Ayo main
Sabar semua kebagian karcis.
Hidangan Pembuka
Asyiiiiiikkkkkkkkk
Nah gitu dong
Terimakasih terimakasih terimakasih
Gedung kesenian ya begini
Setiap aktris aktor atau bintang yang pernah tampil bangga
Apalagi
Mendapat tepuk tangan panjang dan penghargaan yang tak terlupakan
Thursday, July 8, 2010
Tuesday, June 22, 2010
Mak dan Ariel oleh P Chusnato Sukiman
Biarkan telinga mendengarkan apa saja…
*
Kali ini saya dan mak (80 tahun) benar-benar beda selera. Dia meminta saya menyetelkan lagu “Bintang di Surga”. Saat itu perasaan tidak percaya dan geli bercampur aduk.
“Jangan terlalu kencang, biar bisa sambil nembang,” katanya. Lalu saya dipinta memapahnya dari kursi roda untuk duduk ke depan satu set gamelan milik bapak yang mulai berkerak.
“Idih, lagu ini Muse banget tau maaak…..” canda saya dengan suara berderak seperti tak rela ada lagu yang kurang masuk selera mampir ke telinga saya.
*
Kali ini saya dan mak (80 tahun) benar-benar beda selera. Dia meminta saya menyetelkan lagu “Bintang di Surga”. Saat itu perasaan tidak percaya dan geli bercampur aduk.
“Jangan terlalu kencang, biar bisa sambil nembang,” katanya. Lalu saya dipinta memapahnya dari kursi roda untuk duduk ke depan satu set gamelan milik bapak yang mulai berkerak.
“Idih, lagu ini Muse banget tau maaak…..” canda saya dengan suara berderak seperti tak rela ada lagu yang kurang masuk selera mampir ke telinga saya.
Monday, March 22, 2010
Topeng Monyet
5:34 AM
21 Maret 2010, Cerpen oleh Tandi Skober, Harian Pikiran Rakyat, ilustrasi Ndaru, Pandoyo
No comments
Cerpen Tandi SkoberSUDILAH kiranya pembaca maklumi bahwa saya ini memiliki profesi sebagai dalang topeng monyet. Berkat profesi ini, hidupku penuh berkah. Saya jadi terkenal, disebut The Real King, dan luar biasa. "Tandi, hebat!" Kenapa saya disebut sebagai sosok yang hebat? Pertama, diriku ini selalu memainkan topeng monyet di sepanjang tahun, bertahun-tahun, terus-menerus, tak putus-putusnya. Kedua, lokasi plus sektor atraksi topeng monyetku bertebaran di semua ruang, di segala waktu, menclok dari abad-abad yang berlari liar. Sekali tempo, misalnya, di ruang-ruang peradilan, tetapi pada detik lain di ruang gedung parlemen, di kantor-kantor, mal, siskamling, lapangan terbang, terminal kereta api, hutan hantu, ladang cengkih, pabrik tebu, pabrik tepung terigu, rumah sakit, monumen-monumen dan lain-lain. Dan kapan saja di mana saja, saya ini selalu berteriak, "Hole, hole, hole...aku ini dalang topeng monyet." Dapat ditambahkan bahwa monyetku ini ternyata mirip saya. Aneh? Nggak juga, tuh. Lagi pula saya tidak malu melihat kunyukku serupa dan sama dengan diriku. Biarin, wong lagi in yang namanya manusia mirip binatang. Bangsat dan Bank Ciantury kan lagi top! Meski begitu, ada juga bedanya antara saya dan monyetku ini.
Thursday, January 7, 2010
Tuesday, November 17, 2009
TIRAH oleh Imam Tantowi
Sudah lebih tiga bulan, kami seolah terbuang dari kehidupan masyarakat berbudaya. Seperti terdampar di pulau terpencil, tanpa surat kabar, tanpa listrik, tanpa televisi. Bahkan nyaris tidak pernah bersentuhan dengan dunia luar, sejak satu-satunya genset yang menyuplai listrik untuk keperluan mengelas dan membor besi-besi siku untuk membangun menara BTS (Base Transceiver Station) jebol. Sebenarnya sebagian besar sudah difabrikasi di Jakarta, tapi tetap kami membutuhkan genset untuk menanggulangi kalau ada yang kurang persisi. Saya beserta lima pekerja lain seperti terpenjara di pegunungan terpencil, nyaris tidak ada kendaraan yang melintasi desa. Menara BTS yang dibangun di punggung bukit itu untuk menjangkau telekomunikasi seluler tiga kota di sekitarnya. Kami tinggal di rumah milik Perhutani yang sudah lama ditinggal. Seluruh pegawai Perusahaan BUMN itu meninggalkan desa itu setelah reformasi, karena semua kayu jati dijarah oleh penduduk dan tanahnya diserobot untuk lahan pertanian. Pada saat itu melawan rakyat bisa celaka. Karena hutan jati sudah punah, maka tidak ada lagi pegawai yang datang.
Friday, October 23, 2009
Aji Tembus Raga
Oleh Imam Tantowi Tempat perbelanjaan kelas atas ini benar-benar menampilkan suasana dan aroma yang eksklusif dan mewah. Tentu bukan tampilan galery maupun counter yang gegap gempita, nyaris sebaliknya; sophisticated, bahkan sering membuat orang yang baru belajar jadi orang kaya pun bisa terkena rasa rendah diri, manakala disapa pelayan counter barang-barang bermerek. Pengunjung plaza ini meski berpakaian santai tapi memiliki rasa percaya diri yang luar biasa, karena di dompetnya tersimpan Credit Card Platinum unlimited. Mereka biasa ke café yang sekali makan cake dan sekedar kopi saja, bisa untuk hidup untuk empat hari bagi sebuah keluarga miskin. Ke Plaza seperti itu Kartono masuk. Dengan lagak sok santai dia ikuti anak-anak muda sebaya dia yang juga sedang window shopping sambil bercanda. Ketika melewati sebuah Café waralaba dari Amerika. Friday, October 9, 2009
Santai Sejenak oleh Imam Tantowi
Penakluk Noni Belanda. Itu julukan yang selalu dia andalkan kalau sedang bercerita dihadapan anak-anak muda yang sedang nunggu sholat Ashar. Aku masih anak kecil, tapi dibolehkan mendengar ceritanya, karena aku cucu buyut kesayangannya. Dia pernah di bui karena orang tua Juliana Shoemaker, staf BPM (Bataavsche Petroleum Matchapij) di kotaku tidak terima anak gadisnya dibawa lari Kasan Madrowi. Buyut Kasan wataknya keras. Dia menikahi buyut perempuanku hanya untuk menyenangkan hati emaknya yang tidak malu melihat dia terus melajang sesudah dibebaskan dari penjara. Aku masih kecil ketika hampir setiap sore buyut Kasan bercerita bagaimana Juliana Schoemaker jatuh cinta setengah mati, Juliana hanya mau diantar oleh Kasan salah seorang dari sekian banyak kacung di rumahnya, kalau pergi ke sekolah, maupun ke klub. Bahkan teman-teman lelaki Juliana selalu cemburu pada Kasan. Sebenarnya Kasan Madrowi tidak tampan, kulitnya legam, matanya agak kemerahan, dan senyumnya selalu terkesan menyeringai...Pelawak Indonesia Popular












