

"Hi hi hi, kalian sesungguhnya memang masih murni. Masih mulus. Tokcer dan tanpa dosa. Sudahlah, bila kalian belum juga mengerti, lebih baik tak usah mengenalnya. Biar kelak bisa jadi pemuka masyarakat yang lurus, yang patuh, yang rajin, yang tak suka berontak, yang tak suka rewel, yang tak suka main kecam dan kritik. Yang bisa menjunjung atasan dengan penuh kesetiaan, dan membela bawahan dengan penuh cinta kasih."

Nada suara Den Rara kian serak, lalu berbalik keluh. Kemudian terdengar suara haru pilunya.
"Hu hu hu, sungguh sayang sekali bila bibit sebaik kalian harus terkena noda dan pengaruh sesat dari Profesor butut itu. Hu hu hu."

"Mohon maaf Den Rara," sela Dul Goen, "bila benar dan telah terbukti bahwa ajaran serta pelajaran yang dibawa Profesor Durgandana itu sesat dan menarcuni, kenapa Bapak Rektor lewat Bapak Menteri, eh kebalik, kuasa Bapak Menteri lewat rektor tak mengambil tindakan, misalnya memecat atau apa gitu."

"Itu yang kami tak berdaya. Prof. tengik itu benar-benar licin. Dia punya sekutu ratusan ribu mahasiswa. Berkuasa atau moral para mahasiswa. Maka segala tindakan yang bakal menyudutkan dirinya, selalu kena protes para mahasiswa. Ah sudahlah, kita tak usah membicarakan dia lagi. Pokoknya hati-hati saja sama dia. Ugh! Kepalaku agak pening, barangkali jatah waktuku hampir habis."

"Tapi.....tapi bukankah Den Rara belum memberi kuliah pada kami?"

"Lalu yang tadi itu....namanya apa?"

"Menurut yang kami tahu, namanya.....kasak-kusuk, gossip atau bisa juga disebut fitnah."

"Bah! Racun itu lagi."

Tubuh Pokal limbung lagi. Kini dengan gesit pula enam tangan itu telah memapah dan meletakkannya dengan baik di atas dipan yang suka bersuara riuh itu. Pokal kembali lelap dalam buaian tidurnya. Seperti tak pernah terjadi apa-apa, dan wajahnya tetap tenang dan damai. (Bersambung ke Bagian 4)

Monday, May 11, 2009

Chatting by Thomdean

The Gondez Ambelgedez (2)

Oleh Darminto M Sudarmo

Terengah-engah ketiganya menghadap sang Prof. sebelum secuil kata meluncur dari mulut mereka, Prof. Durgandana telah tahu apa yang harus dikatakannya.

“Inilah kebrengsekan berikutnya kenapa untuk bilang tidak punya, tidak berani?! Kenapa harus membuang-buang waktu untuk kepura-puraan itu. Sungguh tidak logis. Otak kalian memang ditaruh di dengkul. Tak pernah diajar ya bagaimana menyanggah sinyalemen?"

Dul Goen, Jimat, dan Jupri seperti ditelanjangi mukanya. Tapi tanpa komentar Prof. galak itu pun muka mereka sebenarnya sudah biasa dengan ketelanjangan.

"He, kenapa pada kemplu begitu? Jawab dong!"

"Ta....tapi apa yang harus kami jawab Prof?” tanya Jimat terbata-bata. Wajahnya tiba-tiba sendu. Jupri sudah dua detik yang lalu sesenggukan menahan tangis. Tak kepalang Dul Goen. Meski pun cuma kethap-kethip seperti monyet kehilangan handai tolan, pipinya telah basah oleh air mata.

Bentakan-bentakan profesor galak itu membuat mereka jadi nelangsa. Jimat ingat emaknya di kampung ketika dia digendong sambil dikudang-kudang saat masa kecil yang amat indah. Jupri terkulai dalam rasa pilu yang luruh, teringat simboknya yang telah pergi ke alam baka ketika usianya masih kanak-kanak. Dul Goen sebenarnya tak ingat siapa-siapa, tetapi melihat orang menangis, dia selalu tak bisa tahan, maka tangisnya kali ini sudah sekali dikategorikan termasuk jenis apa.

Melihat tingkah ketiga mahasiswa yang kelak bakal dikaderkan sebagai tokoh pelopor non-gelar, tetapi kolokan sekali, Prof. Durgandana tak bisa menahan amarahnya lagi. Kemarahan puncak. Kemarahan yang bisa menghancurkan gunung dan membelah langit . Lalu dengan gaya seorang guru besar yang amat abstrak, dia meloncat bangkit. Berdiri tegak di hadapan ketiga mahasiswa pilihannya dengan tangan gemetar menahan ledakan dinamit di dadanya.

"Bojleng, bojleng! Murid-murid tak punya guna nyaris saja kupanggilkan arwah Hitler buat menyembelih kalian semua!" Matanya menyala merah. Menatap ketiga mahasiswa yang duduk terbungkuk-bungkuk. Nyaris saja dia hendak menelan mereka bulat-bulat. Lalu ujarnya pula.

"Apa yang harus saya lakukan buat menghukum kalian? Menyerahkan ke Westerling atau kupenggal sendiri leher kalian dengan pedang samurai Musashi?"

Ketiganya masih melipat tengkuk. Prof. Durgandana kian naik darah. Maka segera bermunculanlah “lagu wajib”-nya dalam bentuk sumpah serapah menggunakan berbagai bahasa asing. Salah satu bahasa asing yang paling sering dia ucapkan waktu kesal adalah: sontoloyo!
Setelah kenyang mencaci cemooh, perasaannya jadi ngilu. Lalu sendu. Kemudian ingat anak cucu. Perasaannya yang paling dalam pun kini jadi tersentuh. Orang-orang yang dimarahi diam saja selalu mengundang belas kasihan. Menerbitkan rasa empati. Tetapi Prof itu tetap ingat, tugasnya kali ini adalah menggembleng mental ketiga kader itu supaya jadi tangguh. Supaya tidak cengeng dan gampang ngambek. Maka keterharuannya cuma singkat saja. Lalu kembali wajah garangnya menggelantung dengan liat.

"Sudah kukatakan kalau berani jadi mahasiswa jangan menyusu orang tua terus. Tak tahu malu! Pakai atribut, jaket, emblim, naik motor atau mobil berstiker universitas sambil mendongakkan kepala. Menganggap remeh atau melecehkan kanan kiri, terutama kepada orang-orang sederhana yang bekerja setulus hati, meski bentuknya butut dan kampungan, tetapi mereka telah berbuat bagi kehidupan dengan jitu dan otak waras. Sikap kalian itu sikap badut! Ngerti, nggak? Sebab yang kalian pakai, yang kalian naiki, yang kalian rasa miliki, semuanya kostum sementara untuk pentas di panggung. Itu pinjaman, itu sewa, dan, bukan kalian yang membayarnya; lalu apa yang bisa kalian banggakan sebenarnya? Diktat dan buku-buku tebal? Istilah-istilah sulit dan cara berpikir pelik? Atau gelar-gelar yang bakal berserakan di depan atau di belakang nama?"

"Ampun Profesor! Ampun.... berilah kami petunjuk." ketiganya kemudian berebut memegang kaki Pokal.

"Jadi kalian menganggap perlu apa yang kuberikan?"

"Benar Porf."

"Baik, sekarang jawab pertanyaanku dengan pola berpikir gila. Sekali lagi logika gila."

Dul Goen, Jimat dan Jupri segera mengambil tempat yang agak layak. Ketiganya duduk dengan takzim. Tangannya masing-masing telah siap mencatat apa saja yang bakal diucapkan oleh sang Profesor. Untuk sesaat itu rumah di Jalan Tonggak 15, benar-benar sepi dan menegangkan. Profesor Durgandana belum juga membuka mulut, matanya terpejam penuh wibawa.
Seperti orang tengah melakukan meditasi. Gerak di dadanya menunjukkan sikap pernapasan yang rapi. Beberapa saat kemudian kelopak matanyya mulai membuka. Bibirnya menyungging senyum arif. Tak tampak sikap garang dan congkaknya. Bahkan kesan sebagai seorang guru besar sebuah perguruan tinggi, lenyap sudah. Kini muncul sebagai bentuk yang amat tak bisa dipahami oleh ketiga mahasiswa hijau itu.

“Ada kisah yang pernah hidup ribuan tahun lalu. Atau paling tidak ratusan tahun yang lalu. Kisah ini akan menguji ketangkasan kalian dalam mengasah pikiran. Siapa di antara kalian yang bisa mengupas dengan pola berpikir gila, dan menghasilkan argumen paling gila, itulah tandanya, kalian bisa membebaskan diri dari kerudung dan norma-norma lapuk tadi: Pada suatu hari ada seseorang menangkap seekor burung. Burung itu berkata kepadanya.
‘Aku tak berguna bagimu sebagai tawanan. Lepaskan saja nanti kau kuberi tiga nasehat.’
Si burung berjanji akan memberikan nasehat pertama ketika masih berada dalam genggaman orang itu, yang kedua akan diberikannya kalau dia sudah ada di cabang pohon, dan yang ketiga sesudah ia mencapai puncak bukit.
Orang itu setuju, dan meminta nasehat pertama.
Kata burung itu, ‘Kalau kau kehilangan sesuatu, meskipun kau menghargainya seperti hidupnya sendiri, jangan menyesal.’
Orang itu pun melepaskannya, dan burung itu segera melompat ke dahan.
‘Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal, apabila tak ada bukti.’
Kemudian burung itu terbang ke puncak gunung. Dari sana dia berkata.
‘O manusia malang! Di dalam diriku terdapat dua permata besar, kalau saja kau tadi membunuhku, kau akan memperolehnya!’
Orang itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya, namun katanya, ‘Setidaknya katakan padaku nasehat yang ketiga itu!’
Si Burung menjawab, ‘Alangkah tololnya kau, meminta nasehat ketiga sedangkan yang kedua pun belum kurenungkan sama sekali! Sudah kukatakan kepadamu agar jangan kecewa kalau kehilangan, dan jangan mempercayai hal yang bertentangan dengan akal. Kini kau malah melakukan keduanya. Kau percaya pada hal yang tak masuk akal dan menyesali kehilanganmu. Aku toh tidak cukup besar untuk bisa menyimpan dua permata besar! Kau tolol. Oleh karenanya kau harus tetap berada dalam keterbatasan yang disediakan bagi manusia’.
Begitulah kisahnya, siapa diantara kalian punya nyali untuk terlihat paling dulu tololnya, eh, bertanya?"

"Saya, Prof." Jupri mengangkat jari.

"Sampaikanlah".

"Kisah itu memusingkan, tapi ada juga sisi yang cerah. Burung itu cerdik, dia gunakan segala tipu daya untuk menyelamatkan diri. Dan manusia itu memang gambaran makhluk yang lagi tolol, dengan mudahnya dia menuruti saja dibodohi oleh binatang sepele yang tentunya tak pantas didengar ocehan palsunya itu."

"Kasihan sekali analisamu Buyung, kau belum bisa melihat apa yang disebut masalah itu. Nah, siapa mau coba lagi?"

"Saya Prof. Menurut pendapat saya, kedua-duanya sama-sama tolol. Si Burung yang bisa terbang kenapa mau ditangkap manusia. Si Manusia yang sudah memperoleh apa yang dicarinya, kenapa mudah saja melepaskannya,." ujar Jimat dengan gaya bahasa yang taktis.
Sang Profesor, yang tentu saja berfigur Pokal, tersenyum kegelian. Tak berkomentar apa-apa.

"Kalau pendapat saya lain lagi Prof. Ketika Anda membawakan kisah tadi, maka segera timbul anggapan dalam benak saya. Bahwa Anda itu jadi si manusia dan sayalah yang jadi burungnya." ujar Dul Goen dengan santainya.

Sang Profesor mengangguk-anggukan kepalanya. Apa maknanya itu, tidak ada yang tahu.
"Sampai ketemu pada kuliah mendatang.” ujarnya kalem, lalu tubuh Pokal limbung. Dengan gesit, mereka bertiga menangkapnya. Tubuh Pokal diletakkan di atas dipan lagi, dan tak lama kemudian terdengar dengkur khasnya yang luar biasa. Wajahnya masih tetap tampak sehat kemerahan. Tak ada tanda-tanda baru saja terjadi peristiwa unik dan merepotkan. Jantungnya berdentang sebagaimana biasanya. Perutnya juga tetap membuncit sebagaimana kebiasaan orang-orang yang doyan makan dan tidur. (Bersambung ke Bagian 3)

Tuesday, April 28, 2009

Wayang Kartun karya Bagong Soebardjo

The Gondez Ambelgedez

The First
Kesurupan


Oleh Darminto M Sudarmo


Pembekalan dari pengarang:
Seting cerita diambil secara absurd antah berantah, jadi dijamin tidak ada pihak yang perlu senang atau tersinggung karena nama, tempat, suasana, maupun pikiran-pikirannya masuk dalam cerita ini. Semua cerita asli bikinan khayalan sang pengarang. Menurut pengarang cerita ini yang konon sudah cukup lama menggerogoti honorarium berbagai penerbitan bergengsi atau setengah gengsi di negeri ini, segmen pembacanya adalah mereka-- tak peduli berlatar belakang akademis atau empiris—yang penting memiliki IQ khsusus!
Jadi menurut pengarang novel ini, bila ada dari Anda yang kurang mampu menjangkau isi yang terpapar, terangkum, terjulur, dan tercincang silang tunjang ini, berarti permasalahan terletak bukan pada jelek atau bagusnya cerita, tetapi pada khusus dan tidak khsususnya IQ Anda. Gitcuuu!



(Bagian Pertama)

Februari 1988.

Rumah kontrakan mahasiswa jantan yang terletak di Jalan Tonggak 15, tiba-tiba geger. Bukan karena ada kebakaran kompor atau listrik. Bukan pula karena barusan terjadi penggarongan dan penganiayaan. Apalagi pembunuhan dan berbagai tindakan kriminalitas lain. Bukan semua!
Yang ada, kegegeran itu berawal dari peristiwa aneh yang menimpa Pokal. Salah seorang mahasiswa yang memiliki kebiasaan paling khas. Yakni, tidur atau tidur-tiduran sambil merenda langit, menbayangkan bulan dan matahari jalan berduaan.

Menurut saksi mata, yaitu teman-teman se-rumah Pokal; yaitu Dul Goen, Jimat dan Jupri, peristiwa itu datangnya demikian mendadak. Tak terduga sama sekali. Tubuh Pokal tiba-tiba mengejang bagai kayu. Keras, dan lurus-lurus. Disusul bola matanya mendelik, kemudian membalik-balik. Keringta dingin meluncur membasahi seluruh tubuh dan wajahnya. Tubuh itu terus bergulingan di atas dipan tanpa kasur yang bunyinya ramai sekali.

Dul Goen, Jimat dan Jupri masih bingung dan panik ketika tiba-tiba tanpa diduga pula, mulut Pokal masih sempat mengucapkan kata.

"Saya kesurupan! Saya kesurupan! You know?"

Pokal memang baru saja membalik-balik buku conversation. Kemudian berguling dan berkelojotan di atas dipan riuhnya.

"Kita harus berbuat sesuatu!" ujar Jimat dengan sikap amat panik. Mahasiswa yang satu ini berbadan kurus, tapi kumisnya lebatnya minta ampun.

"Benar! Kita harus berbuat sesuatu." sambung Jupri sambil mengacungkan tangan. Jupri adalah penghuni bertubuh paling mungil, tetapi cerdiknya lumayan juga.

Mendengar ada yang mendukung idenya, buru-buru Jimat mengangkat pantat lalu menyalak lagi.

Ya! Kita tak boleh cuma berpangku tangan. Kita harus berbuat sesuatu!"

"Kita harus berbuat sesuatu!" Jupri tetap membeo.

Sementara itu, Dul Goen, berusia paling tua di kelompoknya, bertubuh paling subur, berwajah paling khas, tampak tenang-tenang saja. Dengan santai dia membalik-balik buku ensiklopedi Indonesia-sia. Mencari huruf K. Lalu dengan santai pula jari-jari tangannya yang tak gampang gemetar itu mencari-cari kata kesurupan. Tak lupa lidahnya agak terjulur untuk mencari sedikit cairan lewat sentuhan ujung jari penunjuk.

Tertulis: Kata kesurupan dirumuskan pendek saja, yakni sebuah keadaan di mana seseorang menjadi sangat tergoncang karena jiwanya tengah didesak oleh kekuatan lain. Mungkin ruh, mungkin jin, mungkin setan, dedemit atau genderuwo. Sebabnya, karena terlalu banyak bengong atau menghayal yang mokal-mokal. Cara mencegahnya, hindari semua sebab tadi. Sedang cara pengobatannya, cukup dibiarkan untuk beberapa saat. Setelah keadaan agak mereda, sang korban diajak dialog secara santai. Terutama dialog sama ruh yang indekost tanpa bayar itu; agar tahu diri segera angkat kaki. Kalau masih juga bandel, boleh pakai pelicin atau iming-iming yang lain; misalnya komisi atau sekedar upeti.

Setelah melempar ensiklopedi bercetak mewah itu, Dul Goen menyalakan sebatang rokok. Menghisapnya dalam-dalam. Menghampiri tempat tidur Pokal yang berserak-berantakan. Duduk di tepi dipan sambil menikmati rokok. Sementara itu Jimat dan Jupri kalang kabut tak karuan. Berlari ke ruang depan mencari-cari sesuatu agar bisa sesegera mungkin menghubungi dokter. Tapi usaha itu sesungguhnya usaha yang tak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah, karena rumah kontrakan itu memang tak pasang pesawat telepon.

Tak berhasil mendapatkan pesawat telepon, buru-buru membuka laci alamari, meja dan sebagainya sambil berharap-harap semoga mendapatkan pesawat Handy Talky. Usaha yang ini pun tak kalah latahnya. Menyadari tentang kemustahilan itu, mereka lalu bergerak lagi dengan sigap meraih kunci kontak. Tentu saja tak ada mobil atau sepeda motor yang cocok, karena benda itu jodohnya sama almari pakaian. Masih juga belum jera mereka lalu menghambur ke luar rumah, hendak menghentikan taxi. Untunglah mereka masih ingat untuk merogoh saku dan membuka dompet masing-masing. Begitu tahu isinya, keduanya lalu saling pandang dengan mimik muka yang amat aneh. Tak sepeserpun uang ada di tempat itu. Seperti sudah dikomandokan, keduanya balik lagi ke rumah. Sasarannya juga sama, membalik-balik buku. Semua halaman buku. Buku kuliah, buku cetak, buku perpustakaan, sambil berharap-harap lagi, semoga ada selembar dua lembar ribuan ketlingsut di dalamnya. Sungguh tak bisa dimaafkan cara berfikir yang seperti itu. Apalagi berpredikat sebagai mahasiswa. Tetapi keduanya memaklumi keadaan. Bagai sang bijak yang murah hati, secara spontan keduanya mengucapkan kalimat yang nyaris berbareng.

"Sudahlah, tak apa-apa....tenang sajalah."

Lalu keduanya sama-sama tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala. Maka bebaslah segala beban.

Tiba-tiba kedua orang itu, Jimat dan Jupri, dikejutkan oleh hadirnya suara aneh. Suara yang tak baisa mereka dengar. Suara berat tapi penuh wibawa. Bukan hanya Jimat dan Jupri, tetapi juga juga Dul Goen yang saat itu tengah rada 'slebor' menikmati lezatnya asap rokok yang konon punya daya bunuh cukup ampuh.

"Tidak logis! Tidak logis!" ujar suara itu. Jimat dan Jupri buru-buru pasang telinga. Dul Goen hampir pingsan. Suara itu muncul dari mulut Pokal. Tapi dua ratus persen itu bukan suara Pokal. Jimat dan Jupri masih linglung di tempatnya, terpisah dari tempat tidur Pokal.

"Itu pasti suara tetangga." ujar Jimat.

"Boleh jadi." sambung Jupri sesaat sepi. Tiba-tiba suara itu menggemuruh lagi.

"Heiiiii! kalian semua kemari!"

“Eh, sepertinya dari kamar Pokal," ujar Jimat. Keduanya langsung menghambur masuk. Dul Goen panas dingin, seperti orang yang pertama kali melihat hantu. Pokal kini tidak terlentang lagi. Tidak kelojotan lagi. Tidak mendelik-delik lagi. Tidak memperlihatkan biji matanya yang putih dan mengerikan lagi. Tapi justru tampak jauh lebih menakutkan dari semula. Duduk dengan sikap amat takzim. Wajahnya rada memerah. Sinar matanya aneh, tetapi mengandung kekuatan yang luar biasa.

"Hai kalian kenal aku tidak?"

"Ke...kenal, tentu saja," jawab mereka bertiga.

"Bagus. Siapa?"

"Kau temanku, eh, teman saya tersayang."

"Iya siapa?"

"Pokal tentu saja."

"Goblog! Aku bukan Pokal. Aku Profesor Durgandana. Guru besar ilmu sosial politik Universitas Gondolumayit. Ngerti?!!!"

"Ya ya ngerti Prof...."

"Aku juga dosen kehormatan bidang Hubungan Internasional di India-Indianan State University, Amerika Serikat, paham?"

"Paham Prof."

"Tahu kedatanganku masuk ke tubuh Pokal!?"

"Be....belum Prof."

"Untuk memberi kuliah kalian bertiga. Tapi syaratnya bila aku lagi pergi dari tubuh Pokal, kalian harus memberikan materi kuliah ini kepada Pokal."

"Baik Prof. kami akan laksanakan amanat itu."

"Nah, sebelum menyiapkan buku-buku dan alat-alat tulis, perlu juga kuberitahukan pada kalian kenapa cara yang aneh ini harus kutempuh. Pertama kalian semua punya otak rada encer, tapi kantong kalian selalu kosong. Kedua, menjelang kalian selesai semester akhir, akan terjadi musibah, yakni, kalian harus kena D O! Harus angkat kaki dari perguruan tinggi, karena selalu nunggak SPP. Maka biar jangan putus harapan, aku datang untuk kalian. Ketiga, kalianlah yang bakal mempelopori prinsip 'Deschooling Society' alias bebas dari sekolah di Indonesia ini. Nanti di tahun 2000-an istilahnya menjadi “Home Schooling”. Prinsip yang diteriak-teriakkan oleh Van Illich sejak lima belas tahun yang lalu itu, mulai terasa khasiatnya setelah adanya revolusi penggusuran gelar yang bakal kalian lakukan di kemudian hari. Orang bakal setahap demi setahap menengok pada kualitas ketimbang target. Jangan sedih menerima berita ini."
Jimat, Dul Goen dan Jupri saling pandang. Berita itu meskipun keluar dari mulut orang teler macam Pokal, tetapi di dalamnya mengandung hawa kemurniaan pendapat seorang Profesor Durgandana yang kemungkinan besar melihat dari kaca mata supra-rasional. Kalau itu benar, alangkah menyedihkan sudah menjual habis sapi dan kerbau serta sawah berhektar-hektar buat kuliah, akhirnya bakal dikeluarkan dan tak dapat gelar. Apa yang bisa dibanggakan saat pulang kampung dengan bendera tergulung?

Tak sadar ketiganya lalu meneteskan air mata. Di luar dugaan Prof. Durgandana marah besar melihat kenyataan itu.

"Kalian semua goblog dan cengeng! Pikiran picik itu musti dihilangkan. Berpikir tegar tentang masa depan hanya akan dipunyai bila kalian telah bisa membebaskan diri dari struktur lapuk itu. Ingatlah kata-kata saya, pada suatu era nanti, orang-orang spesialis, orang-orang akademis yang terkotak dalam bidang yang serba eksklusif bakal dipimpin oleh orang-orang yang telah bisa membebaskan diri dari struktur lapuk tadi. Meloncat dari pikiran-pikiran yang memburu kemasan fisik. Catat ini baik-baik, ngerti?!"

"Ngerti Prof...."

"Nah, sekarang kuliah akan dimulai. Sana ambil catatan. Ingat jangan sekali-kali main rekam pakai benda teknologi, itu tindakan bodoh dan malas. Kalian harus aktif, menggurat bunyi dalam tulisan sudah separo belajar."

Agak kalung kabut ketiganya berlari menuju ke rak buku masing-masing. Kemudian kembali dengan perasaan seperti tersihir.

"Ada lima paket pelajaran yang bakal saya sampaikan untuk jangka waktu tak kurang dari satu bulan penuh. Tiap pertemuan tak kurang dari dua jam. Dan kalian harus kerja keras untuk ini semua. Saya tak bakal mengulangi hal yang sama. Ngerti?"

"Ngerti Prof."

"Pertama, paket pelajaran saya beri judul, Teknik Berpikir Gila."

"Apa Prof?" Hampir berbareng mereka terlonjak seperti tak percaya pada pendengarannya.

''Tak bakal diulangi apa yang sudah diucapkan." ujar Profesor dengan nada dingin, "dengan topengnya yang cantik orang cenderung ogah disebut gila. Karena itu meskipun mereka menderita gejala-gejala yang hampir menjurus ke situ, mereka tetap berusaha untuk melupakan dirinya. Lalu larut dalam kehendak massa, bahwa liar disangka waras. Kemudian terjadi opini salah bahwa yang dilakukan oleh umum selalu benar, dan yang dilakukan oleh bukan umum, pasti menyimpang alias tak waras. Pahaaaaam?!!" Tiba-tiba mata Pokal seperti melotot ke salah satu arah.

"Hai yang boleh dengar kuliahku cuma kalian bertiga. Tak boleh pihak lain coba-coba mencuri dengar."

Dengan gugup Jimat buru-buru menjelaskan.

"Di sini aman Prof. dinding kami tak bertelinga. Lantai tidak, jendela tidak, pintu tidak, atap juga tidak. Semua bebas dari gangguan. Jangan kuatir di sini persis di kampus Gondolumayit Anda."

"Tapi aku belum percaya. Aku mendengar suara mencurigkan dari balik almari kalian. Benda apa yang ada di situ. Cepat diungkap sampai tuntas, waktuku tinggal sedikit."

Ketiganya bergegas menggeser alamari. Tak menjumpai apa-apa selain coro-coro dan cicak.

"Hanya coro dan cicak Prof. aman kok."

"Bego! Benda itulah yang kumaksud sangat mencurigakan. Harus segerra dihalau, kalau tidak kalian akan jadi lebih bodoh dari mereka. Mereka memiliki energi penangkap jauh lebih hebat dari pada kalian. Sebab mereka juga bisa menangkap bahasaku.

Urusan coro dan cicak rampung sudah. Baru saja hendak mulai Prof. Durgandana, rewel lagi.

"Aku dari tadi kehausan dan kelaparan, tetapi kalian benar-benar tak bisa membaca gejala dan lingkungan. Itu warisan pola-pola pelajaran yang kalian pelajari hingga kini. Makin jauh dari tanda-tanda, gejala, dan modal kepekaan. Jadinya yah begitu itu. Lamban, miskin inisiatif, serba takut menyimpang sedikit dari rumus-rumus, pola-pola, dan terutama norma dan sekian tetek-bengek etika bohong-bohongan. Nah kenapa tak cepat-cepat ambil minuman dan makanan."

Tetap dengan sikap kalang kabut, Dul Goen, Jimat dan Jupri menghambur ke dapur. Tetapi sesungguhnya itu cuma tindakan iktikad. Di dapur tak ada seujung sayur pun. Tak sesendok nasi atau bubur. Semua kosong. Prof. Gondo lebih tahu tentang itu. Tetapi sedikitnya dia menghargai usaha itu, sebab rumah kontrakan itu lebih kelihatan kumuh ketimbang bersihnya. Gombal dan pakaian kotor bergelantungan kayak monyet-monyet. Bekas bungkus kue dan makanan berserakan di pojok-pojok ruangan. Dan bila tak seorang pun lihat, sampah itu justru didorong-dorong agar masuk lebih dalam lagi ke sela-sela kolong yang tak terlihat oleh mata.

(Bersambung.....)

Tuesday, April 7, 2009

Clown Attractions by Dede Eri Supria

Pelawak Indonesia Popular

Pelawak Indonesia Popular